(harianSIB.com)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari kesadaran bahwa pembangunan bangsa tidak dapat dilepaskan dari kualitas manusianya. Selama bertahun-tahun, persoalan gizi anak usia sekolah masih menjadi tantangan serius, mulai dari stunting, kekurangan protein, hingga anemia pada remaja. Di banyak wilayah, terutama dari keluarga berpenghasilan rendah, anak datang ke sekolah tanpa sarapan memadai. Kondisi ini berdampak langsung pada konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, serta prestasi akademik. MBG hadir bukan sekadar sebagai program bantuan makanan, melainkan sebagai intervensi kebijakan publik yang menyasar akar persoalan pembangunan manusia. Negara tidak hanya memberi makan, tetapi menanam investasi pada masa depan.
MBG dapat dipahami sebagai investasi gizi jangka panjang yang diarahkan untuk menopang lahirnya generasi unggul Indonesia. Asupan nutrisi pada masa anak dan remaja sangat menentukan perkembangan otak, pertumbuhan fisik, serta stabilitas emosi. Kekurangan gizi pada fase ini sering menimbulkan dampak permanen, mulai dari penurunan kapasitas kognitif hingga meningkatnya risiko penyakit kronis di usia dewasa. Sebaliknya, anak yang mendapatkan makanan bergizi seimbang memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat, cerdas, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Dalam perspektif inilah MBG bukan sekadar program konsumsi harian, melainkan investasi strategis yang hasilnya akan terlihat dalam jangka panjang melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia nasional.
MBG juga berfungsi sebagai instrumen transformasi kualitas SDM dari ruang yang paling sederhana, yaitu meja makan sekolah. Selama ini sekolah lebih sering dipahami sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan. Namun melalui MBG, sekolah sekaligus menjadi ruang intervensi kesehatan publik dan pembentukan kebiasaan hidup sehat. Anak tidak hanya belajar mata pelajaran formal, tetapi juga memperoleh jaminan nutrisi dasar untuk menunjang proses belajar tersebut. Dengan perut kenyang dan tubuh sehat, siswa lebih fokus mengikuti pelajaran, tingkat kehadiran meningkat, dan kelelahan di kelas berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran, angka kelulusan yang lebih baik, serta kesiapan siswa menghadapi pendidikan lanjutan dan dunia kerja.
Dampak MBG tidak berhenti pada aspek kesehatan dan pendidikan, melainkan menjalar ke sektor produktivitas nasional. Gizi yang baik berkorelasi langsung dengan kemampuan belajar, penguasaan keterampilan, dan kapasitas kerja di masa depan. Anak yang tumbuh sehat memiliki peluang lebih besar menjadi tenaga kerja yang kuat, kreatif, dan inovatif. Dengan demikian, MBG menciptakan efek domino pembangunan, dari gizi menuju kesehatan, dari kesehatan menuju kualitas pendidikan, dari pendidikan menuju produktivitas ekonomi. Dalam perspektif makro, peningkatan kualitas SDM ini berpotensi menekan biaya kesehatan jangka panjang, mengurangi kehilangan produktivitas akibat penyakit, serta meningkatkan output tenaga kerja nasional.
Baca Juga: Kasus Keracunan Makanan MBG, BGN Hentikan Sementara SPPG Sidikalang Efek domino tersebut juga terlihat dalam rantai ekonomi yang terbentuk dari pelaksanaan
MBG. Penyediaan makanan untuk jutaan siswa membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Hal ini membuka peluang luas bagi petani, peternak, nelayan, koperasi, hingga pelaku UMKM pangan untuk terlibat sebagai penyedia bahan baku maupun pengolah makanan. Jika desain program mendorong penggunaan produk lokal, maka perputaran ekonomi daerah akan meningkat. Permintaan beras, telur, ikan, sayur, dan buah dari program sekolah dapat menjadi pasar stabil bagi produksi rakyat. Dengan demikian,
MBG tidak hanya meningkatkan kualitas
gizi anak, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan lokal dan memperluas kesempatan usaha masyarakat.
Dari sisi kebijakan publik, MBG dapat diposisikan sebagai kebijakan strategis yang menghubungkan tiga sektor utama pembangunan sekaligus, yaitu kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Di bidang kesehatan, program ini membantu menurunkan risiko malnutrisi serta gangguan pertumbuhan. Di bidang pendidikan, MBG meningkatkan kesiapan belajar, konsentrasi siswa, serta partisipasi sekolah. Sementara di bidang ekonomi, MBG menciptakan permintaan pangan, membuka lapangan kerja distribusi makanan, serta memperkuat jaringan produksi lokal. Integrasi lintas sektor ini menjadikan MBG bukan program sektoral semata, tetapi kebijakan terpadu yang memperkuat struktur pembangunan nasional secara menyeluruh.