Dukung Wisata Berkelas Internasional, Huta Siallagan dan Huta Raja Mulai Dibangun

* Juga Siapkan Konsep Patung Sigale-Gale Raksasa
Redaksi - Minggu, 21 Februari 2021 11:52 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/berita/dir022021/_8823_Dukung-Wisata-Berkelas-Internasional--Huta-Siallagan-dan-Huta-Raja-Mulai-Dibangun.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
(Foto SIB/Roland Tambunan)
Huta Siallagan: Huta Siallagan, Samosir mulai dibangun dan ditata untuk mendukung wisata internasional, Kamis (17/2).

Samosir (SIB)

Sejak ditetapkan sebagai destinasi pariwisata super prioritas oleh pemerintah pusat, perlahan kondisi sejumlah desa di kawasan Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara semakin meningkat.

Salah satunya seperti yang terlihat di Huta (Desa) Siallagan, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Sarana dan prasarananya diperbaiki dan ditingkatkan kuantitas serta kualitasnya menuju objek wisata berkelas internasional.

Informasi yang dihimpun, Rabu (17/2), proyek yang dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tersebut mencakup dua desa yakni penataan Huta Siallagan dan Huta Raja. Adapun biayanya bersumber dari APBN 2021 senilai Rp52 miliar.

"Saat ini progres pembangunannya sudah 20 persen lebih. Mulai dikerjakan tim Kementerian PUPR sejak Januari 2021. Ditarget selesai kata Pak Luhut bulan Juli 2021," kata Gading Siallagan, tokoh masyarakat adat Huta Siallagan menjawab wartawan.

Penataan di Huta Siallagan misalnya ungkap dia, menelan biaya hingga Rp37 miliar. Antara lain yang dibangun ataupun direvitalisasi, rumah masyarakat setempat yang nantinya menjadi homestay bagi para wisatawan. Kemudian pembangunan sopo angin, sopo utama, rumah toko lingkar Tuk-Tuk dan penggantian atap rumah adat Batak.

"Banyak titik yang sebenarnya dibangun di sini. Selain yang saya sebut tadi, pemasangan batu alam untuk semua lantai di kawasan yang dibangun. Jadi diganti semua yang bentuk coran (semen) itu dengan batu alam," katanya.

Tak hanya itu, di sana nanti lanjut Gading, telah disiapkan konsep pembangunan patung Sigale-Gale raksasa yang akan menari secara otomatis setiap satu jam sekali. Menko Maritim dan Investasi RI, Luhut Binsar Pandjaitan pun, ungkap dia, langsung merespon positif rencana tersebut.

"Panjangnya 15 meter. Saya gunakan teknologi pesawat terbang untuk membuat itu. Pak Luhut juga sudah setujui dan meminta saya kirim drafnya untuk dicarikan dana CSR membangun patung Sigale-Gale raksasa tersebut. Mudah-mudahan Juli 2021 kalian datang lagi ke mari, sudah ada patungnya," kata penerus keluarga Raja Siallagan penuh optimis.

Menurutnya, patung Sigale-Gale merupakan ikon pemanggil wisatawan untuk datang ke Danau Toba terkhusus Huta Siallagan. Ia optimis, desa tersebut bakal menjadi salah satu destinasi wisata bertaraf internasional melalui gelontoran anggaran untuk pembangunan yang dikucurkan pemerintah pusat saat ini.

Adapun luas areal pembangunan di Desa Siallagan sekira 4000 meter persegi. Kementerian PUPR menjadi leading sector dalam peningkatan sapras pada desa tersebut. "Saya sampaikan kepada kepala desa kami, nanti tolong dibuatkan plang desa homestay di sini," katanya.

Selain aspek kultur, daya tarik wisatawan berkunjung ke Desa Siallagan lantaran wilayah tersebut tercatat sebagai museum. Kemudian, cerita mengenai peradaban di desa itu juga memiliki daya tarik yang kuat untuk diketahui wisatawan.

"Ya, desa ini akan jadi desa museum. Penuh cerita kearifan lokal dan adat istiadat, serta akan ada tari-tarian juga. Tari-tarian Batak di desa ini secara lengkap akan kami edukasi kepada wisatawan yang berkunjung," pungkasnya.

Kemenparekraf RI terus gencar mensosialisasikan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 pada lima destinasi pariwisata super prioritas, termasuk Geopark Kaldera Toba (GKT) . Kegiatan dimaksud notabene tindak lanjut atas capaian GKT mendapat sertifikasi sebagai warisan budaya dari UNESCO Global Geopark (UGG) pada 2020.

Dalam kunjungan kerja pekan ini di Parapat, Kemenparekraf telah menggelar acara sosialisasi dan simulasi program Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan serta Kelestarian Lingkungan (Cleanliness, Health, Safety and Environmental sustainability/CHSE) berikut pedoman pelaksanaannya kepada para pelaku atau asosiasi pariwisata di sekitar objek wisata tersebut, serta di Sumut secara umum.

Kemenparekraf ingin menunjukkan bahwa Indonesia siap menyambut wisatawan domestik dan mancanegara di masa pandemi, dengan penerapan CHSE dan prokes Covid-19 secara ketat. Terutama dalam sektor Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) berskala internasional.(M11/d)

Sumber
: Hariansib edisi cetak

Tag:

Berita Terkait

Pariwisata

Samosir Kian Mendunia, “Negeri Indah Kepingan Surga” Masuk Destinasi Terbaik Asia 2025

Pariwisata

Wantimpres Agung Laksono Kunjungi Objek Wisata Huta Siallagan Samosir

Pariwisata

Dukung Wisata Berkelas Internasional, Patung Sigale-Gale Raksasa akan Dibangun