Sugapa (SIB)- Tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015 dijadwalkan tiba di Basecamp Carstensz. Tinggal satu tahap lagi menuju Puncak Carstensz. Tapi sebelum itu, simak dulu cerita Carstensz dan kisah batu yang terlarang.Carstensz sebagai puncak tertinggi di Indonesia diambil dari nama seorang penjelajah Belanda, John Carstensz. Tahukah Anda, ternyata Carstensz ada nama aslinya lho."Nama aslinya adalah Mpaigela yang artinya batu larangan dalam bahasa Suku Moni," ujar Maximus Tipagau, Ketua Yayasan Somatua sekaligus penanggung Jawab Tim Ekspedisi Jurnalis ke Puncak Carstensz 2015.Maximus menambahkan, nama tersebut sudah diberikan sejak lama oleh Suku Moni sebagai suku yang terbanyak mendiami wilayah di sekitar Puncak Carstensz. Bahkan, sebelum John Carstensz menginjakan kaki di tanah Papua, Suku Moni sudah lama tinggal di sana."John Carstensz datang ekspedisi sebagai tamu. Dia datang di daratan rendah di Timika, itu namanya Kokonau, sebuah kabupaten. Dari sana memandang gunung dan terlihat salju," terangnya.Kembali soal ke nama asli Puncak Carstensz, Mpaigela yang artinya batu terlarang. Suku Moni ketika melihatnya merasa kalau tidak akan ada yang sanggup dan tidak akan selamat untuk mencapai ke sana. Maka itu, setiap orang dilarang menuju puncaknya."Kepercayaan itu sudah dari zaman dulu dan masih dipercaya hingga sekarang. Ya, dikeramatkan jugalah" katanya.Namun Maximus menegaskan, tim jurnalis yang bakal mendaki ke Puncak Carstensz dipandu oleh tim yang profesional. Ada Hendricus Mutter, ketua tim pemandu yang sudah 8 kali bolak-balik membawa turis ke Puncak Carstensz, Ardeshir Yaftebbi yang pernah mendaki Seven Summit alias tujuh puncak tertinggi di dunia yang salah satunya adalah Puncak Carstensz dan Arif Fathurrohman selaku manager basecamp dengan keahlian navigasi yang mumpuni.Bersama tim jurnalis termasuk detikTravel, ikut juga 1 pendaki dari Wanadri, 2 pendaki dari NTB dan 1 pendaki dari Lombok. Mereka didampingi sekitar 17 porter. (detikTravel/k)