Sapa Pagi dari Surga Tersembunyi di Balik Pegunungan Arfak Papua Barat

- Minggu, 26 Agustus 2018 12:12 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/dir082018/hariansib_Sapa-Pagi-dari-Surga-Tersembunyi-di-Balik-Pegunungan-Arfak-Papua-Barat.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/Liputan6.com/Rahmi H
Pegunungan Arfak.

Pegaf (SIB) -Wisata alam merupakan salah satu potensi ekonomi yang bisa dikembangkan di Papua Barat, khususnya di Pegunungan Arfak, Kabupaten Pegaf. Dua danau yang terbentang di Kecamatan Anggi menjadi objek wisata yang luar biasa indah bila digarap dengan baik.

Tim Ekspedisi Bumi Cendrawasih Mapala UI menghabiskan dua minggu di sini, mengeksplorasi wisata alam yang dapat dikembangkan dan fasilitas yang mesti diupayakan tersedia untuk mengembangkan objek wisata di lokasi tersebut.

Menurut Bupati Pegaf Yosias Saroi, Pemkab Pegaf sedang berupaya menyiapkan infrastruktur pendukung kendati anggaran yang tersedia masih sangat terbatas.

Namun potensi wisata di Pegunungan Arfak begitu besar, seperti Danau Anggi Gida (Danau Perempuan) dan Anggi Jigi (Danau Laki), gua di Dohu, air terjun, penangkaran kupu-kupu, penangkaran burung cendrawasih di Kuaw, rumah adat kaki seribu, maupun jalur perlintasan bukit.

"Yang kami butuhkan adalah bantuan berbagai pihak untuk mempromosikan potensi wisata yang ada di distrik-distrik di Kabupaten Pegunungan Arfak. Saya berharap Mapala UI bisa membantu mengembangkan dan memperkenalkan wisata alam di sini," ujarnya. 

Dengan promosi yang baik, dia berharap wisatawan tertarik datang dan bersedia berinvestasi di daerah tersebut.

Salah satu yang akan dikembangkan adalah rumah adat yang dikenal dengan Rumah Kaki Seribu. Disebut begitu karena rumah yang terbuat dari kayu tersebut dibangun di atas ratusan kayu sebagai penopang bangunan.

Tingginya berkisar antara 50-200 sentimeter, tergantung dari kondisi tanah di mana bangunan didirikan dan adat yang dianut masyarakat setempat.

"Karena pengaruh modernisasi rumah-rumah ini mulai punah. Tapi ke depan akan kita pertahankan dengan membangun kampung wisata budaya. Mungkin di Anggi Giji atau di Anggi Gida. Jangan sampai rumah ini adanya di gambar-gambar dan di logo-logo saja, tapi di lapangan tak ada," ujar Yosias.

Untuk itu, lanjutnya, diperlukan anggaran yang tidak sedikit. Penginapan yang memadai saja belum ada, termasuk kesiapan masyarakat maupun aparat pemerintahan dalam menerima kedatangan wisatawan.

Meski agak kewalahan soal pengadaan infrastruktur pariwisata, Bupati Pegaf yakin ke depan berbagai objek wisata alam di daerahnya mampu menjadi daya tarik bagi para wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Soal keamanan yang acap kali menjadi isu di pulau paling Timur Indonesia ini, Yosias memberi jaminan bahwa masyarakat Papua Barat tidak akan mengganggu para pendatang.

"Untuk kemananan kita jamin. Bahkan, keluar masuk kampung di malam hari juga aman. Kalaupun ada kecelakaan, itu karena kondisi jalan yang masih belum baik. Kalau gangguan dari suku-suku kepada pendatang, itu tidak ada," dia menandaskan. (Liputan6.com/c)


Tag:

Berita Terkait

Pariwisata

ATR Sumut Minta Polemik Surat Edaran Wali Kota Medan Disikapi Bijak

Pariwisata

Penanganan Kesehatan di Tapteng Berjalan Optimal

Pariwisata

Wali Kota Medan Lantik Sejumlah Pejabat Eselon III dan IV

Pariwisata

Diduga Selewengkan Dana KIP-K, Mahasiswa STAI Al Hikmah Tebingtinggi Mengaku Diminta Kembalikan Bantuan

Pariwisata

Dagangan Daging Babi Bersih dari Limbah, Tuduhan Wali Kota Rico Waas Keliru, GAMKI Minta Surat Edaran Dicabut

Pariwisata

GAMKI Sumut Desak Wali Kota Medan Kaji Ulang SE Penataan Lokasi Penjualan Daging Non Halal