Medan (SIB)- Sejumlah kalangan atau praktisi pariwisata di daerah ini menilai lembaga atau badan Otorita Danau Toba yang akan dibentuk pemerintah pusat saat ini, mutlak harus melibatkan orang-orang yang sudah benar-benar berpengalaman mempromosikan Danau Toba selama ini, terlebih yang sudah terbukti menghasilkan kunjungan turis atau wisatawan mancanegara (Wisman) ke daerah ini.Mantan Wakil Gubernur Sumut, Lundu Panjaitan SH MA, yang juga mantan Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Sumut (1986-1989), menyatakan instruksi Presiden RI agar segera dibentuk Tim Promosi atau Tim Marketing untuk menggencarkan potensi wisata Danau Toba ke mancanegara melalui program badan Otorita Danau Toba yang akan dibentuk, harusnya segera ditindaklanjuti secara langsung oleh semua pihak terkait, baik dari kalangan pemerintah maupun dunia usaha atau praktisi bisnis wisata.“Instruksi Presiden itu, walaupun masih bersifat lisan, agar dibentuk tim promosi atau tim marketing untuk menjual potensi wisata Danau Toba, sudah tepat sekali dan harus ditindaklanjuti cepat. Itu berarti, Badan Otoritas Danau Toba nantinya akan melibatkan orang-orang yang berpengalaman dan sudah terbukti berhasil menjual wisata Danau Toba dan mendatangkan Wisman. Orang itu misalnya Ben Sukma (Sukma Tour), Hazed Joely (Nitour), John Mul Purba (PHRI—Hotel Atsari Parapat) dan beberapa nama lain yang saya lupa. Mereka ini sudah saya kenal dan lihat sukses ketika saya masih Kepala Dinas Pariwisata Sumut. Kalau soal marketing Danau Toba, belajarlah pada mereka. Saya juga masih melihat mereka berhasil ketika sayapun sudah kepala BPMD (Badan Penanaman Modal) Propinsi Sumut,†ujar Lundu Panjaitan kepada SIB di rumahnya, Rabu (10/2) .Hal itu juga dibenarkan Elbiner Silitonga MBA, mantan anggota DPRD Sumut selaku wakil ketua Badan Pariwisata Daerah Sumut (2003-2008), bahwa pengalaman dan kemampuan Ben Sukma menjual wisata Danau Toba dalam setiap ajang dan even promosi wisata melalui usaha biro travelnya (Sukma Tour & Travel) selama ini, telah menjadikannya populer di kalangan operator wisata mancanegara, khususnya Eropa, sehingga sering tampil pada cover majalah wisata internasional di Jerman, bursa wisata International Tourism Board (ITB) Jerman di Berlin, hingga terpromosi menjadi Ketua DPP ASITA (Association of Indonesia Travel Agency) dan terakhir Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) Pusat. Ketua Umumnya (ketika itu) Tanri Abeng.“Otorita itu harus diperkuat dengan orang-orang yang mampu mempromosikan Danau Toba secara meyakinkan dan menghasilkan, apalagi misi atau targetnya menjadikan Danau Toba itu menjadi Monaco-nya Asia. Untuk menyahuti instruksi presiden agar dibentuk tim promosi dan marketing, saya lihat belum ada action di Sumut untuk instruksi (lisan) presiden soal ini,†katanya kepada SIB di kantornya.Di lain pihak, mantan pramuwisata senior dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Sumut, Sastra SH MKn, dan Ketua Asosiasi Praktisi Pariwisata Indonesia (APPI) Maruli Damanik, juga menyebutkan nama Naam Sidik dari Nosutoga Tour & Travel yang juga berpengalaman mempromosikan Danau Toba, bersama-sama Ben Sukma dalam paket wisata ‘Danau Toba Beyond ‘ pada 1980-1990-an. Itu juga dibenarkan Kepala Dinas Pemasaran Dinas Pariwisata & Kebudayaan (Disparbud) Sumut, Drs Muchlis, bahwa pengalaman dan keberhasilan Ben Sukma yang hingga kini masih tetap aktif dan eksis menjual wisata Danau Toba, juga telah mengantarkan Ben Sukma sebagai salah satu pionir pariwisata nasional sehingga menerima penghargaan Adikarya Pariwisata Indonesia dari Presiden RI Soeharto pada 1995.“Tuntutan Ben Sukma agar volume dan frekuensi penerbangan mancanegara dari dan ke Polonia dulunya tak direalisir pemerintah pusat. Tapi dia bisa menjaring turis asing ke Sumut dari lintas destinasi lain (overland). Misalnya yang turun di Bali, Jakarta, Yogya, Padang dan Batam. Kalau turis over land ini dihitung, sebenarnya jumlah wisman ke Sumut selama ini minimal sudah dua kali lipat dari jumlah yang terdata BPS selama ini,†ujar Sastra dan Muchlis, secara terpisah. (A4/h)