(harianSIB.com)
Setiap musim hujan ekstrem tiba, kabar duka tentang banjir dan longsor seolah menjadi tamu rutin yang tak diundang. Ruang publik kita dipenuhi jeritan korban dan data kerugian. Kita terbiasa menyebutnya sebagai "bencana alam", berduka sejenak, lalu melupakannya hingga musim hujan berikutnya datang.
Padahal, maraknya bencana hidrometeorologi? banjir, longsor, hingga kekeringan, bukan semata amukan iklim. Bencana ini adalah buah dari pilihan politik atas tata kelola tanah. Di tengah situasi inilah, sejarah Tapanuli dan pemikiran visioner Mangaradja Hezekiel (MH) Manullang menemukan relevansinya yang paling mendesak.
Baca Juga: Dinkes Sumut Paparkan Penanganan Banjir dan Longsor di 17 Daerah MH Manullang (Foto Dok/Tim MHM)
Editor
: Bantors Sihombing