Memetik Pelajaran dari Kabut Asap Riau

Oleh : Panca Hari Prabowo
- Rabu, 19 Maret 2014 12:24 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/03/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Jakarta (SIB)- Sepanjang pekan pertama dan kedua Maret 2014 kota Riau dan sekitarnya nyaris setiap hari diliputi oleh kabut asap akibat kebakaran lahan yang terjadi di kawasan itu mengakibatkan ribuan orang terganggu aktivitasnya.Puncak gangguan asap salah satunya terjadi pada Kamis (13/3) yang mengakibatkan jarak pandang, bukan hanya transportasi udara, namun juga kendaraan bermotor sangat pendek akibat pekatnya asap.“Situasinya sudah gawat, pemerintah harus mengambil tindakan cepat tidak poleh pasrah dengan hujan saja,” kata Alex (34), warga Pekanbaru kepada wartawan Antara yang bertugas di Riau saat itu.Kabut asap tebal menyelimuti berbagai kawasan, mulai dari jalanan, perumahan, hingga pusat kota.Kendaraan terpaksa melintas dengan pelan dan menyalakan lampu untuk menghindari terjadinya kecelakaan lalu lintas.Sementara itu, Kantor Gubernur Riau yang berada di tengah kota hanya dapat dilihat pada jarak kurang dari 500 meter, sebelumnya masih bisa ditembus dalam jarak 1.000 meter.Bahkan, pada Jumat (14/3), Informasi otoritas setempat yang dipantau Antara di Riau menyatakan visibilitas sempat berada pada seratus meter hingga mengakibatkan bandara lumpuh total, tidak ada aktivitas penerbangan sama sekali dalam seharian.Informasi Tim Satgas menyebutkan, penyebabnya adalah maraknya kebakaran lahan dan hutan di Riau, angin kemudian bertiup mengarah ke Sumatera Barat dan bahkan sejumlah provinsi lainnya yang berdekatan dengan Riau.Sementara pemerintah memastikan kabut asap yang melanda Malaysia dan Singapura serta beberapa negara tetangga lainnya bukanlah asap kiriman Riau.Hal itu menurut informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pergerakan angin justru berlawanan dari negara-negara tetangga tersebut.“Yang paling parah terkena dampak kabut asap Riau adalah Riau sendiri, kemudian daerah tetangga seperti Sumatera Barat dan Sumatera Selatan,” kata Slamet Riyadi selaku analis pada lembaga pemantau cuaca saat itu.Menurut pendeteksian Satelit Terra dan Aqua, terdapat ribuan titik panas (hotspot) di daratan Sumatera dan terbanyak adalah Riau.Kondisi itu yang kemudian menurut analis menjadi faktor penyebab kabut asap semakin tebal hingga melumpuhkan tiga bandara sekaligus.Meski pada Selasa (18/3) kondisi sudah membaik, namun bagaimana menangani masalah yang sudah rutin terjadi ini dan mencegah agar tidak terjadi terus menerus merupakan pelajaran penting yang harus dipahami.Peringatan Penanganan kebakaran lahan sebetulnya sudah dilakukan sejak sebelum Maret 2014 khususnya saat asap mulai dirasakan di Riau dan sekitarnya medio April 2014. Pemerintah pusat saat itu sudah memberikan perhatian termasuk menyiagakan bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan juga kementerian-kementerian di bawah Menko Kesra.Pemerintah pusat berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika dan juga lembaga lainnya sebetulnya sudah memperingatkan agar kewaspadaan menjelang musim kemarau di wilayah yang menjadi “langganan” kebakaran lahan ditingkatkan.Pemerintah mewaspadai potensi terjadinya kebakaran akibat kemarau kering yang akan mulai terjadi pada April hingga Agustus mendatang.Menko Kesra Agung Laksono di Kantor Presiden Jakarta, Kamis mengatakan berdasarkan perkiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) musim kemarau yang cenderung kering akan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.“Mulai April, Mei dan Juli itu terus berangsur-angsur kemaraunya kering dan diperkirakan tidak ada kemarau basah, jadi kemaraunya kering,” katanya.Ia memaparkan berdasarkan perkiraan BMKG pada Agustus akan sulit ditemukan titik-titik yang memungkinkan turunnya hujan kecuali dilakukan hujan buatan.