Nadiem Minta Perguruan Tinggi Lakukan 'Nikah Massal'

* Keseragaman Tidak Menghasilkan Kualitas
Redaksi - Senin, 27 Januari 2020 21:53 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/01/_5267_Nadiem-Minta-Perguruan-Tinggi-Lakukan---039-Nikah-Massal--039-.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
news.detik.com
"Kita ingin melakukan kolaborasi atau bisa disebut juga 'pernikahan massal'. Apa yang dimaksud dengan pernikahan massal? Pernikahan massal antara universitas dan berbagai macam pihak di luar universitas untuk menciptakan prodi-pr

Jakarta (SIB)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memberi kebebasan kepada perguruan tinggi (PT) untuk menciptakan program studi (prodi) baru. Dia pun meminta perguruan tinggi turut menggandeng berbagai lembaga.

"Kita ingin melakukan kolaborasi atau bisa disebut juga 'pernikahan massal'. Apa yang dimaksud dengan pernikahan massal? Pernikahan massal antara universitas dan berbagai macam pihak di luar universitas untuk menciptakan prodi-prodi baru," kata Nadiem di Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (24/1).

Nadiem menjelaskan kebijakan tersebut hanya dapat dilakukan oleh universitas yang memiliki akreditasi A dan B. Selain itu, universitas tersebut harus sudah memiliki kerja sama dengan perusahaan berkelas dunia.

"Untuk universitas yang punya akreditasi A dan B, tidak perlu lagi melalui proses perizinan prodi di Kementerian, tidak usah lagi dicocokkan dengan rumpun ilmu yang mana, ketetapan yang mana, dan lain-lain, asal mereka bisa membuktikan mereka melakukan kerja sama dengan dan/atau ya perusahaan berkelas dunia. Organisasi nirlaba berkelas dunia, contohnya seperti PBB, Bank Dunia dan lain-lain. Ketiga, BUMN maupun BUMD. Dan yang keempat adalah top QS 100 University," ucap Nadiem.

KESERAGAMAN TIDAK MENGHASILKAN KUALITAS

Sebelumnya, Nadiem kembali bicara mengenai program 'Merdeka Belajar'. Dia menjelaskan makna program tersebut bertujuan membuat sistem belajar menjadi lebih merdeka.

"Saya ingin bicara sedikit mengenai sebenarnya apa sih makna daripada program 'Merdeka Belajar'. Kenapa disebut merdeka belajar? Ini bukan merdeka dari belajar ya. Tapi belajar dengan cara yang merdeka," jelas Nadiem.

Nadiem mengatakan sistem pendidikan itu tidak sama dengan sistem perusahaan. Menurutnya pendidikan jauh lebih kompleks daripada perusahaan.

"Pendidikan itu unik. Pendidikan tuh bukan seperti perusahaan, bukan seperti bisnis. Karena produk utamanya adalah bibit-bibit bangsa masa depan kita. Yang keluar dari pabrik yang namanya sekolah itu adalah manusia. Itu luar biasa tugasnya, luar biasa sulitnya, tugas yang luar biasa kompleksnya," kata Nadiem.

Nadiem juga mengatakan keseragaman yang selama ini diterapkan di sistem pendidikan tidak menghasilkan kualitas yang diharapkan. Dia ingin agar sistem pendidikan mulai menerapkan keberagaman dalam melakukan transformasi sekolah.

"Ini merupakan hal yang sebenarnya sangat obvious bahwa keseragaman sama sekali tidak menghasilkan kualitas yang kita harapkan. Itu sudah gagal keseragaman, ya kita sudah berpuluh-puluh tahun mencoba itu. Marilah kita ke depannya mencoba keberagaman. Bukan hanya keberagaman dalam arti misalnya contoh fleksibilitas dari kurikulum tapi keberagaman dari cara-cara transformasi sekolah," ujar Nadiem.

Nadiem pun menyebut peran civil society dan perusahaan-perusahaan dapat membantu perubahan transformasi di bidang pendidikan. Dia mengatakan Kemendikbud juga akan melibatkan civil society dalam mewujudkan transformasi di sekolah.

"Makanya untuk mencari jalur-jalur yang terbaik untuk melakukan transformasi sekolah ini. Perannya civil society termasuk yayasan seperti Yayasan Pendidikan Astra ini luar biasa pentingnya. Paradigma kementerian ke depan akan berubah secara drastis. Kita akan melakukan bermacam aktivitas dan kita akan fokus kepada civil society organization. Kita akan mendukung dan juga bermitra," ujar Nadiem.

Menurut Nadiem dalam upaya memajukan pendidikan yang inovatif seluruh pihak harus turut berpartisipasi di dalamnya. "Karena ini bukan tugasnya pemerintah saja dan tidak akan mugkin sukses kalau hanya pemerintah saja. Semua guru harus mulai bergerak, semua dosen harus mulai bergerak perusahaan perusahaan harus mulai bergerak," tutur Nadiem. (Detikcom/q)

Berita Terkait

Pendidikan

Kata-kata Delpedro dkk Usai Divonis Bebas di Kasus Penghasutan Demo Ricuh

Pendidikan

Tolak Restorative Justice, Korban Penganiayaan Bahar bin Smith Serahkan Surat ke Polisi

Pendidikan

Owner Bibi Kelinci Kemang Dituntut Bayar Rp 1 Miliar oleh Pencuri di Restorannya

Pendidikan

Owner Bibi Kelinci Kemang Jadi Tersangka, Dilaporkan Pencuri di Restorannya

Pendidikan

Diikuti 700 Peserta, SMA Swasta RK Budi Mulia Pematangsiantar Gelar Seleksi Calon Peserta Siswa Baru TA 2026/2027

Pendidikan

PGN Berbagi Kasih dengan Anak Yatim pada Safari Ramadan Pertamina