Gunung Sinabung dan Kepekaan Sosial Kita

- Sabtu, 18 Januari 2014 20:10 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/01/hariansib_Gunung-Sinabung-dan-Kepekaan-Sosial-Kita.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/Ist
Prof Dr Albiner Siagian
Prof. Dr. Albiner SiagianSudah empat bulan lebih Gunung Sinabung bergemuruh. Selama itu pula pertanyaan mendasar tentang perilaku gunung ini belum terjawab. Ambil saja contoh, “Apakah Gunung Sinabung benar-benar akan meletus? Atau, kalau jawabannya ‘Ya’, kapan diperkirakan akan meletus dan seberapa dahsyat?” Pertanyaan ini harus dijawab oleh ahli geologi dan kegempaan agar upaya antisipasi dampak dan penanganannya dapat dilakukan secara terencana dan sistematis. Dengan demikian, kerugian jiwa dan materil akibat bencana ini dapat diminimalisir.Lalu, informasi yang harus dibarukan kepada masyarakat setiap hari adalah berapa banyak jumlah pengungsi, di mana, bagaimana keadaannya, apa kebutuhannya. Ini adalah data minimal yang harus dikumpulkan agar upaya penanganan pengungsi dapat berjalan secara tepat sasaran.Di tengah kurang lengkapnya data tentang perilaku Gunung Sinabung dan dampaknya, muncul pula komentar di masyarakat yang mengesankan bahwa pemerintah daerah kurang sigap mengurus bencana ini. Pemerintah pusat pun dinilai kurang peka dan bertindak lambat menyikapi bencana ini. Konon, itu dikarenakan status bencana Gunung Sinabung masih bencana lokal, belum bencana nasional.Menurut penulis, status bencana, apakah lokal atau nasional, tidaklah tepat sebagai dasar penentu kepekaan dan ketanggapan dalam menyikapinya. Kepekaan dan sikap tanggap perlu segera ditunjukkan ketika sebagian warga tengah dirundung penderitaan. Sikap peka juga harus ditunjukkan pada waktu yang tepat.Kepekaan SosialKamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan peka sebagai mudah merasa, mudah terangsang. Selanjutnya, memeka berarti memedulikan, memerhatikan. Orang yang peka berarti orang yang mudah merasakan, juga orang yang peduli dan pemerhati. Sebaliknya orang yang tidak peka berarti orang yang sulit merasa, sulit terangsang. Untuk mudahnya, orang yang seperti ini disebut mati rasa.Dalam kaitannya dengan tingkat kepekaan kita terhadap suatu kejadian, termasuk bencana Gunung Sinabung ini, marilah kita simak urutan respons kita terhadap suatu peristiwa yang kita ketahui. Pertama adalah masa bodoh atau cuek atau tidak acuh. Inilah tingkat kepekaan yang terendah. Orang tipe cuek akan mengatakan “Itu bukan urusan saya!” Bahkan, orang yang cuek tidak menunjukkan ekspresi sedih terhadap kejadian sedih yang menimpa orang lain.Kepekaan tingkat kedua adalah atensi. Atensi menggunakan indra untuk merespons suatu kejadian. Misalnya, mau mendengarkan lebih jauh atau melihat lebih dekat. Intinya, orang tipe atensi ini mau mendengarkan dan memberi perhatian. Atensi lebih baik daripada cuek.Tingkat kepekaan berikutnya adalah simpati. Orang yang menaruh simpati menggunakan perasaannya untuk merasakan penderitaan atau kesusahan orang orang lain. Orang yang bersimpati, misalnya, akan mengatakan “Kasihan ya”! Atau, dia menyampaikan ucapan turut berduka cita atau memberikan kata-kata penghiburan terhadap orang yang berduka.Tingkat kepekaan keempat dan yang tertinggi adalah empati. Empati merupakan kemampuan untuk memosisikan diri secara mental dalam perasaan orang lain (yang biasanya mengalami kesusahan). Dia tidak berhenti di situ saja. Empati terwujud dalam tindakan yang dapat membantu meringankan beban orang lain yang menderita kesusahan.Pengungsi Gunung Sinabung tidak semestinya diacuhkan. Juga, mereka tidak hanya membutuhkan atensi dan simpati. Yang mereka lebih butuhkan saat ini adalah empati dari semua pihak. Dan, yang lebih penting lagi, empati itu harus ditunjukkan dalam waktu yang tepat: segera.Menyatakan simpati saat ini lalu berempati minggu depan hanyalah rupa dari keprihatinan. Salah-salah, itu dianggap basa-basi saja, apalagi itu dilakoni atas desakan publik. Oleh karena itu, semua pihak, baik pemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun masyarakat, agar memberikan simpati kepada korban bencana Gunung Sinabung. Marilah kita mengurus hal-hal yang amat penting dan mendesak. Janganlah memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan politik atau kepentingan kelompok. Masalah pengungsi adalah masalah kemanusiaan yang amat serius. Itu belum lagi ditambah dengan masalah yang akan kita hadapi pascapengungsian, yang tak kalah seriusnya.Lakukan analisis situasi dan berikan data yang lengkap dan benar. Janganlah saling menyalahkan! Jawablah pertanyaan mendasar berkaitan dengan perilaku Gunung Sinabung. Bertindaklah segera. Itu, antara lain, wujud nyata dari rasa kepekaan sosial kita terhadap korban bencana Gunung Sinabung. Mejuah-juah! (f)


Tag:

Berita Terkait

Opini

Usai Diguncang Gempa Besar, Kamchatka Rusia Dihantam Erupsi Gunung Api

Opini

Rapat Paripurna DPRD Sumut Penyampaian Ranperda RPJMD "Hujan" Interupsi Akibat Minim Kehadiran OPD

Opini

Gunung Lewotobi Erupsi, 115 Penerbangan di Bandara Ngurah Rai Bali Batal

Opini

Bandara Bali Lumpuh Sehari, 90 Penerbangan Dibatalkan Akibat Erupsi

Opini

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki Kembali Terjadi pada Kamis

Opini

Gunung Lewotobi Laki-Laki Erupsi, Warga Diimbau Waspada