Hanya 13,5 Persen Guru Berpotensi jadi Penggerak

Redaksi - Senin, 16 Maret 2020 20:02 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/berita/dir032020/_1675_Hanya-13-5-Persen-Guru-Berpotensi-jadi-Penggerak.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Indra Charismiadji

Jakarta Barat (SIB)

Pengamat dan praktisi pendidikan abad 21 Indra Charismiadji mengungkapkan, hanya 13,5 persen guru dari total 3 juta pendidik yang berpotensi menjadi penggerak. Itupun mereka harus dilatih untuk “melompati jurang”.

"Kemampuan guru PNS maupun honorer kita didominasi di level mayoritas awal dan lambat sesuai teori Everett M. Rogers, seorang pakar ilmu sosial dalam teori difusi inovasi," kata Indra, Rabu (11/3).

Kondisi ini menurutnya akan menyulitkan Mendikbud Nadiem Makarim dalam program guru penggerak.

Angka 13,5 persen atau sekitar 400 ribu guru yang berpotensi menjadi penggerak. itupun baru di level pengadopsi awal. Mereka harus dilatih sekitar enam bulan sampai setahun. Bila kurang dari enam bulan, target yang diharapkan tidak akan tercapai.

"Jika tahun ini difokuskan untuk menyiapkan para pelatih guru penggerak, maka mulai 2021 cukup melatih 100 ribu guru penggerak per tahun saja," terangnya.

Jumlah ini, lanjut Indra, jika dibagi dengan jumlah LPTK (lembaga pendidikan tenaga kependidikan) penyelenggara PPG (program pendidikan guru) sejumlah 65 dan pusat pelatihan Kemendikbud (PPPTK dan LPMP) dengan jumlah 35, maka setiap tempat pelatihan cukup melatih 1000 orang guru penggerak saja per tahun. Jumlah yang mudah dikelola dan hasilnya juga mudah dipertanggungjawabkan.

Indra membeberkan, sesuai teori Alvin Toffler, di abad 21 ini, mereka yang disebut tuna aksara atau buta huruf bukanlah yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan mereka yang tidak bisa learn, unlearn, dan relearn.

"Untuk menjadi guru penggerak tidak bisa disiapkan dalam konsep learn, melainkan harus unlearn baru kemudian relearn," ucapnya.

Lokakarya yang selama ini diberikan Kemendikbud akan diterima dengan konsep learn, analoginya sama dengan mengisi sebuah gelas. Apabila gelasnya sudah penuh maka apapun yang diisi hanya akan tumpah.

Para guru sudah penuh otaknya dengan konsep pendidikan lama. Di mana guru menjadi satu-satunya sumber belajar dan pola pendidikannya didorong oleh pola manufaktur.

"Agar berubah menjadi guru penggerak mereka harus di unlearn dulu konsep pedagoginya, analoginya seperti membuang isi di dalam gelas. Proses unlearn ini butuh waktu yang cukup panjang karena mengubah suatu kebiasaan," terang direktur eksekutif CERDAS (Center for Education Regulations & Development Analysis) ini lagi.

Indra mencontohkan Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Thailand, proses unlearn membutuhkan waktu minimum 6 bulan sampai dengan 12 bulan. Setelah unlearn, proses relearn atau mengisi gelas dengan isi baru akan cepat sekali. (jpnn/d)

Berita Terkait

Pendidikan

Kata-kata Delpedro dkk Usai Divonis Bebas di Kasus Penghasutan Demo Ricuh

Pendidikan

Tolak Restorative Justice, Korban Penganiayaan Bahar bin Smith Serahkan Surat ke Polisi

Pendidikan

Owner Bibi Kelinci Kemang Dituntut Bayar Rp 1 Miliar oleh Pencuri di Restorannya

Pendidikan

Owner Bibi Kelinci Kemang Jadi Tersangka, Dilaporkan Pencuri di Restorannya

Pendidikan

Diikuti 700 Peserta, SMA Swasta RK Budi Mulia Pematangsiantar Gelar Seleksi Calon Peserta Siswa Baru TA 2026/2027

Pendidikan

PGN Berbagi Kasih dengan Anak Yatim pada Safari Ramadan Pertamina