Lantunan takbir berkumandang sejak Sabtu (24/6) malam menandakan berakhirnya puasa Ramadan menyambut hari kemenangan 1 Syawal 1438 Hijriah.Perayaan Idul Fitri 1438 Hijriah, kali ini menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk bangkit kembali meneguhkan persatuan dan kesatuan bangsa, di tengah tantangan disintegrasi.Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Zulkifli Hasan, mengatakan Hari Raya Idul Fitri dapat menjadi momen untuk meningkatkan persatuan masyarakat."Momen Lebaran ada silaturahmi, yang manfaatnya agar orang yang tadinya marahan jadi bertemu dan urusan jadi 'cair'. Yang salah paham, jadi saling paham. Orang yang lagi marah, jadinya nggak marah lagi," ujar Zulkifli di rumah dinas Ketua MPR, Jalan Widya Chandra IV, Jakarta Selatan, Minggu.Mantan Menteri Kehutanan RI itu mengajak masyarakat memanfaatkan momen lebaran untuk mempererat silaturahmi, sehingga nilai-nilai saling menghormati dan menghargai kembali muncul dalam kehidupan sehari-hari, yang akhirnya memperkuat persatuan masyarakat. Silaturahmi yang menurut Zulkifli merupakan budaya asli Indonesia berisi nilai-nilai luhur yang harus terus dirawat. Oleh karena itu, Zulkifli mengajak untuk menjadikan Lebaran sebagai pencipta kedamaian di Indonesia.Hal senada disampaikan Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan yang mengajak masyarakat untuk introspeksi diri pada akhir Ramadan bagi kebaikan semua kalangan."Perayaan Idul Fitri tahun ini menjadi momentum untuk seluruh anak bangsa melakukan introspeksi kebangsaan dan pribadi, apa yang sudah dilakukan masing-masing untuk kemajuan bangsa," kata Taufik.Ia mengajak semua komponen bangsa bersatu dan bekerja sama dalam bingkai kebhinekaan serta menjadikan momentum Idul Fitri sebagai titik tolak mencapai tujuan tersebut.Di masa datang, Indonesia tak hanya butuh keunggulan di bidang ilmu dan pengetahuan namun juga keimanan dan ketaqwaan.Untuk itu tradisi silaturahmi dalam perayaan Idul Fitri menjadi salah satu tiang ukhuwah kebangsaan karena di dalamnya terdapat dialog yang harmonis di antara sesama dengan latar belakang kebhinekaan yang beragam.Bentuk silaturahmi salah satunya lewat "open house" yang digelar sejumlah pejabat seperti Presiden dan Wakil Presiden di Istana Negara maupun para menteri di rumah dinas masing-masing."Open House" bisa menjadi perekat persaudaraan antarsesama dan mengurangi kesenjangan antarkelas masyarakat.Cinta Tanah Air Khatib shalat Idul Fitri di masjid Istiqlal Quraish Shihab mengingatkan nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air adalah fitrah (naluri) manusia."Tanah air adalah ibu pertiwi yang sangat mencintai kita sehingga mempersembahkan segalanya buat kita, kita pun secara naluriah mencintainya. Itulah fitrah, naluri manusiawi, karena itu 'hubbu al-wathan minal iman', cinta tanah air adalah manifestasi dan dampak keimanan," kata Quraish.Di hadapan Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara, Iriana Joko Widodo beserta keluarga, Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta Ibu Mufidah Kalla dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Kerja dan pejabat tinggi negara lainnya. Ia menyampaikan persatuan dan kesatuan adalah anugerah Tuhan yang tidak ternilai.Sebaliknya, perpecahan dan tercabik-cabiknya masyarakat adalah bentuk siksa Allah, ujar Quraish."Tanah air kita terbentang dari Sabang sampai Merauke harus dibangun dan dimakmurkan serta dipelihara persatuan dan kesatuannya," kata Quraish.Kesatuan itu, menurut dia, memiliki tiga arti. Pertama, kesatuan seluruh makhluk karena semua makhluk kendati berbeda-beda namun semua diciptakan dan di bawah kendali Allah.Arti kedua, karena semua manusia berasal dari tanah sehingga semua manusia harus dihormati kemanusiaannya, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat walau mereka durhaka.Arti ketiga adalah kesatuan bangsa meski berbeda agama, suku, kepercayaan, maupun pandangan politik.Toleransi Idul Fitri juga menjadi momentum untuk membangun kembali toleransi antarumat beragama di Indonesia seperti yang ditunjukkan Gereja Katolik Maria Ratu Para Rasul Pamekasan, Jawa Timur lewat penyediaan parkir khusus bagi kendaraan umat Islam di halaman gereja itu, yang hendak menunaikan Shalat Idul Fitri di Masjid Agung As-Syuhada setempat.Menurut Romo Gereja Katolik Maria Ratu Para Rasul, Damianus Fadjar Tedjo Soekarno, selain menyediakan parkir gratis bagi jamaah masjid As-Syuhada yang menunaikan ibadah Shalat Idul Fitri, pihaknya juga menunda pelaksanaan misa.Untuk menghormati umat Islam yang merayakan Idul Fitri, misa di hari Minggu dipindah pada Sabtu sore.Setiap Hari Raya, baik Hari Raya Idul Fitri maupun Hari Raya Idul Adha, jamaah muslim yang melaksanakan Shalat Id di masjid terbesar se-Pamekasan itu, hingga memenuhi depan gereja