Ikhtiar Menampik Ancaman Krisis Listrik

Oleh : Hanni Sofia
- Senin, 10 Maret 2014 12:42 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/03/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Jakarta (SIB)- Tidak seimbangnya pertumbuhan pasokan dengan beban listrik menjadikan ancaman krisis sebagai sebuah keniscayaan.Fenomena "byar pet" yang mulai sering terjadi di wilayah Sumatera Utara adalah indikasi serius krisis listrik yang niscaya menyebar hingga Jawa-Bali sebagai pusat beban listrik terbesar di Tanah Air.Studi yang dilakukan PT PLN belum lama ini menunjukkan krisis listrik berpotensi terjadi pada 2018 akibat pertumbuhan beban listrik yang terus meningkat dengan pertumbuhan per tahun yang mencapai sekitar sembilan persen.Sekretaris Perusahaan PT Perusahaan Listrik Negara Adi Supriono mengatakan jika angka sembilan persen itu dikonversikan ke angka 2000 MW, maka krisis listrik dipastikan terjadi."Jika ada tambahan naik 2000 MW, kita masih ada cadangan, tapi kalau tidak ditambah dengan pembangkit listrik, sementara beban naik terus, maka sekian tahun nanti tidak akan mungkin tercukupi," kata Adi.PLN sendiri sudah berikhtiar membangun pembangkit listrik untuk mengimbangi lonjakan permintaan, namun nyatanya tidak berjalan sesuai rencana.Bahkan banyak pengamat menilai pengerjaan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang tidak tepat waktu dinilai sebagai salah satu penyebab ancaman krisis listrik di Pulau Jawa. Pengamat kelistrikan Institute for Essential Services Reform (IESR) Feby Tumiwa menyatakan PLN harus menyusun rencana agar krisis listrik bisa diantisipasi."Itu PLTU terbesar kalau kita lihat, 2000 Mega Watt, rencananya tadinya masuk tahun 2016 tapi kita tahu ada masalah dalam pembebasan lahan sehingga paling cepat 2018-2019. Sebenarnya kalau kita lihat suplai listrik dalam 5 tahun mendatang, artinya dari pembangkit-pembangkit yang masuk memang masih kurang. Ini membuat situasi ancaman semakin serius," kata Faby Tumiwa.Berdasarkan data rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PLN kebutuhan listrik di Indoneisa pada 2014 mencapai 225,4 tera watt hour (Twh) terdiriatas Jawa Bali 174,9 Twh dan luar Jawa Bali sebesar 50.5 Twh. Sementara, pada 2018 permintaan listrik nasional diperkirakan mencapai 325,2 Twh terdiri dari Jawa Bali 250,9 Twh dan luar Jawa-Bali 74,3 persen.Pertumbuhan listrik nasional pada 2014 diperkirakan mencapai 9,8 persen, namun untuk Jawa-Bali diperkirakan mencapai 9,7 persen dan luar Jawa-Bali sebesar 10,2 persen. Ada pun target rasio elektrifikasi nasional pada 2014 diperkirakan mencapai 80,4 persen, terdiri atas di Jawa-Bali mencapai 84,2 persen dan luar Jawa-Bali sebesar 74,2 persen. Pada 2018, target rasio elektrifikasi nasional meningkat menjadi 95,5 persen, di Jawa-Bali sebesar 97,3 persen dan luar Jawa-Bali mencapai 92,7 persen.Dihadang KendalaKrisis listrik dipastikan bakal terjadi jika tidak ada upaya serius menambah pasokan dan infrastruktur listrik yang memadai.PLTU Batang (Jawa Tengah) yang selama ini digadang-gadang mampu memasok 2x1000 MW nyatanya dihadang masalah pembebasan tanah yang belum selesai. PLTU Batang bahkan ditargetkan menjadi menjadi pembangkit listrik terbesar di Indonesia karena menghasilkan 2.000 megawatt dari dua PLTU.Pada awal rencananya, pembangunan PLTU yang diperkirakan membutuhkan total dana Rp35 triliun dan dimulai proses pembangunannya pada 6 Oktober 2013, sayangnya sampai kini masih tertunda karena masalah pembebasan lahan warga.PLTU Batang sendiri merupakan bagian dari Proyek Percepatan Pembangunan PLTU Batubara 10.000 MW Tahap I.Proyek yang dinamakan Fast Track Program (FTP) Tahap I itu seharusnya sudah selesai seluruhnya pada 2010, namun PLN sendiri menyatakan rampungnya proyek bakal molor dari batas waktu yang ditentukan sebelumnya.Selain masalah pembebasan lahan, proyek pembangunan 35 pembangkit listrik itu mengalami berbagai masalah lain mulai dari proses