Medan (SIB)- Setelah gagal pekan lalu, Selasa (18/8), Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Mayjen TNI Edy Rahmayadi silaturahim dengan seratusan pendeta lintas denominasi gereja di Sumut pertemuan itu untuk perkenalan pribadi sebagai Pangkostrad dan melepas jabatan Pangdam I/BB.Jenderal bintang dua. Dia bicara panjang lebar tentang strateginya dalam ikut menjaga kerukunan dan kondusivitas antarsesama umat beragama.Katanya, sebagai pribadi Islam yang memegang teguh aturan dan anjuran agama yang diyakininya, NKRI adalah harga mati. Artinya, demi sumpah dan janji sebagai prajurit penjaga NKRI, apapun harus dihadapi guna menunaikan tanggung jawab.Dari sisi mental, adab dan tingkah laku umat, ujarnya, tanggung jawabnya yakni menghadapi secara fisik dan ideologi. “Tetapi, adalah tanggung jawab tokoh dan pimpinan agama bila umatnya tidak berhasil menjalankan tanggung jawab sebagai manusia hingga mendustai apa yang diajarkanNya. "Gubernur ditahan dengan tuduhan macam-macam, itu pun tak lepas dari tanggung jawab bapak-ibu tokoh dan pimpinan agama," tandas Edy Rahmayadi tapi tidak menyebut secara spesifik gubernur mana yang dimaksudnya.Ia menyampaikan selamat datang di Makodam I/BB. Pertemuan untuk sarana silaturahim dan berdialog dalam menyamakan persepsi menyikapi situasi yang berkembang di wilayah Sumatera Utara itu dijadikan permintaan dukungan dari para pendeta. "Saya kan tak lama lagi meninggalkan daerah ini karena kini tanggung jawab secara nasional. Saya minta doa. Jauhkan... jauhkan saya dari perbuatan yang melawan hukum," ujarnya sambil mengatakan meski berjauhan fisik, batin dan hatinya tetap berada di Sumut karena daerah ini tempat pribadinya ditempa untuk menjadi warga negara Indonesia sejati.Baginya semua agama sama-sama berkeyakinan mengantarkan umatnya menuju alamNya. "Jadi, saya paling tidak suka jika ada pribadi, lembaga atau apa saja yang mengatasnamakan agama tapi melakukan segala cara dengan pembenaran apa yang dilakukannya," tandasnya.Mengulangi penegasannya bahwa tokoh dan pimpinan agama bertanggung jawab atas adab dan tingkah pejabat, Edy Rahmayadi menelisik kekayaan Sumut yang berlimpah. Dari perut bumi kaya dengan bahan tambang termasuk emas dan bahan bakar, dari atas bumi kaya dengan minyak seperti sawit, air yang tak pernah habis.“Tetapi, mengapa masih ada warga Sumut yang masih sengsara dari sisi ekonomi. Jika kekayaan tersebut dimaksimalkan untuk kesejahteraan rakyat, pasti tak ada lagi yang susah. Itu sebabnya, ketika gubernur ditahan, bapak dan ibu pimpinan agama, tidak dapat lepas tanggung jawab!" katanya.Kesamaan pandang pada semua umat beragama, diuraikan Edy Rahmayadi bahwa saat menjelang remaja, pribadinya ditempa oleh tokoh HKBP yakni orangtua sahabatnya, Kisharyanto Pasaribu SSos yang juga hadir di pertemuan tersebut. "Berbeda itu ternyata indah. Memahami adat-istiadat orang lain, justru menjadi satu kekuatan pribadi kok. Saya kan kenal betul bagaimana etnis Tapanuli yang Kristen taat. Saya merasa jadi bagiannya," tandasnya.Menjawab paparan tersebut, Uskup Agung Medan Mgr Dr AB Sinaga OFM mengucapkan terimakasih kepada sosok Edy Rahmayadi yang peduli pada jemaat, baik dalam tugas menjaga pertahanan negara, termasuk ikut memberangus penyakit sosial dan paling utama dalam kerja keras menjaga pelestarian kerukunan umat beragama. "Saya yang dihunjuk mewakili para tokoh dan pimpinan agama, sepakat bahwa tugas kami adalah menuntun jemaat agar baik. Tetapi, bila ada sesuatu... kami tak dapat berbuat apapun," ujar mantan Uskup Sibolga tersebut.Hal serupa dikatakan Ketua Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) Sumut Pdt Dr Paul Franciskus Wakkary MMin. Pihaknya merasakan apa yang dilakukan Edy Rahmayadi, dalam kapasitas sebagai panglima telah berbuat maksimal hingga kondusivitas wilayah terjamin seperti sekarang. Hal sama diutarakan Ketua Umum Yayasan Sumatera Berdoa JA Ferdinandus yang menegaskan meski telah menjadi panglima untuk Indonesia, pihaknya meminta perhatian pada Sumut khususnya dalam memacu pembangunan untuk kesejahteraan publik tetap diprioritaskan.Ketua PGPI Medan Pdt Samuel Gohzaly STh menegaskan, kiranya setelah nanti terpilih Pangdam yang baru, Edy Rahmayadi menitipkan hal-hal yang jadi prioritas dalam pembinaan umat demi menjaga kerukunan.Hadir dalam kegiatan tersebut Sahli Pangdam I/BB Bidang Sishanneg Kolonel Inf J.Ginting SIP, Aster Kasdam I/BB Letkol Inf Mahmud Riadinata, Kapendam I/BB Kolonel Inf Enoh Solehudin SE dan Wakabintaldam I/BB Letkol Caj Suherman, Mayor Kowad DJ Manihuruk. Di antara tokoh pendeta hadir pimpinan denominasi gereja seperti Pdt Murwanto Moesamo, Bachtiar Sonar Siregar, Sekjen Sumatera Berdoa Dra Nurhawati Simamora MSi, Pendeta GKI Sumut Nuran Ady Suyatno, Jhony Silaban, Drs JW Panjaitan, Pdt NP Sitorus MTh, Pdt P Simanjuntak STh, Pdt Kardi Simanjuntak, Pdt Rudin Aruan, Pdt Justan Silaban, Pdt JD Manullang, Pdt Dr Kalvinusius Ginting MSi, Pdt Hot Imanson Sinaga STh, Pdt Rixhard Kaleb, Pdt Antonius Silaban, Pdt Boimin Sirait.Dalam kesempatan itu, Edy Rahmayadi menghadiahi para pimpinan dan tokoh agama Kristen dua lagu yakni Izinkan Aku Pergi yang dipopulerkan Broery Pesolima dan Setuls Hatimu Semurni Cintamu yang dipopulerkan Arie Koesmiran. Syair lagu itu digubahnya hingga membuat haru dan suaranya tercekat. "Aku sangat mencintai para tokoh dan pimpinan agama yang bertanggung jawab pada umatnya, seperti yang kutemui hari ini," tutupnya sambil bergegas menemui sejumlah rombongan tamu lain yang sudah lama menunggu. (R9/d)