Pulau Terapung dari Sampah Botol Plastik di Pantai Gading

- Minggu, 08 Desember 2019 14:29 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2019/12/7651_Pulau-Terapung-dari-Sampah-Botol-Plastik-di-Pantai-Gading.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Dok.Instagram

Sampah satu orang adalah berkah bagi orang lain. Tak percaya? Eric Becker salah satu contohnya. Pengusaha komputer asal Prancis ini membuat sebuah inovasi dari sampah botol plastik.

Dengan ribuan botol plastik bekas ia berhasil membangun sebuah pulau terapung, lengkap dengan hotel, dua kolam renang, dan bar karaoke.

Melansir Daily Mail, Jumat (22/11), pulau terapung atau 'L'île Flottante' milik Becker berada di Abidjan, Pantai Gading, Afrika Barat. Pulau terapung itu terbuat dari sekitar 700 ribu sampah botol plastik.

Pulau ini dibangun untuk menumbuhkan pariwisata yang lebih ramah lingkungan sehingga tak terlalu berbahaya bagi garis pantai dan laut. Becker berharap, tempat ini bisa menginspirasi proyek serupa di tempat lain.

Untuk berkunjung ke tempat ini, pengunjung dibawa dengan menggunakan perahu. Setiap pengunjung dikenakan biaya 15 ribu franc CFA atau Rp356 ribu per hari kunjungan. Namun, bila termasuk makan, perjalanan dengan menggunakan feri dan menginap sebesar 60 ribu franc CFA atau Rp1,4 juta.

Pulau itu dulunya adalah rumah Becker, sebelum ia mengubahnya menjadi resor tahun lalu. Sebagai resor, L'le Flottante menarik sekitar 100 pelanggan setiap minggu, termasuk penduduk lokal dan para wisatawan.

Dari Negatif ke Positif

Becker mengungkapkan, konsep pulau terapung ini adalah mengambil sesuatu yang negatif yaitu polusi botol plastik dengan mengubahnya menjadi sesuatu yang positif.

"Andai saja semua orang bisa melakukan ini dalam skala individu," kata Becker.

Becker awalnya membangun yacht dari sampah. Namun, ia akhirnya memutuskan membuat pulau terapung setelah ia melihat laguna di Abidjan. Ia menjual hampir semua miliknya untuk mewujudkan impian tak biasa agar menjadi kenyataan.

Langkah pertama yang Becker lakukan dalam membangun pulau itu, termasuk mencari limbah mengambang sebanyak mungkin yang kemudian ia masukan dalam botol plastik, potongan-potongan polistiren, bahkan sandal pantai.

"Kami membeli botol bekas dari orang, kami mencari-cari di laguna," katanya. "Setelah beberapa saat, kami belajar mengikuti angin dan menemukan tempat-tempat di mana tumpukan sampah yang mengambang," sambungnya.

Pulau itu bisa dipindah ke lokasi berbeda dengan listrik yang disediakan dari panel surya dan generator cadangan. Pulau itu berbobot sekitar 200 ton dan sangat cocok mengapung di perairan dangkal. Becker menilai resornya hanya sebagai contoh awal yang bisa digunakan untuk tujuan pulau-pulau berbasis limbah.

"Orang bisa hidup (di pulau terapung) di laguna yang bebas polusi, dan hidup dari budi daya ikan," katanya. (Lip6/d)

Berita Terkait

Pariwisata

Penanganan Kesehatan di Tapteng Berjalan Optimal

Pariwisata

Wali Kota Medan Lantik Sejumlah Pejabat Eselon III dan IV

Pariwisata

Diduga Selewengkan Dana KIP-K, Mahasiswa STAI Al Hikmah Tebingtinggi Mengaku Diminta Kembalikan Bantuan

Pariwisata

Dagangan Daging Babi Bersih dari Limbah, Tuduhan Wali Kota Rico Waas Keliru, GAMKI Minta Surat Edaran Dicabut

Pariwisata

GAMKI Sumut Desak Wali Kota Medan Kaji Ulang SE Penataan Lokasi Penjualan Daging Non Halal

Pariwisata

PGN Masuk 500 Perusahaan Asia-Pasifik Terbaik Versi TIME