Yogyakarta (SIB)- Indonesia perlu mengubah komposisi pendidikan dengan memperbanyak porsi sekolah keterampilan, kata Rektor Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Pratikno.“Perbandingannya adalah sekolah menengah atas sebanyak 40 persen, dan sekolah menengah keterampilan sebanyak 60 persen,†katanya pada “Joint Seminar Sekolah Vokasi UGM dan 10 National College of Technology, Jepangâ€, di Yogyakarta, Kamis.Menurut dia, hal itu perlu dilakukan karena sektor swasta akan semakin terbuka luas dan menjanjikan, sekaligus mempersiapkan untuk memenangkan persaingan dengan para tenaga terampil dari luar negeri.“Berbicara abad Asia tentu tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi yang terjadi di China, India, Singapura, dan Indonesia saat ini. Sebanyak 65 persen daya beli saat ini berada di Indonesia, hal ini tentu menjadi peluang besar sekaligus tantangan bagi tenaga terampil,†katanya.Ia mengatakan telah terjadi kebangkitan ekonomi di selatan setelah sekian tahun didominasi negara-negara utara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Italia.“Saat ini globalisasi telah memasuki semua sektor kehidupan secara masif dan menjadi kenyataan yang tidak terhindarkan lagi. Globalisasi dan keterbukaan ekonomi bisa kita dapati dalam hidup keseharian, tidak harus ke mal atau supermarket, di kaki lima pun telah terglobalisasi, contohnya buah dan daging impor,†katanya.Direktur Sekolah Vokasi (SV) UGM Hotma Prawoto Sulistyadi mengatakan dengan jumlah mahasiswa aktif lebih dari 9.000 orang dan jumlah mahasiswa baru rata-rata sekitar 2.500-3.000 orang, menjadikan SV UGM unit yang besar dan memiliki peran strategis dalam membangun Indonesia.“Tantangan bagi SV UGM saat ini adalah mempersiapkan Indonesia untuk merebut kembali kedaulatan di segala bidang, khususnya bidang ketenagakerjaan, teknologi, dan produk,†katanya.Menurut dia, keterpurukkan di bidang kedaulatan serta pertumbuhan ekonomi yang semakin jauh dari cita-cita para pendiri bangsa perlu mendapat perhatian dan penanganan yang serius.“Potensi besar yang dimiliki Indonesia perlu dikelola secara bijaksana untuk sebesar-besar kemakmuran bangsa. Inilah tantangan sesungguhnya bagi bangsa ini,†katanya. (Antara/W)