Gara-gara Film Frozen, Austria Batasi Turis ke 'Arendelle'

Redaksi - Minggu, 19 Januari 2020 15:26 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/01/7253_Gara-gara-Film-Frozen--Austria-Batasi-Turis-ke---039-Arendelle--039-.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
cnnindonesia.com
Desa Hallstatt di Distrik Gmunden, Austria membatasi kunjungan turis yang terus meningkat berkat popularitas Frozen, film fantasi musikal animasi produksi Walt Disney Animation Studios.

Desa Hallstatt di Distrik Gmunden, Austria membatasi kunjungan turis yang terus meningkat berkat popularitas Frozen, film fantasi musikal animasi produksi Walt Disney Animation Studios. Hallstatt menjadi inspirasi latar belakang Arendelle, kawasan kerajaan yang dipimpin oleh Elsa, tokoh utama dari film tersebut.

Hal ini membuat banyak penggemar Frozen tergugah untuk mengunjungi Hallstatt agar bisa 'mengintip' keindahan Arendelle. Wali Kota Hallstatt Alexander Scheutz mencatat jumlah turis mencapai 10 ribu orang per hari.

Padahal, populasi desa yang diapit Pegunungan Dachstein dan Salzkammergut serta danau berkaca-kaca itu hanya sekitar 800 orang. Jumlah turis yang terlalu 'membludak' dikhawatirkan akan menimbulkan masalah bagi desa dan membuat desa tidak bisa menerapkan pariwisata yang berkelanjutan.

"Hallstatt adalah bagian penting dari sejarah budaya, bukan museum, dan jumlah wisatawan yang berkunjung saat ini menyebabkan masalah bagi desa," ungkap Scheutz saat berbicara kepada The Times, seperti dikutip dari Lonely Planet, Minggu (12/1).

Untuk itu, pemerintah setempat mengambil kebijakan pengurangan jumlah turis. Salah satunya dengan menerapkan sistem angkut menggunakan bus berkapasitas kecil, sehingga jumlah turis yang diangkut akan lebih sedikit.

"Slot (kursi penumpang bus) perlu dipesan lebih dahulu, bus yang menerima lebih dari satu pemberhentian bisa mendapatkan preferensi," ucapnya.

Hallstatt merupakan situs warisan dunia yang terdaftar di Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO).

Sebelumnya Frozen tenar, Hallstatt pertama kali dikenalkan ke publik melalui acara televisi di Korea Selatan.

Kemudian, seorang pengusaha asal China membangun replika Hallstatt di Provinsi Guandong pada 2011. Namun, pamor Hallstatt paling melejit usai penayangan Frozen.

Gambaran keindahan Hallstatt pun kemudian menyebar di berbagai belahan dunia melalui berbagai saluran. Mulai dari acara televisi, film, hingga media sosial, seperti Instagram.

Kebijakan pengurangan jumlah wisatawan sejatinya bukan hanya terjadi di Hallstatt. Sejumlah negara di kawasan Uni Eropa juga tengah melakukannya.

Pemerintah Kota Roma misalnya, memberlakukan aturan denda senilai 250 euro bagi pengunjung yang duduk di Tangga Spanyol. Kemudian, turut membatasi jumlah pengunjung yang bisa mengakses Air Mancur ztrevi.

Tak ketinggalan, Amsterdam juga melakukan pembatasan turis. Hal ini diumumkan dalam tur wisata menuju Distrik Red Light. (CNNI/d)

Berita Terkait

Pariwisata

Penanganan Kesehatan di Tapteng Berjalan Optimal

Pariwisata

Wali Kota Medan Lantik Sejumlah Pejabat Eselon III dan IV

Pariwisata

Diduga Selewengkan Dana KIP-K, Mahasiswa STAI Al Hikmah Tebingtinggi Mengaku Diminta Kembalikan Bantuan

Pariwisata

Dagangan Daging Babi Bersih dari Limbah, Tuduhan Wali Kota Rico Waas Keliru, GAMKI Minta Surat Edaran Dicabut

Pariwisata

GAMKI Sumut Desak Wali Kota Medan Kaji Ulang SE Penataan Lokasi Penjualan Daging Non Halal

Pariwisata

PGN Masuk 500 Perusahaan Asia-Pasifik Terbaik Versi TIME