Medan (SIB)- Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Sumatera Utara H Hamdani Harahap menyatakan harus terlihat jelas adanya perlawanan bersama dari segenap komponen di Indonesia terhadap jaringan sindikat narkoba internasional yang ada di Tanah Air."Warga negara asing yang merupakan sindikat narkoba internasional yang banyak beroperasi di Indonesia harus dibuat jera untuk mengulang memasok narkoba ke Indonesia," ucapnya di Medan, Minggu.Komponen bangsa yang harus berkomitmen menyelamatkan anak bangsa dari bahaya narkoba yaitu Badan Narkotika Nasional (BNN), kepolisian, dan imigrasi yang harus terus menggeledah orang asing yang tinggal di tempat kost maupun hotel yang mencurigakan terkait peredaran narkoba.Hamdani mengatakan, dalam melakukan razia narkoba tersebut, BNN dan aparat kepolisian, bukan hanya memburu warga negar asing (WNA) saja, tetapi juga mencari kurir atau pengedar WNI.Sebab, menurut dia, barang narkoba jenis sabu-sabu itu, sudah dibagi-bagikan kepada jaringan maupun pengedar yang ada di tanah air."Bisnis yang dilakukan mafia maupun kelompok pengedar narkoba tersebut, cukup rapi dan sulit terbongkar aparat berwajib," ujar Hamdani. Dia menjelaskan, dalam membongkar jaringan peredaran obat-obat berbahaya itu, memerlukan kesabaran dan pihak berwajib, kadang kala harus menyamar sebagai pembeli, serta menjadi anggota sindikat narkoba tersebut.Hal ini dilakukan untuk membongkar peredaran narkoba yang lebih besar lagi dilakukan WNA yang bekerja sama dengan kaki tangannya orang Indonesia.Selain itu, untuk dapat mengetahui dengan jelas, siapa gembong orang asing yang menyelundupkan barang haram tersebut masuk ke Indonesia.Biasanya, barang narkoba tersebut masuk ke tanah air melalui jalur perairan Selat Malaka, misalnya wilayah Provinsi Sumatera Utara di Pelabuhan Tanjung Balai/Asahan.Lokasi tersebut merupakan daerah yang dianggap strategis tempat mamasok sabu-sabu dari Malaysia, Thailand dan berbagai negara lainnya. Oleh karena itu, katanya, pengamanan di daerah pantai tersebut, perlu lebih ditingkatkan oleh BNN, Mabes Polri, dan Polda Sumut."Narkoba jenis sabu-sabu sering disita aparat keamanan di Pelabuhan Tanjung Balai, dan termasuk daerah rawan dalam penyelundupan narkoba," kata Ketua DPD Granat Sumut.Sebelumnya, warga negara Nigeria menjadi sindikat utama pengendali peredaran sabu-sabu di Indonesia sepanjang pengungkapan kasus yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) periode Juni-Agustus 2015."Sepanjang periode Juni hingga Agustus 2015, BNN telah mengungkap sedikitnya 14 kasus dengan 23 tersangka, yaitu lima WNA Nigeria dan 18 WNI," kata Kepala Bagian Humas BNN Kombes Pol Slamet Pribadi dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu.Ia mengatakan seluruh kasus penyelundupan narkoba tersebut memiliki modus operandi yang sama, yakni melalui paket kiriman dari Guangzho, Tiongkok, yang diselipkan dalam berbagai macam barang seperti mesin alat pijat, tas perempuan, mesin sepeda motor, "cartridge" printer, dan mesin genset. (Ant/y)