Seminar APE-LPTK

Mindset FE se-Indonesia Jangan Lagi Andalkan Teori Ekonomi

- Senin, 09 November 2015 10:04 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/11/hariansib_Mindset-FE-se-Indonesia-Jangan-Lagi-Andalkan-Teori-Ekonomi.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/Dok
PROF Iwan Jaya Azis menyampaikan paparan tentang kejanggalan berbagai teori ekonomi di seminar APE-LPTK, Sabtu (7/11), di Hotel Garuda Plaza Medan.
Medan (SIB)- Perguruan tinggi terutama fakultas ekonomi di Indonesia sudah harus mulai mengubah paradigma jangan lagi mengandalkan teori ekonomi karena terjadinya perubahan kebutuhan pasar.Hal itu diungkapkan  pakar ekonomi Universitas Cornell University New York Amerika Serikat Prof Iwan Jaya Azis saat menjadi pembicara dalam seminar nasional Asosiasi Pendidikan Ekonomi Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (APE-LPTK) di Garuda Plaza Hotel Medan, Sabtu (7/11). Iwan Jaya Aziz yang juga guru besar FE Universitas Indonesia menegaskan ke depan perguruan tinggi terutama FE harus memikirkan bagaimana kualitas lulusannya agar tidak selalu hanya memahami dasar teori. Banyak sebenarnya teori yang sudah tidak relevan dengan kondisi riil.“Coba kalau misalnya kita bicara teori permintaan barang pasti selalu dalam slope negatif. Padahal kan tergantung pada utility (kemanfaatan). Jika utility nya berubah maka permintaan barang bisa saja menjadi positif,”  “Semua barang yang diproduksi akan berubah kemanfaatannya (utility). Beberapa waktu lalu saya bicara dengan anak saya yang bekerja di IBM. Dia selalu diberikan perusahaannya perangkat paling canggih,” kata Iwan Jaya Azis.Ekonom yang sebelumnya bekerja di Asian Development Bank itu kemudian bertanya. “Untuk apa laptop canggih kalau tidak ada CD ROM-nya. Lalu si anak pun menjawab sekarang tidak perlu lagi karena semua sudah bisa didownload.”Itulah, kata Iwan Jaya Azis, yang menunjukkan perubahan. “Nanti ke depan orang juga tidak perlu beli kendaraan tapi bisa berangkat kemana-mana. Karena akses untuk itu yang lebih diprioritaskan,” jelasnya.Sementara itu Asisten Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi bidang akademik Pauline Panenn juga mengingatkan agar semua materi yang disajikan FE se-Indonesia berstandar internasional. “Saya berharap satu dari kita yang ada di sini 25 tahun lagi sudah memiliki kapasitas internasional,” katanya.Termasuk, kata dia, jika bicara semua link yang dimiliki di jejaring sosial harus mengacu pada upaya pengajar untuk meningkatkan kapasitas keilmuan. “Begini ya, saya yakin anda sekalian yang jadi dosen pasti punya facebook, email dan jejaring sosial lain. “Terus digunakan untuk apa? Selfie? Padahal sebenarnya kita bisa meningkatkan kapasitas dan kemampuan kita sebagai pengajar dengan mengakses banyak hal termasuk mengupgrade pengetahuan,” kata dia.Sedangkan Wakil III Rektor Unimed Prof Sahar Siagian lebih banyak berbicara tentang kemandirian belajar. Bagaimana agar seluruh proses pendidikan membangun kompetensi. Pendidikan bukan ditujukan untuk sekedar menguasai pengetahuan tetapi harus pula bertanggung jawab memahami, menjelaskan dan menerjemahkan kompetensi lulusan kedalam pembelajaran. Krisis ekonomiSelain bicara di forum, Iwan Jaya Azis juga mengingatkan tentang rentannya ekonomi Indonesia dihantam krisis global.  Sekarang, kata dia, keadaan lebih buruk. Dunia seakan tidak saling berhubungan.Di antara hal-hal mengganggu Iwan Jaya Azis dari pemerintahan sekarat adalah pendekatan yang semakin proteksionistis terhadap perdagangan dan investasi dan penumpukan utang luar negeri swasta yang mengingatkan pada pola sebelum krisis keuangan Asia 1997-1998.Dia melihat Indonesia sebagai pasar yang besar dengan populasi terbesar keempat di dunia, gagal memasukkan diri dalam rantai pasokan manufaktur global seperti yang dilakukan oleh Vietnam dalam industri elektronik.“Vietnam telah memikat miliaran dolar investasi dari Samsung Electronics Co  yang kemudian memicu ekspor,” kata dia. Sebaliknya, kata Iwan Jaya Azis, profesor yang kini berusia 62 tahun, ekonomi Indonesia tetap tergantung pada sumber daya alam dan industri perakitan. “Itu tidak baik untuk ekonomi Indonesia," tuturnya. (R5/c)


Tag:

Berita Terkait

Medan Sekitarnya

Hakim Minta Kejagung Proses Hukum Pemilik Wilmar, Musim Mas dan Permata Hijau Grup: Terdakwa Hanya Karyawan!

Medan Sekitarnya

Penerima Bantuan Pangan di Sumut Naik Jadi 1,7 Juta KPM, Kebutuhan Beras dan Minyak Goreng Melonjak

Medan Sekitarnya

Eks Bos Wilmar Terbukti Bersalah di Kasus Suap Hakim, Lolos dari Kasus TPPU

Medan Sekitarnya

Usut Kasus Suap di Bea Cukai, KPK Bidik Perusahaan Rokok di Jatim-Jateng

Medan Sekitarnya

Jemaah Masjid Taqwa Muhammadiyah Aek Kanopan Timur Gelar Salat Gerhana Bulan

Medan Sekitarnya

Konflik AS–Israel vs Iran, Warga Ramai Cicil Emas di Pegadaian