Siswa Indonesia Jadi Diplomat dalam Simulasi Sidang PBB

Oleh : Bambang Purwanto
- Jumat, 14 Maret 2014 20:09 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/03/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
TUJUH siswa sekolah menengah atas dari Sekolah Indonesia Nederland (SIN), Belanda, mewakili Indonesia dalam simulasi sidang Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Den Haag, Belanda yang diselenggarakan pada 27 hingga 31 Januari 2014 lalu.Sidang PBB bagi para siswa sekolah menengah atas ini bernama “The Hague International Model United States” (THIMUN) atau Simulasi PBB Internasional Den Haag yang merupakan konferensi lima hari, di mana setiap delegasi siswa mewakili negara tertentu yang berbeda dari negara asal mereka.THIMUN 2014 mengambil tema "Africa,Transformations and Challenges Ahead" atau "Transformasi dan Tantangan Afrika  ke Depan"."Siswa SIN adalah wakil Indonesia yang pada simulasi sidang PBB tersebut berperan mewakili Brunei Darussalam," kata pembina siswa SIN Safreni C Sari.Di simulasi sidang PBB tersebut, para peserta yang terdiri atas  3.500 siswa dari 100 sekolah di seluruh dunia, bermain peran sebagai diplomat yang mewakili negara tertentu atau organisasi internasional PBB seperti Majelis Umum, Konferensi Khusus dan Dewan Keamanan.Safreni menjelaskan  pada THIMUN 2014, Indonesia melalui Sekolah Indonesia Nederland, yang terletak di kota Wassenar, Belanda, mengirim tujuh siswa sekolah menengah atas. Mereka adalah Humam Syauqi Dawaa (16), Royyan Abdullan Dzakiy (17), Hagar Masae (17), Ardiana Callista Prima (19), Nadhira Zhafirany (17), Nafil Rabbani Attamimi (17) dan Bilal Masae (19)."Mereka dibagi dalam tiga bagian sidang PBB yakni Majelis Umum, Komisi PBB serta konferensi khusus yang membahas berbagai permasalahan dunia meliputi politik, ekonomi, budaya dan lingkungan," jelas Safreni.Konferensi Khusus Komisi 1 yang membahas pembangunan Afrika diwakili oleh Humam Syauqi Dawaa."Di forum ini, peserta harus menguasai permasalahan politik dan sosial Afrika secara keseluruhan sehingga pada saat sidang bisa memberikan gagasan dan menanggapi pendapat peserta lain secara baik," ujarnya.Hal senada juga diungkapkan oleh Royyan Abdullah Dzakiy yang berperan sebagai diplomat Brunei Darusalam dalam Majelis Umum 4 bidang Politik Khusus dan Dekolonisasi."Kita berbicara masalah politik dunia yang tidak ringan. Tapi inilah tantangannya," kata Royyan seraya menambahkan bahwa tim THIMUN 2014 tidak hanya berlatih untuk menyampaikan pendapat dalam Bahasa Inggris tapi juga belajar menguasai segala isu internasional yang berkaitan dengan tema THIMUN tahun ini.Forum lainnya yang diikuti siswa SIN adalah Sub Komisi 1 bidang pelucutan senjata dan Sub Komisi 1 bidang Hak Asasi Manusia yang masing-masing diikuti Hagar Masae dan Ardiana Callista Prima.Sementara Nadhira Zhafirany bersidang di Majelis Umum 1 bidang Keamanan Internasional dan Pelucutan Senjata. Sedangkan Nafil Rabbani Attamimi dan Bilal Masae berpartisipasi di Majelis Umum 2 dan 3 yang membahas isu sosial, kemanusiaan dan budaya.DiplomatSebagai delegasi dari Brunei Darussalam, Nadhira terpilih sebagai Duta Besar negara tersebut yang harus berperan layaknya diplomat.Safreni menguraikan selama masa persiapan para siswa melakukan riset tentang isu-isu yang menjadi topik sidang PBB sehingga memiliki cukup pengetahuan sebagai dasar mempertahankan pendapat dan merumuskan resolusi.Para delegasi juga harus mengenal profil negara yang diwakili sehingga dapat memberi kontribusi kepada  negara tersebut dalam menyelesaikan konflik internasional yang dibahas.Sebagai "diplomat dari Brunei Darussalam", Nadhira mengatakan tidak mudah menjalankannya karena harus mengenal dengan baik negara yang diwakili selain juga menguasai permasalahan yang dibahas dalam forum internasional."Bahasa Inggris yang digunakan harus benar-benar resmi, bukan seperti dalam percakapan sehari-hari," ujar Nadhira.Oleh sebab itu menurut Safreni, partisipasi para siswa dalam kegiatan pemuda internasional ini adalah kesempatan bagi mereka untuk belajar dan mengasah banyak kemampuan seperti berkomunikasi dalam bahasa asing, menajamkan pemikiran secara kritis, meluaskan pergaulan, wawasan dan pandangan terhadap masalah yang sedang dihadapi masyarakat dunia."Mereka dilatih untuk mendengarkan, mengambil keputusan berdasarkan pemikiran rasional serta harus mengungkapkan gagasan dengan cara yang resmi," ujar Safreni.Hagar mengatakan selama mengikuti ajang internasional tersebut rasa tanggung jawab sosial dalam dirinya semakin kuat karena perannya  sebagai diplomat dalam simulasi sidang PBB tersebut mendorong dia untuk memikirkan masa depan masyarakat dunia."Kepemimpinan juga semakin terbangun karena kita harus berbicara di depan ribuan orang dengan bahasa resmi untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi dan mempertahankan argumen kita," katanya.Pada akhirnya, para delegasi harus saling melakukan pendekatan kepada delegasi negara-negara lain dalam menawarkan resolusi yang telah dirumuskan untuk memperoleh suara terbanyak selama Sidang Majelis Umum PBB."Kita harus melakukan lobi-lobi dengan negara lain. Kemampuan Bahasa dan menyampaikan pendapat sangat diperlukan di bagian ini," kata Ardiana.Partisipasi SIN dalam THIMUN merupakan kegiatan tahunan sejak beberapa tahun lalu yang terbuka bagi seluruh siswa. Para siswa yang tertarik untuk ikut simulasi sidang PBB itu  harus menjalankan beberapa tes  seleksi yang meliputi kemampuan berbahasa Inggris, penguasaan isu internasional serta penilaian karakter moral yang kuat untuk mencari solusi keadilan terhadap masalah yang dihadapi masyarakat luas. (Ant/f)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


Tag:

Berita Terkait

Opini

4 Siswa Indonesia Raih Medali di Olimpiade Kimia Dunia

Opini

10 Mahasiswa Indonesia Berguru ke Perusahaan Teknologi AS

Opini

Menag Ajak Mahasiswa Indonesia di Mesir Tebarkan Ajaran Islam Wasathiyyah

Opini

Mahasiswa UGM Ikuti Simulasi Sidang PBB di Skotlandia

Opini

Kedubes Jepang Buka Penawaran Beasiswa Bagi Mahasiswa Indonesia

Opini

Ketum PBNU Titip Mahasiswa Indonesia ke Grand Syeikh Al Azhar