Konsulat Tiongkok Kunjungi Proyek-proyek Investasi di Pulau Sumatera

PLN Dapat Tambahan 400 MW dari PLTU 2 Pangkalansusu, Tol Medan-Kualanamu 33 Persen Selesai

* Pemerintah Pusat dan Daerah Diminta Persingkat Perizinan
- Minggu, 06 September 2015 10:15 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/09/hariansib_PLN-Dapat-Tambahan-400-MW-dari-PLTU-2-Pangkalansusu--Tol-Medan-Kualanamu-33-Persen-Selesai.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/Dok
Konsul Ekonomi dan Perdagangan Konsulat Tiongkok untuk Medan, Liu Weiguo (lima kanan) didampingi Mr. Liu Junshi Project Manager (lima kiri) serta Deputy Project Manager Gita Priyambada (enam kanan) berfoto bersama kru media usai berkunjung ke proyek jal
Medan (SIB)- Untuk mengungkapkan kepada publik progres dan kendala  sejumlah proyek investasi Tiongkok di Indonesia, Konsulat Tiongkok membawa sejumlah awak media massa melihat langsung tiga proyek yang didanai, dikerjakan dan dioperasikan sendiri oleh perusahaan Tiongkok. Dari ketiga proyek tersebut, dua di antaranya telah beroperasi dan satu masih dalam tahap konstruksi.Kunjungan hari pertama dimulai ke PLTU 2 Sumatera Utara, Selasa (1/9) di Pangkalansusu, Kabupaten Langkat. Yao Hong selaku Project Manager PLTU 2 Sumatera Utara mewakili perusahaan kontraktor Tiongkok mengungkapkan, unit 1 dan 2 PLTU 2 Sumatera Utara telah menyelesaikan tahapan sinkronisasi pertama dan berhasil mengalirkan energi listrik Commercial Operation Date (CoD) sebesar 2x200 MW untuk PLN . "Dengan telah COD nya unit 1 dan 2 maka PLN mendapat tambahan energi listrik sebesar 400.000 kwh atau 400 megawatt (MW) dan diharapkan dapat menambah 20% kebutuhan beban puncak energi listrik di Sumatera Utara," kata Yao Hong dalam presentasi kepada Liu Weiguo Konsul Ekonomi dan Perdagangan Tiongkok di hadapan kru media.Selain mengutarakan hasil, Yao juga mengungkapkan kendala yang sempat dialami PLTU 2 Sumatera Utara, diantaranya: kondisi geologis tanah yang buruk, perbedaan bahasa dan pencurian struktur baja hingga mengakibatkan sejumlah menara transmisi di sekitar PLTU ambruk dan mengganggu aliran distribusi listrik. Lebih lanjut Yao Hong menjelaskan, PLTU 2 Sumatera Utara adalah pembangkit energi listrik berbahan bakar batu bara, yang proses konstruksinya dimulai pada 26 Mei 2009 lalu. Unit 1 berhasil COD pada 14 Juli 2015, sementara Unit 2 COD pada 20 Agustus 2015.Menurut presentasi Yao Hong kepada media, PLTU 2 Sumatera Utara adalah proyek milik PLN yang proses rancang-bangun, pengadaan barang dan konstruksinya (EPC)  dilakukan konsorsium BUMN Tiongkok Guangdong Power Engineering Co. Ltd (GPEC), PT. NINCEC Multi Dimensi dan PT. Bagus Karya. Pada 17 April 2012, PT NINCEC bangkrut yang mengakibatkan target pengerjaan sipil terlambat. Kondisi tersebut mengharuskan GPEC dan PT Bagus Karya sebagai pemimpin konsorsium mengambialih penyelesaian sisa pengerjaan sipil, hingga proses konstruksi selesai dan PLTU mampu memproduksi listrik.Usai mengunjungi PLTU di Pangkalansusu, rombongan Konsulat Tiongkok dan kru media menuju proyek jalan tol Medan-Kualanamu di Kabupaten Deliserdang. Di proyek tersebut, Liu Junshi, Project Manager mewakili kontraktor BUMN Tiongkok mengungkapkan bahwa progres (kemajuan) pekerjaan telah mencapai 33%. Saat ini, menurut Junshi dari total 17,8 km (panjang jalan) yang bisa dikerjakan hanya 9,6 km (54 % dari total panjang jalan), dimana 6,4 km adalah tanah normal dan 3,2 km merupakan area tanah