"Blusukan" Antar Jokowi Jadi Capres

Oleh Edy M Ya’kub
- Selasa, 18 Maret 2014 18:55 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/03/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Surabaya (SIB)- Adalah seorang khalifah (pemimpin negara) Umar bin Khatthab yang juga sahabat dekat Nabi Muhammad SAW sangat peduli kepada rakyatnya. Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khatthab memilih untuk melakukan “blusukan” (keluar-masuk kampung) guna melihat langsung keadaan rakyatnya dan “mendengar” langsung keluhan rakyat.Bahkan, sang khalifah dengan didampingi seorang ajudannya sering menyamar sebagai rakyat jelata. Ia pernah mendatangi gubuk yang dihuni seorang janda yang anak-anaknya terdengar menangis keras.“Kenapa anak-anak ibu menangis?,” tanya Umar. “Mereka belum makan dan saya tidak punya gandum (beras),” jawab sang ibu. “Lalu apa yang ibu masak,” tanya Umar lagi. “Saya masak batu untuk sekadar menenangkan anak saya agar tertidur lagi,” jawab ibu itu.Dengan menahan tangis di dalam hati, Umar memberanikan diri untuk bertanya, “Apakah Khalifah Umar tidak memperhatikan ibu?”. “Tidak,” jawab sang ibu. “Tunggu ya, bu,” jawab Umar.Umar pun bergegas pulang untuk mengambil sekarung gandum di Baitul Mal dan dipikulnya sendiri, sehingga sang ajudan memintanya untuk dibantu memikul, namun Umar menjawab, “Apakah kamu mau menanggung dosa saya”.Itulah dialog sederhana pada keheningan malam yang cukup bermakna. Agaknya, cara “blusukan” itulah yang diteladani tokoh sipil yang kini Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).Dalam kesempatan berbicara dalam forum Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) di Universitas Surabaya (1/3), Jokowi menyatakan banyak program pembangunan merupakan “hasil” dari “blusukan” yang dilakukannya.“Jadi, blusukan itu bukan pencitraan. Buat apa pencitraan, lhawong saya tidak punya televisi, apa mungkin saya bisa mengatur media massa? Tujuan utama (blusukan) adalah mendengar suara dan penderitaan masyarakat yang sebenarnya,” kata Jokowi yang disebut Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung sebagai ‘sang ksatria’ itu.Makna “blusukan” di mata Jokowi itulah yang juga melahirkan program Kartu Jakarta Sehat atau Kartu Jakarta Pintar, setelah dirinya mendengar suara dan penderitaan masyarakat miskin yang sakit dan anak-anak miskin yang tidak mampu sekolah.“Kartu Jakarta Sehat itu juga karena blusukan yang saya lakukan dan saya menemukan banyak masyarakat yang sakit dan meninggal di rumah, karena tidak mampu membayar biaya berobat atau rumah sakit, sedangkan Kartu Jakarta Pintar itu karena BOS itu tidak menjangkau kebutuhan seragam, tas, sepatu, dan sebagainya,” katanya.Selain itu, blusukan juga bermanfaat untuk mengajak masyarakat mau bermusyawarah dan bergotong royong. “Saya bisa memindahkan masyarakat tanpa penggusuran juga, tapi melalui dialog atau musyawarah ketika blusukan itu,” katanya.Hasilnya, pihaknya bisa melakukan perbaikan permukiman masyarakat pinggiran juga dengan gotong royong. “Jadi, saya tidak menggusur mereka, tapi menggeser. Caranya pun dengan musyawarah dan gotong rotong. Musyawarah dan gotong royong itu budaya kita,” ucapnya.Melayani rakyat yang menarik, pemimpin tertinggi di Jakarta yang suka blusukan itu akhirnya melambung namanya dalam berbagai survei untuk Pilpres 2014.Hasil survei itulah yang akhirnya mendorong keluarnya surat perintah harian Ketua Umum DPP PDIP Megawati yang memberikan mandat kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai calon presiden dari partai tersebut.Surat perintah dari Ketua Umum DPP PDIP Megawati yang dibacakan Ketua DPP PDIP Puan Maharani di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta (14/3/14) itu berisi tiga mandat.Tiga mandat adalah dukung Joko Widodo sebagai calon presiden dari PDIP, jaga dan amankan jalannya pemilu legislatif terutama di TPS-TPS dan proses penghitungan yang berjalan dari segala bentuk kecurangan dan intimidasi, serta teguh dan tegarkan hati dalam mengawal demokrasi di Republik Indonesia tercinta.“Pesan harian dari Ibu Ketua Umum ini kami harap disebarkan pada seluruh rakyat Indonesia,” ujar Puan yang juga putri Megawati itu saat membacakan surat harian tersebut.Menanggapi mandat itu, Jokowi pun menyatakan secara resmi terkait kesiapannya untuk maju menjadi calon presiden (capres) PDIP. “Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya siap melaksanakan amanat itu,” ucap Jokowi.Setelah menyatakan kesiapannya untuk maju menjadi capres di hadapan warga Jakarta pada Jumat (14/3/14) sekitar pukul 14.50 WIB itu, Jokowi pun mencium bendera merah putih yang ada di belakangnya.Dalam pesan kepada Jokowi, Megawati Soekarnoputri meminta Jokowi jika kelak menjadi Presiden Republik Indonesia agar mengabdikan dirinya secara total untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.“Ibu Megawati juga berpesan kepada Pak Jokowi supaya menjaga dan mengamankan serta mempertahankan Pancasila 1 Juni, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, dan Undang-Undang Dasar 1945,” kata Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo.Megawati juga berpesan kepada Jokowi supaya mengimplementasikan Trisakti Bung Karno dalam setiap pengambilan keputusan politik pembangunan di mana pun, yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial budaya.Agaknya, mandat menjadi capres itu tidak lepas dari cara “blusukan” ala Umar bin Khatthab yang tidak sepolitis yang dibayangkan orang selama ini. (Ant/ r)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 18 Maret 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


Tag:

Berita Terkait