Peringatan Hari Sejuta Pohon Macan Ompong di Hutan Gundul Danau Toba

Oleh: Estimihi Hutagalung
- Senin, 24 Februari 2014 19:30 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/02/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
"DANAU Toba menangis, Danau Toba menjerit, siapa yang mau dengar?" (Marandus Sirait)Masyarakat Internasional, setiap 10 Januari, diingatkan pada salah satu aspek sosiohumanitasnya dengan pencanangan Hari Sejuta Pohon. Dari tahun ke tahun, hari peringatan akan pentingnya pohon dan pelestarian hutan, sepertinya tidak dirayakan dengan selebrasi yang riuh. Instansi pemerintah dengan kementarian terkait, tidak telalu banyak kegiatan. Mungkin, karena masyarakat kita sudah terbiasa dengan "doktrin" selebrasi, maka pemaknaan akan hari tersebut, tidak begitu kuat memengaruhi persepsi dan tindakan nyata pemerintah dan masyarakat. Justru, kerusakan hutan semakin parah. Pemerintah sepertinya ketakutan atas gertakan sang "Raja Hutan".Setidaknya, perjuangan Marandus Sirait, Hasoloan Manik, Wilmar Simandjorang dengan mengembalikan penghargaan Kalpataru kepada Presiden dan Kementerian Kehutanan serta Gubernur, menjadi bukti bahwa kerusakan alam Danau Toba sudah sangat memprihatinkan. Dan kita bersyukur, jika Universitas Gadjah Mada (UGM) memilih Marandus Sirait sebagai salah satu penerima Anugerah UGM 2013 pada 20 Desember lalu.Danau Toba MenjeritPeran Danau Toba begitu penting dalam dukungan fundamental kehidupan masyarakat di daerah Tapanuli. Hal itu bertumpu pada aspek kebutuhan primer dengan menjadikan Danau Toba sebagai sumber mata pencaharian melalui cara-cara tradisional sebagaimana dilakukan para nelayan maupun cara modern dengan segala dampaknya termasuk pencemaran air danau yang indah tersebut.Industri parawisata dan pihak kapitalis telah menjadikan keindahan dan dan hutan sekitar Danau Toba sebagai lahan subur dalam meraup kuntungan sebanyak-banyaknya. Suatu aspek hidup pada nilai postulat Kapitalisme bahwa uang adalah segala-galanya. Termasuk pada fetisisme Marxisme bahwa nilai-nilai alam, nilai yang bersifat rohani akan dapat menjadi sebuah komoditi pasar dalam suatu keinginan pada pencapaian uang yang sebanyak-banyaknya.Realitas postulat Marxisme demikianlah yang saat ini sangat kuat mengubah nilai-nilai hidup di daerah Danau Toba termasuk memengaruhi nilai-nilai religi yang diwarisi orang Batak. Itulah sebabnya, setiap tahun, hutan di sekitar Danau Toba semakin gundul. Dan keindahan serta "kejernihan" air Danau Toba semakin hambar.Dalam konteks demikianlah, Marandus Sirait dalam suatu wawancara dengan Suara Pembaruan (11 September 2013), menyatakan keprihatiannnya terhadap Danau Toba. Menurut tokoh yang telah mengembalikan piagam penghargaan Kementerian Kehutanan ini, bahwa "Danau Toba menangis, Danau Toba menjerit, siapa yang mau dengar?" Macan OmpongTentu saja kemauan Kementerian Kehutanan dalam kerjasama dan membuat MoU dengan HKBP, sebagaimana diberitakan media ini, Minggu (05/01), perlu disyukuri. Tetapi, kita belum tahu bagaimana proses dan apa hasil yang dicapainya. Sebab pada kenyataannya, ada banyak pihak yang sudah "berlomba-lomba" menanam pohon di hutan sekitar Danau Toba. Tetapi, faktanya, pengaturan dan pemeliharaan pohon yang ditanam tersebut tidak maksimal.Dan ukuran terhadap mulianya program kementerian kehutanan tentu saja tidak didasarkan seberapa banyak pohon yang ditanam. Tetapi seberapa kuat komitmen untuk merawat, menjaga demi pertumbuhannya. Dan hal pokok penting yang seharusnya dikerjakan Pemerintah dengan jajaran terkait, yaitu komitmen politik dan konsistensi tindakan untuk membatasi ruang gerak para pelaku fetisisme postulat Marxis. Pemerintah harus dengan tegas melarang penebangan hutan dan membuat upaya maksimal dalam pelestarian alam Danau Toba.Tetapi, perjuangan dan pengembalian tanda penghargaan Kapaltaru menjadi fakta rasa ketidak sungguhan pemerintah dalam perjuangan pelestarian hutan dan alam sekitar Danau Toba. Mungkinkah, pemerintah dengan kementerian terkait adalah "Macan Ompong" yang berteriak di hutan gundul Danau Toba?Seruan PropehtisPentingnya peringatan hari Sejuta Pohon menjadi serua propethis pentingnya pelestarian hutan sebagai bagian fundamental kehidupan yang Tuhan berikan. Kesadaran sosioreligius tersebut bukan bersifat temporal dan pragmatis parsial. Sebab, hutan di kawasan Danau Toba adalah bagian "paru-paru dunia" demi dukungan kelestarian alam dan hidup masyarakat di sekitarnya.Jika demikian halnya, maka komitmen, konsistensi Pemerintah dengan kementerian terkait dalam panggilan konstitusional serta nilai-nilai religiositas pejabatnya harus didorong untuk mewujudkan tugas menyejahterakan masyarakat. Bahkan komitmen politik Presiden sebagai aktor penting untuk mewujudkan tugas mulia tersebut harus dipertaruhkan.Dan tentu saja, kemauan dan niat mulia dari pribadi-pribadi, lembaga sosial keagamaan, LSM, yang selalu berjuang dan melakukan penanaman pohon harus terus digelorakan. Serta pentignya upaya penyadaran peran aktif masyarakat dalam pelestarian alam. Masyarakat harus disadarkan pada paradigma bahwa alam adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Jika alam rusak maka kehidupan masyarakat rusak. Alam bukan hanya berfungsi ekologis tetapi ekonomis, menjadi sumber mata pencaharian yang harus dilestarikan. Sehingga seruan prophetis demikian menjadi daya proteksi yang kuat untuk melawan mereka yang selalu menghirup nilai-nilai postulat Marxis. (r)


Tag:

Berita Terkait

Opini

BMKG: 20 Kabupaten di Sumut Rawan Longsor Maret 2026

Opini

Lapas Narkotika Pematangsiantar Peringati Isra Mi'raj

Opini

Rico Waas: Keteladanan Pemimpin Jadi Kunci Bangun Budaya Antikorupsi

Opini

Kapolres Pematangsiantar Pimpin Upacara Peringatan Hari Ibu Tahun 2025

Opini

Peringati Hari Bela Negara Ke-77, Polres Tanjungbalai Teguhkan Komitmen Jaga Keutuhan Bangsa

Opini

PLTA ESS Sipulak Keluarkan Peringatan Waspada Banjir Bandang ke Arah Barus