Cuaca semakin tidak menentu di Kota Medan, suhu bisa mencapai 36 derejat celcius, kemudian bisa turun tiba-tiba dengan hujan intensitas tinggi, muncul banjir melanda Kota Medan. Lantas, matahari bersinar terang, langit cerah tanpa awan, kekeringan dan kegerahan.Kondisi ini sudah biasa terjadi dan menjadi rutinitas. Banjir melanda Kota Medan, masyarakat resah dan gelisah karena ratusan rumah terendam banjir. Habis banjir muncul suhu udara tinggi, masyarakat kegerahan dan terjadi kekeringan yang mengakibatkan sulit memperoleh air bersih. Aneh! Ketika banjir, terjadi bencana tanah longsor, banjir bandang, ditambah lagi dengan erupsi gunung berapi, gempa bumi sampai tsunami silih berganti. Anomali cuaca membuat warga Kota Medan tidak nyaman. Cuaca ekstrim melanda, selalu dan selalu dikatakan disalahkan alam. Benarkah alam yang salah? Benarkah semuanya itu fenomena alam? Sulit untuk cepat-cepat menyalahkan alam. Jawab yang pasti tidak sepenuhnya alam yang salah dan tidak sepenuhnya itu fenomena alam. Hal ini karena alam tidak berdiri sendiri, manusia dan semua makhluk hidup di bumi ini juga alam.Alam tidak berdiri sendiri dan manusia beserta makhluk hidup lainnya juga alam maka terjadinya anomali cuaca pada dasarnya juga salah manusia. Hal itu karena akibat ulah dari manusia itu sendiri maka terjadi cuaca ekstrim. Buktinya, Tuhan Yang Maha Esa telah mengingatkan manusia bahwa kerusakan di bumi dan di langit akibat ulah dari manusia dan manusia itu akan merasakan akibat dari ulah yang dilakukannya maka untuk itu manusia harus bertanggungjawab dan yang terbaik mari koreksi diri. Ingat! Cuaca ekstrim tidak terjadi begitu saja tanpa ada proses sebelumnya. Cuaca ekstrim terjadi akibat dari kerusakan alam yang dilakukan oleh manusia secara langsung maupun tidak langsung. Konsekwensinya manusia itu juga yang merasakan akibatnya dari cuaca ekstrim yang terjadi. Cuaca ekstrim, Suhu di Medan mencapai 36 derejat celcius menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Sumatera Utara, suhu 36 derejat celcius yang terjadi minggu pertama Juni 2014 ini adalah suhu tertinggi selama tahun 2014. Pada hal sebelumnya Kota Medan dilanda banjir sebab intensitas hujan yang turun cukup tinggi sehingga dreanase di Kota Medan tidak sanggup menampungnya maka terjadi banjir.Kerusakan Alam MengkhawatirkanFakta membuktikan bahwa apa yang terjadi pada alam itu harus melalui proses alami. Ketika alam tidak lagi berproses secara alami maka pada saat itu muncul istilah cuaca ekstrim. Alam harus seimbangan, imbang berimbang adalah proses yang terjadi secara alami. Untuk itu ketika cuaca ekstrim terjadi mari koreksi diri. Apa yang telah dilakukan sehingga terjadi cuaca ekstrim, suhu melebihi dari suhu rata-rata.Begitu banyak bukti dan fakta yang mendukung terjadinya suhu ekstrim sejak awal manusia merusak ekosistem alam. Manusia tidak menjaga lingkungan, tidak memelihara lingkungan hidup dimana manusia itu hidup. Cuaca ekstrim, anomal cuaca datang melanda kehidupan manusia disebabnya karena alam sudah rusak atau hutan sebagai paru-paru bumi sudah hilang.Faktanya, kondisi hutan alam di bumi ini sudah terganggu dan dalam skala nasional kondisi hutan alam Indonesia sudah rusak dan dalam skala regional yakni kondisi hutan alam di Sumatera Utara sudah punah. Harus intropeksi diri dan mari koreksi diri. Fakta yang ada harus dicermati, karena semakin hari kerusakan lingkungan hidup di Indonesia semakin parah. Fakta yang ada hari ini setiap detik hutan alam Indonesia terus hilang, ditebang tanpa memikirkan masa depan anak bangsa maka jika cuaca ekstrim yang datang melanda