Medan (SIB)- Pada Hut ke-70 RI, masih banyak purnawirawan ABRI yang kini tidak bisa menikmati kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan selama ini untuk membela negaranya. Ketika ditemui SIB, Jumat (14/8), dia mengisahkan, satu dari ribuan purnawirawan ABRI yang mengalami hal itu adalah Kliwon (86) yang masih tinggal di komplek Veteran Jalan Pasar IV Desa Medan Estate, Percut Seituan.Pada 1945 Kliwon bersama rekan-rekannya pejuang yakni, Bejo, Manap Lubis dan lainnya selama ini berjuang di hampir seluruh wilayah di daerah Sumatera Utara, hingga akhirnya Indonesia merdeka. Namun hingga 70 tahun Indonesia merdeka, kehidupan kakek yang didampingi istrinya dengan setia, Nuraiyah Br Sinambela (74), bukannya membaik, melainkan serba kekurangan walaupun pangkat terakhirnya Peltu.Pria tua renta yang memiliki 3 anak, 6 cucu dan 1 cicit itu tak punya rumah sendiri. Namun pada tahun 1982, ia diizinkan tinggal di asrama Veteran, yang tanahnya cukup luas dan dihuni 947 kepala keluarga (KK) yang terdiri dari Purnawirawan ABRI dan Veteran. Pada 1987, Mendagri mengeluarkan surat keputusan (SK) untuk lahan pemerintah itu. Namun kenyamanan purnawirawan ABRI dan Veteran terusik pada tahun 1990 karena ada satu perusahaan mengklaim sebagai pemilik tanah seluas 11,4 Ha yang mereka tempati itu. Para mantan pejuang itu tetap memperjuangkan tanah yang mereka tempati, dan akhirnya perusahaan tersebut kalah di tingkat Mahkamah Agung (MA). Namun PT Emeria itu justru menjual lahan komplek veteran ke perusahaan pengembang PT Armen. Tetapi tak berapa lama peruahaan A menjual lagi tanah itu ke PT Orta Berjaya pada 2010 yang kemudian memperkarakan Veteran. Kehidupan pensiunan itu menjadi sengsara akibat ulah-ulah oknum yang tak bertanggung jawab.Kliwon yang juga Ketua Serikat Tolong-menolong Mempertahankan Hak Veteran/Purnawirawan ABRI (STM MHVP) sangat mengharapkan perhatian pemerintah terhadap nasib mereka. Diakuinya, penderitaan para purnawirawan ABRI dan Veteran tiada habis-habisnya, dan mereka butuh kejelasan dari pemerintah pusat, daerah dan setempat."Sejak berjuang, saya mendapatkan 6 bintang penghargaan yang diberikan langsung oleh pemerintah. Namun penghargaan itu tak sebanding dengan kehidupan kami. Uang pensiunan yang saya dapatkan tiap bulan hanya Rp 2 juta, dan itu tak cukup untuk membiayai keluarga saya. Jika saya mengingat kembali di jaman PKI, saya bertugas di luar daerah. Di situ saya mengendap ke rumah warga untuk melakukan pencurian sepeda angin. Sepeda itu nantinya saya gunakan untuk berdagang ayam, sembari mencari informasi. Dengan perjuangan saya mempertaruhkan nyawa, tak sebanding dengan kehidupan kami yang sudah pensiun. Pesan saya kepada para pejabat, tak ada kami kalian semua belum tentu seperti ini bisa menjadi pejabat," ucap Kliwon untuk dituliskan wartawan.Di topik yang lain, wartawan menyinggung terkait maraknya aksi perampokan di saat ini, Kliwon meminta supaya TNI harus turun tangan untuk mengantisipasi aksi kejahatan yang kian marak."Seperti di Jakarta, Gubernur Ahok mengajak polisi dan TNI memberantas premanisme serta mengantisipasi aksi kejahatan jalanan. Di Sumut, Bhabinsa harus turut andil membantu kinerja polisi. Bila perlu, aktifkan kembali seperti di jaman Orde Baru, dimana tak ada lagi aksi kejahatan," pintanya.(A20/ r)