Hidup di Pulau yang Selalu Minta Maaf

- Minggu, 30 Juni 2019 12:55 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2019/06/3144_Hidup-di-Pulau-yang-Selalu-Minta-Maaf.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Taiwan (iStock)
Melancong tak cuma perihal tempat indah tapi juga belajar soal budaya. Tak semua tahu, kalau pulau ini terobsesi dengan kata maaf.

Liburan tak hanya soal pemandangan cantik. Melalui percakapan sehari-hari, Taiwan mengajarkan wisatawan tentang kesopanan dan menghargai orang lain.

Cara yang dilakukan oleh orang Taiwan cukup unik. Seringkali dalam banyak percakapan, mereka menggunakan kata buhaoyisi, seperti yang diintip dari BBC, Rabu (26/6).

Buhaoyisi (boo-how-eee-suh) menjadi ungkapan dari perasaan malu, maaf atau menyesal. Namun di masyarakat, kata ini kerap diungkapan sebagai pembuka percakapan atau malah mengungkapkan terima kasih.

Lho kok terima kasih?

Seperti halnya basa basi di Indonesia. Orang Taiwan mengekspresikan perasaan dengan sangat hati-hati.

Saat mengucapkan terima kasih, buhaoyisi dapat diartikan seperti 'maaf sudah merepotkan' atau 'maaf atas ketidaknyamanan yang sudah dibuat'.

Kata buhaoyisi akan sangat sering kamu dengar dalam lingkup masyarakat. Dalam sapaan, percakapan bahkan email. Ini menjadi standar kesopanan yang diterima di masyakarat.

Di telinga wisatawan, kata maaf ini mungkin akan terdengar seperti obsesi, karena akan terus diucapkan berkali-kali dalam tiap kesempatan. Seperti memupuk hutang budi kepada yang mendengar.

Namun budaya ini tak serta merta hadir begitu saja. Ada akulturasi Jepang yang mendalam dalam buhaoyisi.

Saat penjajahan Jepang, ada ajaran konfusius yang berperan dalam masyarakat Taiwan. Menurut Khin-huann Li, profesor sosiolinguistik emeritus di National Taiwan Normal University, gagasan harmoni konfusiusme yang berpusat pada hubungan antar pribadi mempengaruhi budaya meminta maaf ini.

Bahkan ketika wisatawan bingung harus berkata apa untuk meminta maaf, cukup gunakan kata ampuh ini, buhaoyisi. Biasanya, orang Taiwan tak akan memperpanjang masalah dan hanya akan membalas dengan buhaoyisi.

Karena budaya ini pula, Taiwan mendapat predikat sebagai salah satu masyarakat paling ramah di dunia menurut Expat Insider Index. Mulai dari anak-anak sampai orang tua, akan dengan ringan mengucapkan buhaoyisi dalam tiap saat.

Budaya ini menjadi hal yang dibanggakan oleh Taiwan. Dengan menjaga kesopanan dan saling menghormati, Taiwan ingin mewujudkan perdamaian dengan buhaoyisi. (detikcom/d)

Berita Terkait

Pariwisata

Penanganan Kesehatan di Tapteng Berjalan Optimal

Pariwisata

Wali Kota Medan Lantik Sejumlah Pejabat Eselon III dan IV

Pariwisata

Diduga Selewengkan Dana KIP-K, Mahasiswa STAI Al Hikmah Tebingtinggi Mengaku Diminta Kembalikan Bantuan

Pariwisata

Dagangan Daging Babi Bersih dari Limbah, Tuduhan Wali Kota Rico Waas Keliru, GAMKI Minta Surat Edaran Dicabut

Pariwisata

GAMKI Sumut Desak Wali Kota Medan Kaji Ulang SE Penataan Lokasi Penjualan Daging Non Halal

Pariwisata

PGN Masuk 500 Perusahaan Asia-Pasifik Terbaik Versi TIME