seperti suhu Medan mencapai 36 derejat Celcius tidak menjadi hal yang mengherankan.Hal yang segera dilakukan adalah membuat kebijakan tata kelola hutan dan lingkungan yang baik, kebijakan tata kelola hutan dan lingkungan sampai hari ini belum terlihat hasilnya meskipun banyak kritikan dari berbagai pihak seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), para akademisi di Perguruan Tinggi, para penggiat lingkungan dan pakar serta praktisi lingkungan belum mendapat respon yang baik.Apa yang ada sekarang ini harus diubah segera yakni memperbaiki alam yang rusak. Manusia haru segera mengkoreksi diri terhadap kesalahan dalam mengelola lingkungan. Tujuannya agar cuaca ekstrim, anomali cuaca tidak lagi terjadi. Fakta yang ada deforestasi (kehilangan hutan) setiap hari terus terjadi yang berkorelasi langsung dengan kondisi alam yang dirasakan semua manusia seperti cuaca ekstrim. Fakta yang ada dari tahun 1996-2003, laju deforestasi mencapai 3,5 juta hektare per tahun. Angka ini menunjukkan tingkat deforestasi masih tinggal, mencapai 15 persen.Bila sudah mengetahui deforestasi masih tinggi maka seharusnya luasan hutan di Indonesia tidak berkurang, minimal dapat dipertahankan dan yang terbaik jika bisa menambah luasan hutan di Indonesia. Mempertahankan, berarti tidak ada pengurangan, tidak ada yang hilang dan jika dapat bertambah luas hutan Indonesia.Suhu Medan Akan Semakin PanasSuhu Kota Medan akan semakin panas. Harus segera diperbaiki, diturunkan kepada posisi suhu Kota Medan dalam keadaan normal. Jangan sampai istilah "Masuklah Engkau Dalam Api Neraka" (Medan) menjadi kenyataan. Caranya, mari kita semua koreksi diri, memperbaiki semua yang salah. Suhu di Medan begitu panas sebab Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) saja belum terlaksana dengan baik. Seharusnya pada masing-masing daerah melakukan perbaikan tata kelola hutan di daerah, sehingga mampu mereduksi kerusakan hutan dan mensejahterakan masyarakat sebab 85 persen kawasan hutan ada di daerah, berbagai macam perubahan harus merupakan tanggung jawab daerah.Harus, tidak bisa ditawar-tawar Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Medan minimal 30 persen dari luas Kota Medan? Bila sudah ada minimal 30 persen maka mudah-mudahan dapat menyelamatkan lingkungan. Segera implementasikan karena secara kasat mata saja RTH di Kota Medan sudah jauh dibawah 20 persen maka pantasnya cuaca ekstrim melanda Kota Medan.Hentikan, jangan lagi RTH di Kota Medan terus berkurang. Lihat saja, sekitar tiga tahun lalu di daerah Medan Estate masih merupakan RTH yang baik. Namun, kini RTH itu telah berganti dengan bangunan. Seiring dengan hilangnya RTH itu perubahan iklim terjadi dari yang dahulu di kawasan Medan Estate sejuk kini bergeser menjadi gerah dan akan terus berubah dari gerah kepada panas. Dahulu kawasan itu tidak sejuk dan nyaman dan ketika hujan tidak pernah banjir karena keseimbangan alam masih terjaga, masih memiliki daerah resapan air yang luas.RTH yang hilang, muncullah cuaca ekstrim. Suhu udara di Medan bisa sampai 36 derejat celcius. Luar biasa. Hati-hati, masyarakat harus mengurangi aktivitasnya yang langsung terkena sinar matahari, memperbanyak minum air putih untuk mengatasi kekurangan cairan tubuh dan mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung air. Selanjutnya segera perbaiki lingkungan yang sudah rusak, selamatkan hutan dari kepunahan karena sesungguhnya merusak lingkungan adalah membunuh kita semua secara tidak langsung. (Penulis adalah Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan, aktivis lingkungan hidup di Sumatera Utara/d)