Tiga Entrepreneur Berbagi Pengalaman dalam Talkshow APP Darma Agung

- Jumat, 12 Juli 2019 16:10 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2019/07/81_Tiga-Entrepreneur-Berbagi-Pengalaman-dalam-Talkshow-APP-Darma-Agung.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Ist
Foto bersama dengan narasumber dan moderator

Medan(SIB): Acara talkshow bertajuk Entrepreneurship in Tourism "Tidak ada kata usia dalam memulai wirausaha" yang digelar Akademi Pariwisata dan Perhotelan Darma Agung (APP-DA) Medan berlangsung sukses di Pardede International Hotel, Medan, Jumat 5 Juli 2019. Hadir sebagai pembicara Hendry Winfield, Rachmi Novianti dan Ratnauli Gultom, dengan moderator Bantors Sihombing.

Hadir dalam acara ini, ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Medan. Mereka tampak antusias mendengar dan berdiskusi dengan entrepreneur yang menjadi narasumber. Apalagi ketiga pembicara sangat komunikatif dalam menyampaikan pengalaman ketika memulai usaha, hingga berkembang sampai saat ini.

Direktur APP-DA Medan Dra Binur Pretty Napitupulu MM saat membuka acara talkshow menjelaskan pentingnya entrepreneurship. Indonesia masih ketinggalan dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura dalam persentase jumlah entrepreneur. Diharapkan dari mahasiswa bakal muncul orang-orang yang akan memulai wirausaha. Secara khusus disampaikannya ucapan terimakasih kepada Ketua Umum Yayasan Perguruan Darma Agung Ibu Sariaty PR Siregar Br Pardede yang telah mendukung acara talkshow ini.

Hendry Winfield merupakan seorang entrepreneur yang memiliki beberapa usaha. Antara lain, The Canopy Cafe, Tomo Japanese Restaurant, Fabrica Cafe, Tjap Djempol, Loco Est.2016, dan Master Franchise Kedai Kopi Kulo. Lulusan dari UNSW Sydney Australia ini sebenarnya lulusan penerbangan dan dipersiapkan menjadi pilot. Satu peristiwa mengubah arah hidupnya, dan masuk ke dunia yang sama sekali berbeda, yakni usaha kuliner.

Dia memulai usahanya di Tanjung Pinang, dengan membuka cafe dan restoran yang masing-masing konsepnya berbeda. Ketika bertemu pujaan hatinya yang kemudian menjadi istrinya, Hendry merintis usaha kembali di Medan. Kini sudah ada 15 gerai dibukanya mengusung nama Kedai Kopi Kulo, yang merupakan waralaba.

Dia memotivasi mahasiswa agar dalam memulai usaha memerhatikan "demand" (permintaan), dan "supply" (penawaran). Hendry selalu bergerak dari kebutuhan konsumen. Jadi bukan ada dulu barang, kemudian mencari pelanggan.

Ratnauli Gultom yang merupakan pemilik Homestay Ecovillage Silimalombu menjelaskan dirinya selama bertahun-tahun bekerja menjadi karyawan perusahaan. Panggilan dalam dirinya kemudian membuatnya memilih pulang kampung. Orangtuanya sempat protes, namun kemudian membiarkan Ratna menjadi petani sekaligus nelayan.

Saat menjadi petani dan nelayan, Ratna melihat begitu banyak potensi yang bisa menghasilkan uang. Dia kemudian membuka homestay berbasis entrepreneurship. Tamu diajaknya berbagi dalam berbagai ketrampilan. Ada banyak produk yang dihasilkan, antara lain pizza andaliman, mango wine, cokelat, mie, teh dari daun sirsak dan aneka kuliner lainnya.

Dari usahanya, Ratna bisa melanglangbuana ke seantero negeri. Namun tak mau egois, dia membuka dirinya berbagi ilmu. Homestay-nya menerima relawan dari seluruh dunia belajar pertanian dan wirausaha di Danau Toba. "Saya mengundang mahasiswa datang belajar ke tempat kami, dan pulang sebagai entrepreneur," katanya.

Rachmi Novianti yang mengelola Markisa Noerlen menjelaskan dirinya meneruskannya orangtuanya. Tidak mewarisi semua sudah sukes, dia harus bekerja keras membangunnya hingga bisa seperti sekarang. Saat bahan baku usahanya terganggu karena letusan gunung Sinabung, Mimi demikian panggilannya, mengembangkan wisata edukasi.

Turis mulai berdatangan ke tempat usahanya di Medan. Mereka belajar bagaimana membuat minuman markisa. Dalam perjalanan waktu, produk yang dihasilkan Markisa Noerlen berkembang, antara lain kopi, dan durian beku. Menurutnya apa yang dikerjakannya, bisa berkembang, antara lain dibantu pemasaran melalui media sosial.

Mahasiswa yang bertanya meminta tips bagaimana memulai usaha dan meyakinkan orangtua agar mendukung jalan wirausaha yang ditempuhnya. Ada juga yang menyoroti peran parner dalam berwirausaha, dan mengatasi perbedaan pendapat di kemudian hari. Narasumber memberi tanggapan sesuai pandangan masing-masing, sembari memotivasi audiens menjadi entrepreneur.

Hadir juga dalam acara ini antara lain, Wakil Direktur 1 APP-DA Dameria Girsang, S.Sos, MM, Wakil Direktur 3 Dr Andy Padriadi SH MSi, dosen pengasuh mata kuliah MICE Drs Nalom Tambunan MSi dan para dosen lainnya.(*/ril)

Berita Terkait

Pariwisata

Aksi Sosial Ramadan, PC Himmah Kota Tebingtinggi Berbagi Takjil Selama Tiga Hari

Pariwisata

ATR Sumut Minta Polemik Surat Edaran Wali Kota Medan Disikapi Bijak

Pariwisata

Penanganan Kesehatan di Tapteng Berjalan Optimal

Pariwisata

Wali Kota Medan Lantik Sejumlah Pejabat Eselon III dan IV

Pariwisata

Diduga Selewengkan Dana KIP-K, Mahasiswa STAI Al Hikmah Tebingtinggi Mengaku Diminta Kembalikan Bantuan

Pariwisata

Dagangan Daging Babi Bersih dari Limbah, Tuduhan Wali Kota Rico Waas Keliru, GAMKI Minta Surat Edaran Dicabut