Tak Semua LSM Bermasalah

Fokus
Redaksi - Minggu, 02 Februari 2020 11:21 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_1778_Tak-Semua-LSM-Bermasalah.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
zonasultra.com
Ilustrasi

2

Riset Edelman Trust Barometer menunjukkan fakta penurunan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Pada 2014, tingkat kepercayaannya 73 persen. Namun setahun setelah itu turun menjadi 64 persen, lalu turun lagi menjadi 57 persen pada 2016. Meskipun sempat naik pada 2017, tingkat kepercayaannya masih lebih rendah ketimbang sektor bisnis, media, dan pemerintahan.

Pada masa lalu, LSM berada di garis terdepan dalam mengadvokasi dan mengedukasi masyarakat. Dalam perjuangannya, organisasi non-pemerintah ini sering kali harus berhadapan dengan aparat. LSM dianggap sebagai "pahlawan" dalam memperjuangkan aspirasi rakyat.

LSM berperan sebagai agen perubahan di akar rumput. Tugasnya bukan hanya melakukan pembelaan saat warga berhadapan dengan kekuasaan. Mereka juga menghadirkan pencerahan dalam berbagai aspek kehidupan.

Ada yang bergerak dalam pelestarian lingkungan hidup. Dalam aktivitasnya, LSM kadang berhadapan dengan perusahaan perusak hutan, mafia kayu dan oknum aparatur yang nakal. Tak sedikit yang aktivis yang menjadi "korban" saat mengadvokasi lingkungan.

Saat rakyat dalam keterbatasan seperti kemiskinan dan minim fasilitas, LSM membantu masyarakat. Mereka menggandeng donatur dari dalam dan luar negeri untuk menolong rakyat kecil. Itu menjadi masa keemasan bagi LSM, yang kehadirannya dirindukan dan disambut baik.

Setelah reformasi, LSM tumbuh bagai cendawan di musim hujan. Banyak yang berminat menjadi aktivis tanpa memahami hakekat menjadi LSM. Terjadi pergeseran peran dari advokasi dan pencerahan, menjadi "mencari kasus" mengatasnamakan pengawasan publik.

Citra LSM menjadi jelek dengan kehadiran oknum-oknum yang menjadikan uang sebagai tujuan. Saat mendampingi kasus, tak bisa dibendung muncul kecurigaan tentang motivasi yang sesungguhnya. Belum lagi isu yang dihembuskan tentang LSM sebagai antek asing, karena menerima donasi dari luar negeri.

Perlu dicatat, tidak semua LSM bermasalah dan motifnya uang. Masih banyak yang bergerak secara sungguh-sungguh di akar rumput melakukan pendampingan terhadap rakyat kecil. Jangan hanya karena oknum nakal, lalu menggeneralisir semua telah salah.

LSM sendiri telah berupaya menegaskan beda yang "benar" dan yang "palsu". Mereka yang benar memiliki kode etik dan tujuan memberdayakan, bukan memperdaya. Pemerintah sebaiknya membentuk tim menertibkan oknum dan organisasi yang mengatasnamakan LSM demi kepentingan pribadinya. (**)

Berita Terkait

Opini

Ketika Anggaran Negara Berbicara

Opini

100 Anak Yatim Terima Santunan di PTPN IV Regional II Kebun dan PKS Pulu Raja

Opini

Ramadan Berkah, Prima Group Berbagi dengan 30 Panti Asuhan di Medan

Opini

Polisi Mintai Keterangan Saksi dan Korban Kasus Dugaan Keracunan Makanan Mie Tek Tek

Opini

Petani Kesal, Pupuk Urea Langka di Saribudolok

Opini

Patroli Asmara Subuh, Timsus Dayok Mirah Amankan Tiga Motor Berknalpot Brong di Siantar