Menyoroti Debat Putaran Pertama Pilkada DKI Jakarta

* Oleh Azis Kurmala
- Senin, 16 Januari 2017 12:48 WIB
Perhelatan debat calon gubernur DKI Jakarta 2017 putaran pertama yang disiarkan langsung oleh sejumlah stasiun televisi swasta telah usai dilaksanakan. Debat tersebut diikuti oleh tiga pasangan calon kepala daerah DKI Jakarta, yakni Agus-Sylvi, Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga.Debat jilid pertama tersebut yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta bertema "Pembangunan Sosial Ekonomi untuk Jakarta".Ketiga pasangan calon dalam kesempatan tersebut telah menyampaikan visi, misi dan programnya kepada calon pemilih.Menyorot hasil debat putaran pertama Direktur Eksekutif Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahudin mengatakan dari sejumlah hal menarik yang muncul dari acara debat semalam, penampilan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) boleh disebut sebagai salah satunya yang menarik.Selama ini, kemampuan AHY dalam berdebat cenderung diragukan oleh sejumlah pihak. Ketidakhadirannya di beberapa acara debat non formal televisi swasta beberapa waktu lalu menguatkan dugaan sebagian masyarakat bahwa Agus memang tidak siap mengikuti debat.Tetapi setelah melihat penampilannya kemarin, Agus sepertinya telah mampu menggugurkan pandangan sinis tersebut. Tampil dengan penuh percaya diri dan cara bicara yang tegas dan teratur, AHY cukup memukau. Stigma sebagai 'anak ingusan' tampaknya tidak tepat lagi dilekatkan kepadanya, ujar dia.Tidak hanya Agus, lanjut pemerhati kepemiluan, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Anies Rasyid Bawedan pun tampil cukup memukau.Ia mengatakan secara umum Ahok terlihat cukup tenang dan rileks ketika berbicara. Dia relatif mampu mengendalikan sikap temperamentalnya. Hanya sesekali saja suaranya meninggi.Ahok juga tidak terlihat tertekan dalam posisinya sebagai calon petahana yang lazim menjadi pusat serangan."Sementara penampilan Anies tidak berubah. Ia tetap muncul dengan tampilan berwibawa. Cara bicaranya cukup menyejukkan, sistematis, argumentatif, tetapi juga tegas. Dia tampil cukup simpatik," kata pengamat politik tersebut.Aktivis 98 tersebut mengatakan ketiga pasangan calon mampu menunjukkan kekuatan visi, misi dan programnya masing-masing dan pada bagian yang lain juga terampil dalam mengkritisi visi, misi dan program para kompetitornya.Ia mengatakan dari debat perdana yang mengambil tema seputar permasalahan sosial-ekonomi, termasuk persoalan lingkungan, transportasi dan keamanan, kemarin, pasangan nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni (Sylvi) tampak lebih mengedepankan program bantuan dana bagi warga Jakarta. Mulai dari Bantuan Langsung Sementara (BLS) sebesar Rp5 juta  untuk tiap keluarga miskin, bantuan modal usaha bergulir sebesar Rp50 juta  untuk tiap unit usaha, sampai dengan bantuan Rp1 miliar per tahun untuk pemberdayaan RT/RW di DKI Jakarta."Program pelayanan kesehatan, penegakan hukum, peningkatan kualitas pemerintahan dan birokrasi, program rumah rakyat, penyerapan tenaga kerja, kerukunan warga, serta pembangunan karakter akhlak dan moral, serta hal lainnya memang juga disuarakan oleh Agus-Sylvi, tetapi program bantuan dana tampak ingin lebih ditonjolkan oleh pasangan ini," kata dia.Program bantuan tersebut sebetulnya bagus-bagus saja. Selain dapat memberdayakan masyarakat dan mengurangi angka pengangguran, program itu pada gilirannya juga diharapkan dapat mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan daya beli masyarakat. Sampai di sini, Agus-Sylvi boleh disebut telah menunjukkan keberpihakannya kepada warga Jakarta, khususnya kepada mereka yang berlabel orang pinggiran.Sayangnya, lanjut dia, pasangan nomor urut 1 itu kurang mampu menjawab secara tangkas dan kongkret mengenai metode untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyimpangan dana-dana yang akan dikelola oleh masyarakat tersebut, sebagaimana dikhawatirkan oleh pasangan nomor urut 2. Pertanyaan dari pasangan petahana ini cukup masuk akal, mengingat program bantuan dana yang sejenis pernah juga diwujudkan di masa lalu, tetapi ternyata menyisakan sejumlah persoalan.Sementara itu ia mengatakan pasangan nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat sendiri pada acara debat tampak lebih mengutamakan program infrastruktur, dibandingkan dengan program lain yang juga mereka sampaikan, antara lain soal transparansi birokrasi, pelayanan kesehatan, jaminan pendidikan, perumahan, transportasi, stabilisasi harga kebutuhan pokok, dan modal usaha dengan sistem bagi hasil."Penekanan