yang hanya berjarak 800-700 meter itu.Pada pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1438 Hijriah, barisan jamaah yang Shalat Id di masjid itu memenuhi hingga di depan dan di samping pagar gereja.Gereja Katolik Santo Yusup Kabupaten Jember, Jawa Timur juga mengubah jadwal misa pada hari Minggu karena bertepatan dengan Lebaran untuk menghormati umat Islam yang beribadah Shalat Id di Masjid Jami Al Baitul Amin."Biasanya jadwal misa pada hari Minggu pukul 05.30 WIB dan pukul 07.30 WIB. Namun, karena hari ini bertepatan dengan momentum Lebaran, jadwal misa diubah pada pukul 16.00 WIB dan pukul 18.30 WIB untuk menghormati umat Islam yang Salat Idul Fitri," kata Ketua Musyawarah Antar-Gereja Ignatius Sumarwiadi di Jember, Minggu.Jarak Gereja Santo Yusup dengan Masjid Al Baitul Amin di alun-alun sekitar 300 sampai dengan 400 meter. Biasanya banyak kendaraan umat Muslim yang beribadah Salat Id diparkir di sekitar Gereja Santo Yusup, Jalan Kartini.Begitu juga dengan jemaat Gereja Kristen Injil Indonesia (GKII) Bengkulu yang mengosongkan dan menggeser jadwal ibadah pagi di gereja itu untuk memberikan kenyamanan bagi umat Muslim di Masjid Al Istiqomah melaksanakan ibadah shalat Idul Fitri.Apalagi posisi gereja berhadapan langsung dengan masjid Al Istiqomah di Jalan Merapi Raya, Kelurahan Kebun Tebeng.Pengurus masjid Al Istiqomah Kelurahan Kebun Tebeng, Mustakim mengapresiasi keputusan pihak gereja yang menggeser jadwal ibadah untuk menciptakan kenyamanan shalat Idul Fitri di masjid itu."Kami mengapresiasi kebijakan pengurus gereja untuk menciptakan suasana nyaman dan khusyuk beribadah shalat," kata Mustakim.Waspada Teroris Hari kemenangan yang seharusnya dirayakan dengan sukacita, ternoda dengan aksi tidak terpuji saat dua orang tidak dikenal menyerang personel Yanma Polda Sumut Aiptu Martua Sigalingging yang bertugas di pos jaga pintu keluar Mapolda Sumut pada Minggu dinihari sekitar pukul 03.00 WIB.Akibat penyerangan tersebut, Aiptu Martua Sigalingging meninggal dunia akibat luka cukup parah di dada, tangan dan lehernya.Namun kedua pelaku berhasil dilumpuhkan personel Satuan Brimob yang berjaga di pintu masuk Mapolda Sumut. Seorang pelaku tewas dan seorang luka tertembak.Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian mengungkapkan penyerang polisi di Mapolda Sumatera Utara di Medan, Minggu dinihari, merupakan sel dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD)."Ini disinyalir masih ada sel dari kelompok JAD yang punya inten, yang niat melakukan serangan di sana," kata Tito usai bersilaturahmi dengan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Negara Jakarta, Minggu.Kepolisian masih mengembangkan ke pelaku lain terkait penyerangan yang menyebabkan Aiptu M Sigalingging tewas.Terkait penyerangan itu, Kapolri mengaku telah memerintahkan seluruh jajarannya, baik kesatuan maupun pribadi, untuk memperkuat pengamanan masing-masing.Kapolri kembali mengingatkan kelompok itu selalu menyerang polisi yang dianggap sebagai "kafir harbi" atau kafir yang menyerangnya."Mereka berkali-kali sampaikan karena polisi dianggap 'kafir harbi', kafir yang menyerang mereka. Itu harus diprioritaskan," katanya.Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel mengatakan pihaknya telah mengetahui identitas pelaku yang berjumlah dua orang tersebut, termasuknya rumahnya yang telah digeledah pihak kepolisian.Dalam penggeledahan di rumah pelaku tersebut, pihak kepolisian menemukan beberapa dokumen tentang ISIS, termasuk senjata tajam, bendera dan video tentang ISOS."Disebutkan juga pelaku pernah ke luar negeri, Syria," kata Kapolda tanpa menyebutkan nama pelaku dan lokasi rumahnya.Dalam pemeriksaan di pos jaga Mapolda Sumut yang diserang, polisi menemukan dua pisau dapur yang masih baru. Satu pisau didapatkan dari tangan pelaku yang tewas ditembak, sedangkan satu lagi di tangan pelaku lain yang ditembak.Selain itu, polisi juga menemukan linggis, minyak bensin dan korek api yang digunakan untuk membakar pos jaga di pintu keluar Mapolda Sumut tersebut.Pemerintah Dukung Polri Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, pemerintah mendukung kepolisian menindak pelaku penyerangan di Mapolda Sumatera Utara.Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, penyerangan terhadap petugas kepolisian di Mapolda Sumut menandakan ancaman kian nyata."Seluruh pihak bergandengan tangan, mendukung aparat menegakkan hukum tanpa terkecuali untuk menciptakan rasa aman dan ketentraman bagi masyarakat mengingat tugas pemerintah melindungi segenap tumpah darah Indonesia," kata Hasto.Ia menyatakan masyarakat perlu mendukung Polri agar terorisme tidak tumbuh subur mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan memperkuat persatuan serta terus meningkatkan toleransi antarumat beragama. (Ant/q)