Sei Rampah (SIB)- Masyarakat petani Desa Sei Belutu Kecamatan Sei Bamban Kabupaten Sergai sangat kecewa atas proyek pembangunan bendungan dan saluran irigasi sekunder . Pasalnya proyek bersumber dana APBN senilai Rp 155 milliar yang dikerjakan PT. Waskita Karya BUMN itu terkesan asal jadi.Sebagai bentuk kekecewaan, puluhan petani, Selasa(1/9) turun ke lokasi irigasi sekunder di Dusun I dan Dusun V Desa Sei Belutu untuk menyaksikan proses pengerjaannya yang terkesan asal jadi. Temuan di lapangan kondisi bangunan condong tegak hanya setinggi satu meter berada di bawah tanggul sehingga rawan tumbang. Sedangkan pundasi hanya disemen dengan ketebalan sekitar 15 cm, padahal sesuai ketentuan minimal 30 cm, apalagi komposisi campuran semen dan pasir yakni 1 sak semen untuk 3,5 angkong pasir. Bahkan pundasi yang sudah siap dikerjakan mengalami retak ketika diinjak.Berlin Manurung salah seorang tokoh masyarakat kepada SIB di lokasi proyek mengatakan, pekerjaan pembangunan proyek Bendungan Sei Belutu sekaligus saluran irigasi sekunder itu sangat mengecewakan. Dalam waktu satu sampai dua tahun saluran irigasi ini diperkirakan akan rusak parah bahkan bisa ambruk.Bendungan dan irigasi ini dibangun untuk mengairi persawahan seluas 5000 Ha untuk 6 Desa di antaranya Desa Sei Belutu, Bakaranbatu, Gempolan, Penggalangan, Sei Bamban, Desa Sukadamai, Siria-ria sebahagian untuk Kecamatan Tanjungberingin. Dengan didirikannya bendungan itu, pemerintah berharap agar petani bisa mengairi sawah dengan cukup terutama di musim kemarau dan hasil pertanian bisa meningkat menuju Swasembada Pangan. Secara umum masayarakat Sei Belutu dan sekitarnya berterimakasih kepada pemerintah dengan dibangunnya bendungan dan irigasi ini. Akan tetapi pihak rekanan tidak berpihak kepada petani hanya bertujuan bagaimana pekerjaan cepat selesai dan mendapat untung yang sebesar-besarnya. “Kami tentunya tidak sependapat bila perlu akan menghentikannya. Bendungan tersebut bila dikerjakan dengan bagus bisa bermafaat sampai ke anak cucu, akan tetapi kalau amburadul kan yang rugi pemerintah pusat dan petaniâ€, kata Manurung.Awalnya pekerjaan yang dikerjakan PT Waskita Karya sudah tergolong bagus dan terus diawasi pengawas dari provinsi. Tetapi sejak dua bulan terakhir tidak pernah lagi diawasi sehingga pekerjaan tidak becus, bahkan ada rekanan yang lari meninggalkan pekerjaan, sedangkan sudah banyak pekerjaan disubkan kepada banyak rekanan. Diharapkan instansi terkait turun melihat kondisi proyek dan jangan dibayar kerjaan yang tidak becus, bila perlu rekanan yang tidak bagus jangan lagi dipakai untuk melanjutkan pekerjaan, ungkap mantan Kades Sei Belutu itu.Pihak PT Waskita Karya yang berposko di lokasi proyek tidak berhasil diwawncarai karena tidak berada di tempat.Turut hadir melihat kondisi pembangunan proyek irigasi itu di antaranya Mula Sitorus dari Gapoktan Sei Belutu, Drs Hasudungan Simanjuntak, J Sitorus, N Sirait, (tokoh masyarakat), R Sianturi dari BPD Sei Belutu dan Manalsal Silalahi selaku pemerhati pertanian.(A27/c)