Kendal (SIB)- Wisata tidak melulu harus mahal. Salah satu tempat murah meriah untuk melihat alam adalah hutan jati yang ada di Kendal. Sekilas hutannya yang mengering tampak seperti di cerita dongeng.
Setelah mengunjungi Pantai Cahaya, perjalanan kami bersama mobil Datsun Go+ dilanjutkan menuju Yogyakarta. Yang penting kan kebersamaan dan kebahagiaan yang tercapai dalam wisata itu.
Di salah satu titik hutan, om Diediet yang sudah sangat hafal jalan, menghentikan mobil di area hutan jati milik Perhutani. Ternyata hutan jati yang sudah dimatikan dua tahun yang lalu memberikan pemandangan yang keren banget.
Apalagi kemudian kami mendapat informasi berharga dari Pak Khasan, Kepala Resort Pemangku Hutan (KRPH). Tadinya kami menduga bahwa hutan jati merangas itu mati karena kekeringan. Ternyata tidak seperti itu.
Pohon-pohon jati yang sudah siap panen akan diteres. Yaitu mematikan pohon jati dengan memotong jalur-jalur makanannya. Setelah teres berhasil, akan ditunggu sampai betul betul kering. Hal itu untuk menghindari kayu yang pecah saat ditebang. Lama waktu menunggu itu sekitar 2 tahun.
Bagi pemburu anggrek, masa penebangan juga bisa jadi waktu untuk berburu anggrek. Saya melihat di tiap-tiap pohon ada anggreknya. Bayangkan saja jika ratusan pohon jati itu ditumbuhi anggrek-anggrek spesies, bisa jadi kolektor anggrek mendadak lho.
Tidak hanya pada anggrek yang mau ditebang, di lokasi hutan lain di Alas Roban yang masih belum masa panen, berwisata bareng keluarga juga asyik lho. Menikmati segarnya udara hutan jati dan rimbunnya hutan jati dengan murah dan meriah juga bisa dilakukan.
Memang kemudian harus ada fasilitas pendukungnya seperti toilet. Sebab tak elok juga jika pengunjung harus buang air di semak-semak. Bisa saja pos penunggu hutan ditambahi toilet yang cukup memadai. Sebab toilet yang ada sekarang di pos Pak Khasan sangat tidak memadai.(detikTravel/c)