Medan (SIB)- Pancasila merupakan dasar fundamental pemikiran bagi bangsa Indonesia. Di atas pemikiran fundamental inilah bangsa Indonesia didirikan. Karena itu sampai kapanpun Pancasila akan selalu sesuai dengan kondisi Bangsa Indonesia. Karena Pancasila digali dari nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia sendiri.Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua Badan Pengkajian MPR RI H Rambe Kamarul Zaman saat membuka acara Temu Pakar dan Tokoh Daerah, dengan moderator Kepala Badan Kesbangpol Sumut H Eddy Syofian di Medan Kamis (27/8).Acara yang dilaksanakan MPR, bekerjasama dengan Badan Kesbangpol Linmas Sumut, itu mengetengahkan tema Implementasi Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Sistem Ketatanegaraan.Sebanyak 23 peserta ikut dalam acara tersebut, terdiri dari pimpinan perguruan tinggi di Sumatera Utara, tokoh pemuda, tokoh agama dan tokoh masyarakat hingga organisasi kemasyarakatan. Ikut hadir dalam kegiatan tersebut anggota MPR Darmayanti Lubis, tokoh masyarakat Sumut Dr RE Nainggolan MM, Prof DR Arif Nasution dan lainnya.Dibangunnya Pancasila dari nilai-nilai luhur, menjadi nilai positif bagi Bangsa Indonesia. Karena tidak banyak negara di dunia yang dibangun di atas nilai-nilai luhur bangsanya sendiri.Karena itu menurut Rambe, Pancasila harus selalu dijaga dan dilestarikan. Jangan sampai tergantikan oleh nilai-nilai yang datang dari luar, yang belum tentu sesuai dengan Bangsa Indonesia."Kita harus bisa menjadikan Pancasila sebagai dasar dan latarbelakang berbangsa dan bernegara. Menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan membudayakannya untuk generasi yang akan datang", katanya.Sementara Dr Jamilin Sirait Ketua PGI Sumut menyatakan ketakutannya melihat kondisi sosial yang makin lama semakin tidak mencerminkan keindonesiaan. Kebebasan dalam bergaul dan penyalahgunaan Narkoba menurut Jamilin menjadi bukti betapa Pancasila semakin terpinggir.Sedangkan DR RE Nainggolan MM dan Prof DR Arif Nasution senada mengisyaratkan ini terjadi karena nilai-nilai kearifan lokal dan moral sudah terlupakan oleh masyarakat, terutama generasi muda. Pranata sosial yang dulu dihormati dan dipatuhi sudah tidak ditemukan lagi. Sebagai ganti masyarakat menggunakan nilai-nilai asing, yang belum pasti sesuai dengan kaidah Bangsa Indonesia.Sementara Dr Kasim Siyo mengatakan, reformasi telah berjalan melampaui batas. Sehingga banyak aturan yang malah mengobrak-abrik Pancasila dan UUD 1945. Bukti ditinggalkannya Pancasila oleh Bangsa Indonesia adalah sengketa yang menimpa sejumlah partai politik. Penyelesaian yang tak berkesudahan pada sengketa tersebut jelas tidak sesuai dengan Pancasila. Apalagi Pancasila secara tegas mengajarkan musyawarah dalam menyelesaikan masalah."Ribut dalam Pilkada juga contoh penyimpangan terhadap Pancasila. Termasuk kerusuhan sosial dan tawuran pelajar yang makin kerap kita temukan, semua itu bertentangan dengan Pancasila", katanya.(A14)