Menarik Perhatian Wisatawan

Joaldunak, Karnaval Usir Roh Jahat dengan Ratusan Lonceng

Redaksi - Minggu, 09 Februari 2020 13:36 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_9844_Joaldunak--Karnaval-Usir-Roh-Jahat-dengan-Ratusan-Lonceng.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
AP Photo/Alvaro Barrientos
Karnaval: Dua desa di Spanyol masih rutin menggelar tradisi kuno, karnaval mengusir setan agar sukses panen.

Ituren (SIB)

Tradisi kuno menjadi satu cara menarik perhatian wisatawan. Dua desa Spanyol ini mempertahankan karnaval kuno untuk mengusir roh jahat menjelang musim panen.

Karnaval itu bernama Joaldunak. Tradisi itu sudah ada sejak dulu dan menjadi acara tahunan di Spanyol.

Dihimpun dari media Association Press, Selasa (4/2), tradisi itu diturunkan sejak sebelum zaman romawi. Istimewanya, karnaval itu masuk dalam jajaran karnaval paling kuno di Eropa.

Selain itu, karnaval tersebut hanya digelar di dua kota, yakni Ituren dan Zubieta di Spanyol. Karnaval itu bisa diikuti baik oleh pria maupun wanita.

Karnaval itu biasanya dilangsungkan setiap Januari. Sekelompok orang dari dua kota itu akan berparade menggunakan kostum dari kulit domba, rok renda, topi kerucut warna-warni dan lonceng sapi raksasa di pinggang.

Masing-masing peserta akan membawa dua lonceng sapi. Agar tak terlalu berat, lonceng akan diikat ke tubuh dengan tali tambang.

Tapi, ada satu orang yang memiliki peran berbeda. Satu di antara peserta itu harus menjadi setan. Dia dianggap sebagai roh jahat.

Si setan itu akan mengenakan pakaian berbeda. Di samping itu, badannya akan dibalut dengan kulit dan mengenakan topeng domba.

Dengan diiringi bunyi lonceng, setan akan berjalan diarak untuk meninggalkan desa. Ya, karnaval ini memang dimaksudkan untuk mengusir roh jahat.

Warga lokal percaya bahwa ada roh jahat yang akan mengganggu panen. Sehingga, tradisi ini dilakukan supaya semua roh jahat pergi dan warga bisa merayakan panen raya tanpa merugi.

Sambil berjalan sepanjang 3 km di awal musim semi, anggota karnaval akan membunyikan lonceng di pinggang mereka. Jumlah lonceng ini biasanya sekitar 80-100 buah, tergantung dari anggota parade.

Warga yang tidak ikut parade akan melihat tradisi ini dari jendela rumah. Sambil mendokumentasikannya, warga menikmati karnaval kuno ini.

Ituren dan Zubieta adalah kota yang dipisahkan oleh gunung. Sehingga parade ini akan berjalan di jalur gunung dari Zubieta menuju Ituren.

Sesampainya di Ituren, para anggota parade akan disambut oleh tuan rumah yang sudah dipilih sebelumnya. Di sana mereka berhenti dan diakhiri dengan jamuan makan. (dtt/d)

Berita Terkait

Pariwisata

Penanganan Kesehatan di Tapteng Berjalan Optimal

Pariwisata

Wali Kota Medan Lantik Sejumlah Pejabat Eselon III dan IV

Pariwisata

Diduga Selewengkan Dana KIP-K, Mahasiswa STAI Al Hikmah Tebingtinggi Mengaku Diminta Kembalikan Bantuan

Pariwisata

Dagangan Daging Babi Bersih dari Limbah, Tuduhan Wali Kota Rico Waas Keliru, GAMKI Minta Surat Edaran Dicabut

Pariwisata

GAMKI Sumut Desak Wali Kota Medan Kaji Ulang SE Penataan Lokasi Penjualan Daging Non Halal

Pariwisata

PGN Masuk 500 Perusahaan Asia-Pasifik Terbaik Versi TIME