Ahok-Djarot pada pembangunan fisik tergambar dari uraian mereka mengenai program rumah susun layak huni untuk warga yang terkena proyek penggusuran. Bagi pasangan ini, pembangunan rumah susun sangat penting agar warga dapat tinggal di sana sampai dengan usia lansia dan hidup secara manusiawi," ujar dia.Secara gagasan, lanjut dia, program pasangan petahana ini sebetulnya baik, tetapi secara praktik, program yang sudah berjalan itu ternyata menimbulkan banyak masalah. Salah satu masalahnya bahkan disebut sendiri oleh Ahok. Dia menyebut soal belum rampungnya pembangunan rumah susun. Padahal, bagaimana mungkin dilakukan penggusuran ketika rumah susun yang diperuntukan kepada warga ternyata belum siap dibangun."Kritik dan pertanyaan yang dilontarkan oleh para kompetitornya terkait kebijakan penggusuran dan program infrastruktur untuk mengalihkan tempat tinggal warga ke rumah susun, termasuk dampak yang timbul dari kebijakan penggusuran, sayangnya juga tidak mampu dijawab secara argumentatif oleh pasangan nomor urut 2 ini," kata dia.Soal warga yang kehilangan mata pencahariannya akibat direlokasi ke rumah susun yang lokasinya jauh dari tempat tinggal semula, problem trauma para korban penggusuran, serta persoalan warga yang tercabut dari akar budayanya, sebagaimana tergambar dari film 'Jakarta Unfair' yang disinggung oleh pasangan nomor urut 1, misalnya, hanya dijawab secara normatif oleh pasangan petahana ini, kata Said.Program Anies-Sandi Jika Agus-Sylvi mengandalkan program bantuan dana dan Ahok-Djarot mengedepankan program infrastruktur, maka pasangan nomor urut 3 Anies Rasyid Bawedan- Sandiaga Salahuddin Uno (Sandi) terlihat lebih mengutamakan program pembangunan manusia dan penegakan hukum.Ia mengatakan Anies-Sandi memang bicara mengenai program tata kelola pemerintahan yang baik, perluasan lapangan kerja, pemberian kredit bagi UMKM, biaya hidup terjangkau, penolakan proyek reklamasi, pemajuan kesejahteraan, urban renewal, moratorium kendaraan mewah dan penanganan masalah orang asing, tetapi aspek pembangunan kualitas manusia melalui pendidikan dan penegakan hukum tampak diutamakan.Menurut pasangan ini, kata dia, yang perlu dibangun dalam meningkatkan mutu pendidikan bukan cuma persekolahan, tetapi juga penanaman nilai-nilai agama melalui penguatan iman, taqwa, akhlak dan karakter moral warga Jakarta. Budaya mengaji pada anak-anak, misalnya, dianggap perlu untuk dihidupkan kembali. Program ini tentu sangat baik sebagai perwujudan dari pengamalam Sila Pertama Pancasila.Adapun program penegakan hukum yang ditawarkan oleh Anies-Sandi sebetulnya masih terkait dengan program pembangunan kualitas manusia."Hal ini tercermin dari contoh-contoh kasus yang mereka anggap harus diproses secara hukum, seperti kasus prostitusi dan peredaran narkoba yang marak ditengah masyarakat, terutama di tempat-tempat hiburan malam," ungkap dia.Sayangnya, ujar dia, pasangan ini seperti kurang mengikuti informasi sehingga ketika memilih contoh kasus yang dianggap memerlukan proses penegakan hukum, sampel tersebut ternyata telah lebih dulu disoroti dan diproses secara hukum oleh pasangan calon yang lain, yaitu pasangan petahana.Sementara itu Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan meskipun pasangan Anies-Sandi berbicara dengan runut, komunikasi dan artikulasinya jelas, belum tentu pasangan tersebut unggul di Pilkada.Sedangkan ia mengatakan Agus mampu tampil rileks dalam debat putaran pertama tersebut. Bahkan sering kali Agus mampu melakukan serangan balik pasangan calon lainnya, seperti ketika menyinggung pasangan Ahok-Djarot sebagai pemimpin yang tidak mempercayai rakyatnya.Terkait dengan pasangan Ahok-Djarot, ia mengatakan hanya Ahok yang tidak berani komitmen untuk tidak akan tinggalkan Jakarta pada 2019 bila terpilih nanti.Menurut dia, hal tersebut merupakan penutupan debat yang antiklimaks bagi pasangan petahana. Sebagai satu satunya pasangan calon yang bisa bercerita tentang kebijakan dan program yang pernah dilakukan ternyata calon gubernur petahana ini menutup debat tanpa komitmen untuk Jakarta. (Ant/ r)


Tag:

Berita Terkait

Opini

Tapteng dalam Tahap R3P, Sekda Tekankan OPD Bekerja untuk Rakyat

Opini

Peresmian Sekretariat MES Sergai, Momentum Bangkitkan Ekonomi UMKM

Opini

Diikuti 808 Peserta, OSS IV SMA St Petrus Sidikalang Resmi Dibuka

Opini

Bulog Sumut Pastikan Stok Beras 53 Ribu Ton dan Minyak Goreng 5,4 Juta Liter Aman

Opini

Kejari Karo Musnahkan Sabu 1,4 Kg dan Ganja 42 Kg dari Puluhan Perkara

Opini

IHSG Anjlok 3,27 Persen, Rupiah Melemah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS