Kenapa Turis Asing Suka ke Danau Toba Tapi Lama Menginap di Bali?

* IASDABA akan Gelar Seminar Internasional Bahas Danau Toba
Redaksi - Minggu, 06 September 2020 21:59 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/09/_1227_Kenapa-Turis-Asing-Suka-ke-Danau-Toba-Tapi-Lama-Menginap-di-Bali-.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Internet
Danau Toba

Medan (SIB)

Ada sebuah fakta yang harus diketahui para pegiat wisata Sumut, bahwa ternyata kawasan Danau Toba menjadi salah satu tempat yang selalu ingin dikunjungi wisatawan asing. Namun kemudian, para wisatawan itu malah memilih berlama-lama di Bali. Kenapa?

Seorang profesor warga negara USA bernama Prof Dr Uli Kozok MA mengungkapkan, umumnya wisatawan mancanegara/Eropa senang ke Danau Toba. Menurutnya, wisatawan itu suka berenang, menyelam, berperahu, kayak, dan kegiatan lainnya. Namun mereka tidak betah berlama-lama, karena fasilitas tidak mendukung.

"Fasilitas ini yang kurang. Sehingga wisatawan hanya tinggal sampai tiga hari saja dan selanjutnya mereka ke Bali yang memiliki fasilitas standar internasional," tandas Prof Uli Kozok saat memberikan penjelasan pada konferensi pers virtual, Jumat (4/9).

Untuk itu, kata Uli Kozok, Pemda di kawasan Danau Toba harus menyiapkan fasilitas sesuai standar internasional termasuk prasarana pendukung, seperti kapal pesiar dan dibuat jadwal perjalanannya. Misalnya setiap dua jam ada perjalanan kapal pesiar dari Bakkara ke Samosir.

"Ini memang memerlukan biaya besar. Tetapi kalau ini sudah berjalan maka wisatawan akan ramai ke Danau Toba dan biaya pengadaan kapal pesiar itu akan terpenuhi secepatnya," tambah Prof Uli Kozok yang mertuanya orang Medan.

Selain itu, Uli Kozok menilai, kekayaan budaya masyarakat di kawasan Danau Toba mempunyai nilai jual yang tinggi bila dikemas secara profesional. Alumni pendidikan doktor University of Hamburg Jerman ini mengatakan, kebudayaan Batak sangat kaya, menarik, dan beraneka ragam. “Dalam kawasan Danau Toba, ada Karo, Simalungun, Toba, Dairi dll, dan ini sangat berpotensi menarik wisatawan”, ucapnya.

Untuk itu, pemerintah daerah di kawasan Danau Toba perlu bekerja sama dan bersinergi membangun dan mengembangkan fasilitas/infrastruktur dan budaya Batak secara berkesinambungan. Sehingga mampu mendorong peningkatan wisata dalam negeri maupun mancanegara ke Sumut khususnya Danau Toba.

"Saya melihat kedua faktor ini yang perlu segera dilakukan agar pembangunan kawasan Danau Toba berbasis budaya daerah dapat diwujudkan," kata profesor peneliti naskah dan Sastra Batak yang tinggal di Hawaii USA ini.

Pemda setempat lanjut Uli Kozok juga harus memberikan perhatian pada potensi budaya itu dan juga merekrut ahli-ahli budaya terutama lulusan perguruan tinggi yang berlatar belakang budaya, sehingga betul-betul memahami kebudayaan Batak.

"Terutama untuk pernaskahan, maka orang Batak seharusnya tahu mana pohon yang bisa digunakan untuk 'laklak' itu. Ini menjadi daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan. Tetapi Pemda harus betul-betul merawat ini, memberikan perhatian dan merekrut orang-orang akademisi budaya dari universitas untuk merawat itu," tambah dia.

Terkait apa yang disampaikannya di atas, Prof Uli Kozok yang pernah mendiami kawasan Danau Toba selama tujuh tahun itu pun sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan 'IASDABA' (Ikatan Alumni Sastra Daerah Batak) untuk mengadakan seminar yang nantinya bisa menginventarisasi semua kelebihan dan kekurangan kawasan Danau Toba serta membuat konsep untuk disodorkan kepada Pemda setempat.

Seputar Seminar

Sebagaima diketahui, IASDABA akan menggelar seminar internasional untuk membahas Danau Toba. Seminar bertema 'Pembangunan Kawasan Danau Toba Berbasis Budaya Daerah' itu akan berlangsung pada 11 September mendatang. IASDABA sendiri adalah sebuah organisasi yang peduli dengan keberadaan Danau Toba.