perizinan panjang hingga standar baku dan pendanaan.Masalah alat menjadi hambatan lainnya, karena proyek juga terkendala masalah ketersediaan peralatan, material, maupun SDM akibat pembangunan yang dilakukan secara serentak.Apalagi, standarisasi peralatan pembangkit yang dibuat oleh China berbeda dengan standar internasional yang selama ini digunakan oleh PLN sehingga harus dilakukan peneraan kembali soal standar.Kendala-kendala itulah menyebabkan rencana proyek percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW tahap II (FTP Tahap II) belum bisa berjalan.Padahal proyek FTP Tahap II itu seharusnya sudah dimulai pada 2012 dan ditargetkan bisa selesai pada 2018. Rencananya, 70 persen akan berasal dari energi terbarukan yaitu kombinasi dari panas bumi (geotermal) dan air serta 30 persen batubara.PLN akhirnya menerapkan terobosan menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk pembangkit listrik.Akibatnya, biaya produksi pun membengkak jika dibanding memakai energi dasar dari batubara dan gas. Hal itulah yang kian signifikan membuat PLN harus mengeluarkan anggaran operasional lebih besar.Sepanjang tahun 2013, PLN menghabiskan 7,47 juta kiloliter BBM untuk seluruh pembangkit listriknya di Indonesia akibat terhentinya pasokan gas untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Belawan pada Juli 2013.Jumlah tersebut lebih tinggi 12.000 kiloliter dari target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) perubahan yang diajukan perseroan.Oleh sebab itu, tahun ini PLN akan lebih fokus konversi energi dari BBM ke batubara dan gas sebagai salah satu bentuk penghematan.Kendala lainnya adalah proyek transmisi kabel bawah laut Jawa-Sumatera yang telat terealisasi melebihi target pada 2017, juga menjadi faktor Jawa-Bali terancam kekurangan pasokan listrik. Tambah PasokanMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan untuk mengatasi krisis listrik di Jawa-Bali harus ada tambahan sebesar 5.000 mega watt atau 4.000 mw setiap tahun."Ekonomi membaik, pabrik makin banyak, mall makin banyak, hotel makin banyak tapi jumlah penyediaannya kurang," katanya.PLN sendiri optimistis pasokan listrik akan bertambah sebesar 3.122 MW dari pembangkit listrik yang baru beroperasi. Direktur Utama PT PLN (Persero), Nur Pamudji mengatakan tambahan listrik tersebut paling banyak berasal dari pembangkit yang menggunakan sumber energi batu bara."Pembangkit totalnya 2592 +530 MM, macam-macam, terbesar batu bara, gas, PLTA, nanti ada  PLTP Patuha 55 MM masuk petangahan tahun," kata Nur.Pemerintah sudah menargetkan tambahan kapasitas daya pembangkit listrik pada 2014 mencapai 3.605 MW atau meningkat 7,6 persen dibandingkan 2013.Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman mengatakan, pada 2013, kapasitas daya terpasang pembangkit listrik mencapai 47.128 MW."Tahun ini, rencana kapasitas daya pembangkit akan bertambah 3.605 MW, sehingga pada akhir tahun, total kapasitas terpasang menjadi 50.733 MW," ucapnya.Menurut dia, tambahan daya pembangkit pada 2014 tersebut berasal dari proyek percepatan 10.000 MW tahap satu dan dua.Ia mengatakan, proyek percepatan tahap dua akan mulai beroperasi pertama kali pada 2014."Proyek pertama yang beroperasi adalah PLTP Patuha berkapasitas 55 MW mulai Juni 2014," ujarnya.Banyak memang ikhtiar dan rencana untuk mengantisipasi krisis listrik yang dipastikan menjelang, namun realisasinya harus benar-benar dilaksanakan untuk menjamin kecukupan pasokan bagi pelanggan.(Ant/c)

Berita Terkait

Opini

Ketika Anggaran Negara Berbicara

Opini

100 Anak Yatim Terima Santunan di PTPN IV Regional II Kebun dan PKS Pulu Raja

Opini

Ramadan Berkah, Prima Group Berbagi dengan 30 Panti Asuhan di Medan

Opini

Polisi Mintai Keterangan Saksi dan Korban Kasus Dugaan Keracunan Makanan Mie Tek Tek

Opini

Petani Kesal, Pupuk Urea Langka di Saribudolok

Opini

Patroli Asmara Subuh, Timsus Dayok Mirah Amankan Tiga Motor Berknalpot Brong di Siantar