Dairi (SIB)- Jalan berair dan berlumpur menyapa kaki saat itu, ketika rombongan sudah tiba di bibir hutan Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike. Deraian anak sungai pada pinggiran hutan ditambah dengan kicauan burung pagi hari itu, membawa dan menghantar kami hingga masuk dalam hutan. Sungai Lae Pandaroh, salah satu sungai yang dijadikan sumber mata air untuk Kota Sidikalang mengalir dengan setia dengan warnanya yang khas. Disebut Lae Pandaroh, karena warna air sungai ini coklat kemerah-merahan bagaikan darah (Daroh-Bahasa Pakpak).Selain pesona aliran sungai, rombongan juga sangat menikmati ‘barisan’ pohon-pohon yang berdiri tegak dan memberikan udara segar sepanjang jalan itu. Sampinur tali, sampinur bunga, haundolog dan pohon kemenyan, terlihat memberikan pesona hutan yang sangat asri. Jenis-jenis pohon sampinur yang sudah tua adalah salah satu identitas TWA kebanggaan Kabupaten Dairi itu. Selain berdiri tegak, sampinur juga terlihat sudah terletak dan tumbang karena termakan usia atau busuk, yang melintang di sepanjang jalan tikus berliku-liku.Setelah masuk ke dalam hutan, rombongan harus lebih was-was untuk meniti jalan yang hanya dilalui satu orang saja. Selain jalan sempit dan berair (lumpur-gambut), harus was-was menjaga pacat yang sudah menunggu pada setiap tepi jalanan. Suhu udara yang sangat dingin membuat perjalanan tidak terasa letih dan berkeringat. Suhu ini juga yang membuat binatang penghisap darah itu mampu bertahan hidup di lokasi itu.Lebih kurang 30 menit, rombongan tiba pada telaga I yang sudah sering disebut dengan Danau Sicike-cike yang khas dengan tumbuhan Cike pada pinggiran telaga.Pinggiran telaga ini ditumbuhi tanaman Cike dan Kantong Semar. Kantong semar yang dulunya hanya 3 jenis, kini sudah menjadi 6 hingga 8 karena adanya perkawinan silang yang terjadi secara alami. Telaga-telaga yang ada di TWA Sicike-cike ini sangat unik. Uniknya, tidak ada aliran (sungai dan anak sungai) yang mengantar air ke dalamnya dan tidak ada juga yang membawa air tersebut keluar; akan tetapi, airnya tidak pernah surut dan tidak pernah naik.Usai menjelajahi 3 telaga (I, II dan III) rombongan berbalik arah menuju air terjun. Jauh-jauh sebelumnya, petugas dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BB-KSDA) Provinsi Sumut dan KSDA Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Dairi telah bercerita tentang keberadaan air terjun tersebut, dan diakuinya belum memiliki nama.Jalan menuju air terjun tersebut berbeda dengan jalan-jalan menuju telaga-telaga yang sudah dilalui rombongan. Selain kecil dan berair, jalan menuju air terjun tersebut sangat terjal dan licin, sehingga siapa saja harus menggunakan akar pohon dan pohon-pohon kecil sebagai penyangga untuk turun menuju pusat terjunan air yang diketahui dari Lae Prada Pakapk Bharat. Kondisi medan inilah yang membuat rombongan harus lama tiba pada pusat air terjun tersebut.Rombongan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di air terjun dalam kawasan TWA Sicike-cike. Rombongan, terkagum-kagum melihat indah dan menawannya air terjun tersebut. Diperkirakan, bahwa tinggi air terjun tersebut ± 70 M dengan luas 20 X 20 M2. Sedangkan kondisi air terjun tersebut, masih sangat alami. Terlihat dari batu-batu yang tidak terkena air, masih berlumut dan berwarna hijau. (B05/c)