Mahasiswa UMM Ciptakan Alat Pendeteksi Kebakaran Hutan

- Senin, 13 Januari 2020 22:15 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/01/5245_Mahasiswa-UMM-Ciptakan-Alat-Pendeteksi-Kebakaran-Hutan.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
malangvoice.com
mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan sistem pintar atau teknologi yang bernama Integrated Forest Fire Management System.

Malang (SIB)

Sekelompok mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan sistem pintar atau teknologi yang bernama Integrated Forest Fire Management System. Ini berupa alat yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mendeteksi kebakaran hutan.

"Cara kerja sistem ini adalah dengan memanfaatkan sensor LM35 dan sensor flame dengan menggunakan artificial intelligence sebagai pemroses data," ujar perwakilan kelompok, Billy Aprilio.

Billy menerangkan, ide pembuatan Integrated Forest Fire Management System dilatar-belakangi dengan kondisi hutan Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen-LHK) 2018, luas lahan berhutan di Indonesia mencapai 93,5 juta hektare.

Oleh karenanya, Indonesia kerap dianggap menjadi penyumbang terbesar kadar oksigen dunia. Selain itu, Indonesia juga diketahui sebagai negara ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis. "Namun kebakaran hutan, baik yang terjadi karena musim kemarau atau pembukaan lahan ilegal, menjadi masalah yang tak kunjung usai," ujar Billy, Jumat (3/1).

Menurut dia, inovasinya bersama Yasril Imam dan Ulfah Nur Oktaviana ini dapat mengurangi perluasan dampak kebakaran. Pasalnya, inputan yang didapat dari teknologinya berupa temperatur suhu dan nyala api.

Adapun ihwal cara kerja, Billy menerangkan, sensor alat akan mendeteksi secara otomatis ketika terjadi kebakaran. Kemudian sistem akan memberikan perintah memompa air untuk disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran.

Sementara untuk air, Billy mengungkapkan, ini didapatkan dari pembuatan penampungan embun alami. Lebih tepatnya memanfaatkan pemanen embun dengan jaring atau fog harvesting.

Menurut dia, penyemprot akan mengeluarkan air pada periode waktu tertentu. Kemudian alat akan melakukan pengecekan ulang terhadap suhu sekitar. Jika dinilai masih terdeteksi suhu tinggi, maka penyemprot akan diaktifkan kembali.

Inovasi Billy dan tim juga dapat mendeteksi kategori kebakaran hutan tingkat tinggi. Jika terjadi demikian, maka sistem secara otomatis akan mengirimkan sinyal tempat kebakaran pada komputer pusat. Dengan demikian diharapkan tidak terjadi kebakaran yang jauh lebih besar.

"Dan selanjutnya, hasil dari fog harvesting akan disalurkan ke tangki air (water tank) sebagai tempat penampungan," ujarnya.

Dengan adanya sistem pintar ini, Billy berharap, dapat membantu meminimalisasikan terjadinya kebakaran hutan besar. Mereka berharap teknologi ini bisa segera direalisasikan dalam waktu dekat. (RoL/d)

Berita Terkait

Pendidikan

Kata-kata Delpedro dkk Usai Divonis Bebas di Kasus Penghasutan Demo Ricuh

Pendidikan

Tolak Restorative Justice, Korban Penganiayaan Bahar bin Smith Serahkan Surat ke Polisi

Pendidikan

Owner Bibi Kelinci Kemang Dituntut Bayar Rp 1 Miliar oleh Pencuri di Restorannya

Pendidikan

Owner Bibi Kelinci Kemang Jadi Tersangka, Dilaporkan Pencuri di Restorannya

Pendidikan

Diikuti 700 Peserta, SMA Swasta RK Budi Mulia Pematangsiantar Gelar Seleksi Calon Peserta Siswa Baru TA 2026/2027

Pendidikan

PGN Berbagi Kasih dengan Anak Yatim pada Safari Ramadan Pertamina