“Kita sementara ini menggunakan TNI Angkatan Udara, pesawat-pesawatnya, tapi untuk pesawat-pesawat yang tidak ada di sini, terpaksa kita sewa untuk persiapan bulan April,” katanya.Ia menambahkan, “Kita sedang melakukan konsolidasi untuk persiapan bulan yang hebat kemaraunya, April, Mei dan seterusnya.” Tanggulangi secara menyeluruh Eskalasi kabut asap akibat kebakaran lahan membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa perlu datang langsung dan melihat serta mengoreksi upaya penanggulangan kebakaran.“Masalah-masalah mendasar yang harus kita carikan solusinya, bukan sekadar memadamkan api. Harus kita cari solusinya agar setiap tahun tidak begini terus,” kata Presiden saat tiba di Riau.Menurut Presiden, aksi memadamkan api tidak akan pernah menyelesaikan penyebab kebakaran lahan yaitu kesengajaan yang dilakukan oleh sejumlah oknum.“Saya ingin mendengar dari masyarakat lokal apa yang mereka lihat, yang mereka dengar. Mungkin kita akan mendengar yang sungguhnya. Jangan orangnya yang didatangkan, tapi kita datangi,” katanya seraya mengungkapkan peluang untuk meninjau Kabupaten Siak yang kabarnya menjadi salah satu kawasan yang cukup terdampak.Di hari keduanya melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Riau, Presiden menerima laporan dari sejumlah pihak terkait dengan pelaksanaan operasi pemadaman api.Presiden menyoroti bagaimana daerah tidak mengalokasikan dana yang memadai untuk menanggulangi bencana, padahal kerap terjadi hal tersebut.“Daerah perlu menambah anggaran untuk bencana, saya lihat di sini kecil sekali,” kata Presiden saat berdialog dengan warga masyarakat disela-sela kunjungannya di Riau.Menurut Presiden, kecilnya anggaran bencana bukan hanya terjadi di Provinsi Riau. Hal serupa juga terjadi di banyak daerah di Indonesia sekalipun pejabat daerah telah mengetahui jika daerahnya termasuk rawan bencana sehingga acapkali tidak dapat mengatasi bencana yang terjadi. Ia tidak mengelaborasi lebih lanjut besaran anggaran tersebut.Presiden menegaskan sekalipun pemerintah pusat telah melakukan banyak hal untuk memadamkan api di Riau, peristiwa tersebut terulang kembali sehingga perlu dilakukan dicari penyebab dan biang keladinya agar rakyat tidak menjadi korban dan negara harus mengeluarkan uang dalam jumlah sangat besar untuk mengatasinya.Presiden percaya jika kebakaran lahan yang demikian hebatnya itu bukan murni karena cuaca ekstrem semata dan lebih diakibatkan oleh kesengajaan orang membakar lahan.Ia menginstruksikan agar tidak hanya para pembakar yang ditangkap namun juga dalang dibalik aksi tersebut. Ia juga meminta agar tidak ada lagi izin-izin perkebunan liar dari para pejabat pemerintahan di daerah dan pembalakan liar.Kabut asap yang beberapa tahun lalu sempat membuat malu karena juga membuat ruang udara negara tetangga terpapar, kini terjadi lagi. Pelajaran penting yang dipetik adalah pada era otonomi daerah ini bukan sekedar kebebasan daerah mengelola keuangan dan kewenangan perijinan, namun juga daerah memiliki kapabilitas menangani bencana tanpa bergantung pada pertolongan pemerintah pusat. (Ant/ r)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


Tag:

Berita Terkait

Opini

Wali Kota Tebingtinggi: BPIP Serukan Revitalisasi Pancasila di Momen Hari Lahir Pancasila

Opini

Siswa SD Diduga Tewas Akibat Bullying, Legislator Soroti Lemahnya Perlindungan Anak

Opini

10 Strategi Teruji Agar Anak Cerdas dan Tumbuh Sehat

Opini

Osis SMP Negeri 1 Padangsidimpuan Adakan Safari Dakwah ke Panti Asuhan

Opini

Ini Rahasia Sukses Anak, Bukan Hanya Karena Kecerdasan

Opini

Siswa SMA Negeri I Medan Belajar ke Kantor Harian SIB