lunak. "Jadi progres pengerjaan baru mencapai 33% dikarenakan beragam kendala," jelas Junshi di hadapan Konsul Ekonomi dan Perdagangan Tiongkok, Liu Weiguo.Saat SIB menanyakan kendala yang dimaksud, Junshi mengungkapkan kendala utama adalah lambannya pembebasan lahan yang dilalui proyek jalan tol. Junshi mengungkapkan, saat ini lahan yang belum bebas adalah 20% dari total area yang diperlukan. Oleh karena itu, Junshi mengharapkan pihak-pihak terkait di pemerintahan pusat maupun daerah mempercepat pembebasan lahan, agar jalan tol yang akan mempercepat arus distribusi logistik tersebut bisa segera selesai sesuai target. "Apabila hingga akhir tahun ini, pembebasan lahan belum bisa dituntaskan, maka akan diperlukan perpanjangan waktu pengerjaan paling tidak hingga satu tahun," demikian kata Junshi.Kepada kru media, Junshi dalam presentasinya didampingi Gita Priyambada, Deputi Project Manager mewakili Hutama Karya, menjelaskan bahwa jalan tol Medan-Kualanamu merupakan bagian dari proyek Jalan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi. Proyek tersebut dibangun oleh pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat. Proyek dikerjakan dengan cara kerjasama operasi antara 2 BUMN Tiongkok China Harbour Engineering Co.Ltd dan China State Construction and Engineering Co.Ltd dengan mitra lokal PT. Hutama Karya (Persero).Pembangkit Independen PertamaSetelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan, rombongan Konsulat Tiongkok bersama kru media dari Medan, Kamis (3/9) tiba di PLTU Muara Enim di Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. PLTU yang berlokasi di Dusun II Desa Gunung Raja, kecamatan Rambang Dangku tersebut adalah PLTU berbahan bakar batu bara, yang sumbernya didapatkan langsung dari tambang batu bara yang dioperasikan perusahaan Tiongkok dan berlokasi di areal PLTU.Dalam presentasinya, Bi Chun Hai, Deputi General Manager PLTU Muara Enim menjelaskan, PLTU Muara Enim adalah PLTU independen (IPP) yang proses konstruksi didanai, dikerjakan dan dioperasikan sendiri oleh perusahaan listrik Tiongkok Guohua Grup dengan nama operasional di Indonesia PT. GH EMM Indonesia. Seluruh daya sebesar 2x150 MW yang dihasilkan dua unit PLTU sepenuhnya dijual kepada PLN. "Guohua adalah anak perusahaan BUMN China Shenhua," jelas Chun Hai.Dalam pernyataannya, Bi Chun Hai mengklaim bahwa PLTU Muara Enim telah mendapat penghargaan dari pemerintah Indonesia sebagai PLTU terbaik di Indonesia. Prestasi itu didapatkan setelah PLTU Muara Enim mampu membuat terobosan dengan menciptakan sendiri teknologi yang merubah kualitas buruk batu bara lokal hingga memenuhi standar sebagai bahan bakar PLTU.Saat diminta pesannya kepada pemerintah Indonesia dalam akhir kunjungan tersebut, Liu meminta agar pemerintah pusat maupun Pemda lebih mempersingkat waktu segala proses perizinan agar investor asing berlomba-lomba berinvestasi di Indonesia. (R17/c)


Tag:

Berita Terkait

Medan Sekitarnya

OTT KPK di Pekalongan Jateng, Bupati Ditangkap

Medan Sekitarnya

Satres Narkoba Bukber, Kapolrestabes Medan: Hidup-Mati Sekali, Sekali Hidup Harus Berarti

Medan Sekitarnya

KPPU Kanwil I Terima Audiensi Asosiasi Ahli Hukum Pencucian Uang

Medan Sekitarnya

HUT ke-48, Jasa Marga Tasyakuran dan Santuni Anak Yatim Medan

Medan Sekitarnya

Kalapas Serahkan SK Kenaikan Pangkat Kepada 24 Pegawai Lapas Narkotika Pematangsiantar

Medan Sekitarnya

Kejari Gunungsitoli Tetapkan Tersangka Korupsi Proyek RSU Pratama Nias