Medan (SIB)- Kecenderungan mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri kaum muda khususnya pelajar dan mahasiswa merupakan suatu fakta yang mengindikasikan kekuatan dan peranan agama, maupun identitas budaya di dalam hidup manusia semakin terkikis.
Demikian dituturkan Direktur Pascasarjana STT HKBP Pematangsiantar Pdt Dr Martongo Sitinjak menyikapi kasus bunuh diri mahasiswa USU Alpiana Ambarita baru-baru ini.
"Selain kurangnya komunikasi dengan keluarga serta banyaknya tekanan-tekanan psikologis yang mungkin datang dari sekolah maupun kampus, anak muda yang hidup di zaman modern kini terjebak arus informasi dan kemajuan teknologi, sehingga situasi tersebut mengambil alih peranan orangtua dan masyarakat, maupun agama yang seharusnya menjadi bagian dari hidupnya bersosialisasi dan memiliki keyakinan akan adanya Tuhan,†kata Sitinjak kepada SIB, Selasa (19/5).
Obsesi yang tidak seimbang dengan kemampuan untuk berjuang manakala ada tekanan psikologis, ditambah penghayatan agama yang kurang itulah yang membuat orang memilih bunuh diri sebagai jalan penyelesaian.
“Tentunya ini menjadi peringatan bahwa mengejar pengetahuan, ambisi maupun kekayaan materi harus dibarengi pendalaman agama dan hubungan keluarga yang sangat dekat," terang lulusan Trinity Theological College Singapore ini.
Selain itu, ia juga menjelaskan fungsi gereja yang kini semakin kurang peranannya dalam pemenuhan kebutuhan rohani maupun sosial bagi kaum muda. "Selama ini gereja cenderung lebih terfokus kepada jemaat kaum bapak, kaum ibu, maupun anak-anak,†timpalnya.
Untuk mengimbangi ketimpangan tersebut, saat ini gereja harus berperan lebih terhadap pemenuhan kebutuhan rohani dan konseling yang dapat menampung dan keluhan psikologis, membangun mental, moral maupun spiritual kaum muda itu sendiri. Dengan demikian bunuh diri bukan lagi menjadi jalan penyelesaian terakhir," kata Sitinjak mengakhiri. (Dik-FS/q)