Jakarta (SIB) -Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) mendapat penghargaan Organisasi Masyarakat Award bidang pendidikan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), karena dinilai telah berkontribusi besar membantu pemerintah di bidang pemberdayaan perempuan, tata kelola pemerintahan, penggalangan bencana, kebudayaan, kesehatan, lingkungan hidup, bakti sepanjang hidup untuk merawat ke-Indonesiaan.
Penghargaan berupa plakat dan piagam tersebut diserahkan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo kepada Ketua YPSIM, Finche Kosmanto mewakili Pendiri YPSIM, Dr Sofyan Tan di Ballroom Hotel Redtop Jakarta, Selasa (6/11).
Ketua YPSIM Finche Kosmanto menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diberikan pemerintah melalui Kemendagri kepada YPSIM.
Sebab, apresiasi ini menjadi tambahan energi bagi YPSIM untuk terus berkarya mencetak generasi yang menghormati perbedaan melalui konsep pendidikan multikultural yang diterapkan di YPSIM sejak berdiri pada 1987 lalu.
Bagi YPSIM, penghargaan ini bukanlah yang pertama karena pada 2014 silam, yayasan pendidikan yang berlokasi di Medan Sunggal, Kota Medan ini juga pernah mendapatkan penghargaan tingkat nasional yaitu Maarif Award dan Anugerah Perduli Pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
"Kami menyampaikan terimakasih kepada pemerintah yang telah memberikan penghargaan kepada YPSIM. Penghargaan ini tentunya menjadi tambahan energi baru bagi YPSIM untuk terus perduli kepada masyarakat khususnya anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa," kata Finche usai menerima penghargaan sambil menambahkan, tugas mereka selanjutnya adalah bagaimana mengimplementasikan pendidikan multikultural yang digagas pendiri sekolah Dr Sofyan Tan, di dalam pembelajaran sehari-hari kepada anak didik.
Menurutnya, toleransi atau sikap menghormati perbedaan agama, suku dan ras memang masih menjadi persoalan yang dihadapi Indonesia hingga kini.
Perbedaan masih disikapi dengan cara-cara yang intoleran. Makanya, salah satu cara terbaik untuk mengubah sikap-sikap intoleran adalah lewat jalur pendidikan.
"Aksi-aksi intoleran yang terjadi memang sangat merisaukan terutama bagi kami keluarga pendidik. Tetapi kami tetap optimis dan percaya melalui pendidikan, hal itu semua bisa dirubah," ujar Finche.
Melalui pendidikan, anak-anak dibiasakan sejak usia dini bahkan mulai dari tahap play group ditanamkan terus-menerus nilai multikulturalnya.
Bagaimana satu dengan yang lain bisa saling menghargai. Artinya boleh berbeda dari sisi agama, etnis dan suku, warna kulit maupun budaya. Tetapi semuanya satu dalam Indonesia. Karena itu, diharapkan anak-anak bangsa tidak saling mempermasalahkan, meskipun ada perbedaan atau keberagaman.
Finche mengemukakan, selain mengajarkan hal-hal yang bersifat akademik, sejak didirikan pada 25 Agustus 1987 di Medan Sunggal, YPSIM konsisten menerapkan pendidikan multikultural, kepada seluruh siswa mulai dari tingkat Pendidikan Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas serta Sekolah Menengah Kejuruan.
"Kita memulainya dengan hal-hal sederhana untuk anak-anak sesuai dengan usianya. Kami juga sudah menerbitkan buku panduan berjudul Praktek Pendidikan Multikultural yang ditulis oleh guru-guru kita sendiri. Setiap guru memasukkan nilai-nilai multikultural di dalam bidang studi yang diajarkan" kata Finche sambil memberi contoh guru Biologi IPA ketika menjelaskan tentang mahluk hidup itu ada manusia, hewan dan tumbuhan.
Kalau anak-anak sudah diajarkan dan ditanamkan nilai-nilai multikultural sejak kecil pastinya dia akan tumbuh besar dengan jiwa yang nasionalis, Pancasilais yang tidak membedakan satu dengan lainnya.
Finche yakin didikan untuk menghormati perbedaan yang diterima para siswa selama mengenyam pendidikan pasti akan selalu tertanam dalam jiwa mereka.
Setelah mereka lulus dan melanjutkan studi ke tingkat universitas di luar YPSIM, mereka akan menjadi 'lilin-lilin' yang menerangi lingkungan di manapun berada. (J 01/d)