Beberapa pembicara akan mengisi seminar secara virtual tersebut, antara lain Prof Dr Uli Kozok MA dari USA dan Dr Guiseppina Monaco dari Italia. Sementara dari dalam negeri ada Prof Dr Robert Sibarani MS (Direktur Sekolah Pascasarjana USU) sebagai pembicara. Moderator seminar adalah seorang pengusaha sukses yang juga selalu memberi perhatian terhadap Danau Toba, yakni Drs Tigor Tampubolon.

Selain menghadirkan pembicara hebat, acara juga akan diisi secara khusus oleh Direktur Utama BPODT Arie Prasetyo, GM BPGKT Dr Ir Wan Hidayati MSi, unsur pemerintah dari tujuh kabupaten di kawasan Danau Toba, peneliti dan pemerhati serta tokoh komunitas lokal dan tokoh agama.

Kepada media, Prof Dr Robert Sibarani MS yang juga ketua panitia seminar mengutarakan, keanekaragaman budaya di kawasan Danau Toba merupakan kekuatan kultural sebagai daya tarik untuk wisatawan. Apalagi dengan penetapan Kaldera Toba sebagai anggota Unesco Global Geopark (UGG), maka saatnya semua pihak memberi perhatian pada keanekaragaman budaya sebagai daya tarik wisata di Kaldera Toba.

Menurutnya, ada harapan di masa mendatang, bahwa pengembangan Kawasan Danau Toba akan semakin nyata dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal apabila mendapat pengelolaan dengan baik. Pengelolaan potensi budaya daerah di Kawasan Danau Toba dapat melibatkan para akademisi berlatar belakang budaya dan merekrut para alumni yang berlatar belakang budaya dari Fakultas Ilmu Budaya USU.

Sedangkan mengenai rencana 'IASDABA' membuat seminar, kata dia, adalah berdasarkan keinginan berbuat baik untuk kawasan Danau Toba. Prof Robert pun berharap, agar keinginan itu dapat tersiar dan tersampaikan dengan baik kepada masyarakat.

"Ini adalah seminar yang digagas oleh IASDABA dengan harapan, sesuai dengan namanya, akan tercipta Danau Toba yang 'ias' (bersih). Kemudian, bagaimana agar pengelolaan Kaldera Danau Toba berbasis budaya. Yang artinya berbasis budaya tujuh daerah yang ada di Kawasan Danau Toba, antara lain, Samosir, Simalungun, Humbahas, Toba, Taput, Karo, dan Dairi," paparnya.

Harus disyukuri, kata Prof Robert, di dunia ini, danau terindah adalah Danau Toba. "Diciptakan oleh Tuhan melalui letusan Gunung Toba. Jadi keindahan itu bisa menjadi atraksi selain penampilan budaya. Juga soal tumbuhan yang sebenarnya unik, seperti andaliman. Demikian juga dengan hayati yang unik seperti ihan, pora-pora, yang tidak ada pada daerah lain,"sebutnya.

Sementara Sekretaris Panitia Seminar Tigor Tampubolon, berharap, hasil dari seminar ini bisa menjadi pedoman bagi pemerintah dalam memajukan kawasan masing-masing. Termasuk tentunya Kawasan Danau Toba.

Tidak lupa Tigor mengingatkan, bahwa sebenarnya orang Batak adalah penjamu tamu yang baik. Dan tentunya ini akan sangat sinkron apabila dikaitkan dengan kawasan Danau Toba yang butuh kunjungan pendatang (tamu).

"Ada istilah dalam orang Batak yaitu 'maramak na so balunon'. Ini bermakna, bahwa orang Batak selalu terbuka untuk tamu. Suka menjamu tamu dan selalu bersikap hangat kepada tamu. Kalau ini benar-benar dijalankan, maka turis tentunya akan menjadi betah dan rindu untuk datang kembali," urainya.(R7/c)


Tag:

Berita Terkait

Pariwisata

Kejati Sumut Terima Pengembalian Kerugian Rp 13,1 Mi dari Kasus Korupsi Proyek KSPN Danau Toba

Pariwisata

Sinode HKI ke-65, 4 Calon Ephorus dan 5 Calon Sekjen Bersaing Lewat Mekanisme Cabut Undi

Pariwisata

Residivis Kembali Ditangkap, Polres Pematangsiantar Ungkap Kepemilikan Ganja di Jalan Medan

Pariwisata

Alfamidi Gelar Edukasi ASI dan MPASI Tepat Usia di Tebing Tinggi

Pariwisata

Hanyut di Sungai Janji Lobi, Balita 2 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa

Pariwisata

Libur Imlek 2026, Objek Wisata Danau Toba di Sirukkungan Ramai Pengunjung