Amsterdam, Kota Dosa yang Mau Berubah

- Minggu, 14 Juli 2019 16:03 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2019/07/5641_Amsterdam--Kota-Dosa-yang-Mau-Berubah.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172

Amsterdam (SIB) -Selama ini, Amsterdam dikenal dengan sebutan 'Sin City' alias Kota Dosa. Belakangan, julukan itu pelan-pelan mau dihilangkan.

Amsterdam merupakan destinasi favorit turis di Belanda. Suasana kota yang khas dengan ratusan kanal dan kehidupan masyarakat yang gemar naik sepeda menjadi daya tariknya. Belum lagi, terdapat berbagai atraksi wisata serta aneka penginapan dari kelas backpacker sampai yang mewah.

Merujuk pada julukan Sin City, ada dua hal mengapa Amsterdam disebut seperti itu. Pertama adalah ganja yang dilegalkan, sehingga para turis bebas menghisapnya di berbagai Coffee Shops yang tersedia. Kedua, sudah barang tentu si Red Light District tempat prostitusi yang dilegalkan.

Tak dipungkiri, Red Light District adalah daya tarik utama turis. Banyak turis penasaran, bagaimana sih wisata syahwat di sana?

Red Light District berada di dekat stasiun kereta Amsterdam Centraal. Orang Belanda menyebutnya dengan nama De Wallen, sebab lokasinya seolah tertutup.

Saat saya berkunjung ke Red Light District beberapa waktu lalu, suasananya sangat ramai. Kala itu weekdays, nggak kebayang kalau weekend.

Para pekerja seks menampilkan diri di etalase kaca berwarna merah. Jadi, 300-an rumah bordil punya tampilan depan berupa kaca yang besar seperti etalase dan terbagi berbilik-bilik. Di balik kaca itulah para pekerja seks menjajakan diri.

Mereka berpakaian seksi, menari-nari dan menggoda para pelanggan. Berharap ada yang tergoda dan masuk ke dalam bersamanya. Kemudian berakhir di kamar, yang lokasinya ada di ruang belakang dari etalase tersebut.

Bukan hanya itu, bahkan ada 'Live Porn Show' hingga Museum Prostitusi di dalam Red Light District. Alamak...

Seperti saya bilang tadi, banyak turis yang penasaran tentang Red Light District. Jika di masa lalu pengunjungnya adalah orang-orang yang mau melampiaskan syahwat, maka kini kebanyakan orang-orang yang sebatas datang karena penasaran.

Mereka yang penasaran akan berjalan melihat-lihat para pekerja seks di dalam etalase kaca. Di situlah muncul masalah.

Banyak turis yang masih saja bandel memotret para pekerja seks. Padahal, jelas-jelas itu ada aturan larangannya karena dinilai tidak menghargai privasi dan melecehkan. Asal tahu saja, kegiatan prostitusi di Red Light District sudah dilindungi pemerintah Belanda sejak tahun 1988.

Masalah lainnya adalah turis yang berbuat kurang menyenangkan pada para pekerja seks. Mereka terang-terangan menertawakan atau kelewatan menggodanya, yang dinilai tidak menghormatinya.

Kemudian, banyak pula turis yang berbuat onar akibat mabuk-mabukan kemudian berujung pada baku hantam. Maka jangan kaget, kalau melihat polisi berlalu-lalang di Red Light District demi menjaga keamanan.

Femke Halsema sebagai wali kota wanita pertama Amsterdam akan melakukan perubahan. Dia akan merombak kawasan Red Light District dan tidak lagi menjadikannya sebagai destinasi wisata.

'The Future of Window Prostitution in Amsterdam', itulah rancangan yang disiapkannya. Halsema punya beberapa opsi seperti menutup etalase kaca, menyiapkan hotel atau bangunan khusus hingga memindahkan lokalisasi ke tempat lain.

"Bagi banyak pengunjung, pekerja seks telah menjadi daya tarik untuk dilihat. Tapi dalam beberapa kasus, banyak perilaku pengunjung yang mengganggu dan tidak sopan seperti merendahkan martabat wanita," kata Halsema seperti dilansir Reuters, Senin (8/7).

Halsema berharap, pihaknya dapat melindungi keamanan para pekerja seks. Rencananya, pemerintah Kota Amsterdam akan melakukan pertemuan dengan orang-orang di Red Light District untuk membahasnya lebih lanjut. Sehingga, ada keputusan bersama dan tidak ada yang merasa dirugikan.

Julukan Sin City tampaknya mau dihilangkan dari Amsterdam. Tersirat, tampaknya nanti tidak ada lagi embel-embel wisata syahwat di sana.

Masalah overtourism pun diperhatikan serius. Pemerintah Kota Amsterdam mengaku, kotanya sudah kepenuhan turis sehingga membuat warganya kurang nyaman.

Pemerintah Kota Amsterdam tidak mau lagi mempromosikan pariwisata. Bahkan, mereka mau mengarahkan turis-turis yang datang ke destinasi lainnya di Belanda. Jadi ya, tak melulu Amsterdam.

"Amsterdam dipaksa oleh keadaan sehingga harus berubah," tegas Halsema. (detikTravel/d)

Berita Terkait

Pariwisata

Penanganan Kesehatan di Tapteng Berjalan Optimal

Pariwisata

Wali Kota Medan Lantik Sejumlah Pejabat Eselon III dan IV

Pariwisata

Diduga Selewengkan Dana KIP-K, Mahasiswa STAI Al Hikmah Tebingtinggi Mengaku Diminta Kembalikan Bantuan

Pariwisata

Dagangan Daging Babi Bersih dari Limbah, Tuduhan Wali Kota Rico Waas Keliru, GAMKI Minta Surat Edaran Dicabut

Pariwisata

GAMKI Sumut Desak Wali Kota Medan Kaji Ulang SE Penataan Lokasi Penjualan Daging Non Halal

Pariwisata

PGN Masuk 500 Perusahaan Asia-Pasifik Terbaik Versi TIME