Medan (SIB)- Kawasan Danau Toba kian hari kian memburuk, ekosistem di dalamnya semakin terancam kelestariannya. Menyingkapi kondisi itu Yayasan Elshadai selalu pengelola Taman Eden 100 dan Anggota DPRDSU Sarma Hutajulu SH bekerjasama menggelar penggalangan dana melalui pagelaran seni dan budaya serta pelelangan emas untuk konservasi Danau Toba di Restoran Kenanga Jalan Jamin Ginting Medan, Sabtu (21/11).Pada malam penggalangan dana yang bertema “Hijaukan Emas†itu, Marandus Sirait melelang medali emas seberat 20 gram yang pernah diraihnya pada UGM Award tahun 2013. Sedangkan Sarma Hutajulu SH melelang pin emas lambang DPRDSU miliknya untuk membantu biaya penghijauan di Danau Toba.Lelang medali emas milik Marandus dimenangkan oleh Fauji Isma selalu Ketua Persatuan Wartawan Elektronik Indonesia (PWEI) dengan harga Rp 20.100.000, sedangkan pin lambang DPRDSU milik Sarma Hutajulu dimenangkan oleh Batara Sinaga dengan harga Rp 6 juta. Dana tersebut akan disumbangkan untuk sekolah-sekolah di kawasan Danau Toba seperti di SMPN Lumbanjulu dan rumah ibadah HKBP Hutajulu juga, perkantoran lainnya di Tobasa untuk dihijaukan.Hal itu disampaikan Marandus Sirait yang juga bertindak sebagai Ketua Panitia Pelaksana dan didampingi Murni Huber Tobing yang juga pegiat lingkungan di sela-sela acara penggalangan dana.Lebih lanjut Marandus mengatakan, saat ini campur tangan pemerintah pusat dan daerah untuk konservasi alam kawasan Danau Toba terkesan setengah hati. Sehingga ia terpaksa melelang medali emas yang pernah diraihnya pada tahun 2013 dari Universitas Gajah Mada guna mendukung penghijauan di Kawasan Danau Toba.“Ekosistem Danau Toba saat ini menjerit dan menangis. Tidak ada yang mendengar, jadi untuk itu kami mau coba mendengar rintihan dan keluhan itu supaya kami bisa menghijaukan kawasan Danau Toba. Nah saya lihat campur tangan pemerintah minim dalam penjagaan hutan. Dalam hal penanaman, luar biasa tetapi di dalam perawatan sangat minim ,sehingga perawatan-perawatan yang dilakukan sangat sedikit,†ucapnya.Ia juga berharap agar masyarakat sekitar Danau Toba berbuat nyata walau kecil tapi ada. bertindak melakukan apa yang bisa dilakukan dengan apa yang dimiliki, tidak harus besar namun bersama-sama bertindak.Ia menekankan agar pemerintah secara khusus pemerintah di 7 kabupaten sekitar Danau Toba supaya lebih peduli kepada Danau Toba. Pemerintah diharapkan tidak abu-abu dalam menjaga kelestarian ekosistem Danau Toba.Sementara itu Anggota DPRDSU Sarma Hutajulu SH menyampaikan, ia akan tetap komit menyelamatkan Danau Toba dari pengrusakan sebagaimana yang telah diperjuangkannya sejak masih mahasiswa hingga menjadi pengurus WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) Sumut.Menurutnya, untuk konservasi kawasan Danau Toba tidak cukup hanya diskusi dan seminar di hotel-hotel menghabiskan biaya yang besar. Namun, lebih besar manfaatnya bila mendedikasikan sekecil apapun yang ada pada diri sendiri.“Untuk konservasi kawasan Danau Toba itu harus berbuat nyata, Walau kecil, tidak sekedar diskusi di hotel-hotel. Wawancara mau dijadikan Monaco Asia, inilah itulah tapi prakteknya pengrusakan masih terus berlangsung,’ ujarnya.Sedangkan Murni Huber menjelaskan, hutan endemic Toba saat ini semakin terancam punah, sehingga gerakan penghijauan harus terus digalakkan dan diharapkan mampu mengembalikan kondisi hutan tersebut. Pantauan SIB, hadir di acara itu tokoh-tokoh masyarakat dan pegiat lingkungan lainnya seperti Hasoloan Manik yang juga pernah mengembalikan Kalpataru bersama Marandus Sirait kepada Presiden SBY. Selain itu, Ngangkat Tarigan dan tokoh masyarakat lainnya, musisi tradisional senior Marsius Sihotang yang turut memeriahkan acara tersebut. (DIK-AB/DIK-SPS/h)