Medan (SIB)- Memiliki tekad kuat dan kemauan keras adalah sifat yang harus dijunjung tinggi dalam menggapai cita-cita. Namun di balik itu semua, ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan tidak terlalu banyak berharap dan berkhayal juga menjadi penyeimbangnya. Hal itulah yang menjadi dasar pemikiran Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sumut Syafrida S Rasahan dalam mencapai keberhasilannya sebagai satu-satunya wanita yang menjadi komisioner pengawas Pemilu sejak dibentuk pada 2013. Namun yang menjadi tantangan menarik baginya, bagaimana membentuk mindsite lembaga itu menjadi bermartabat di tengah masyarakat."Kami yang pertama sekali komisioner yang menjabat sejak dibentuknya Badan Pengawas Pemilu di tingkat provinsi. Ibaratnya, kami ini bahan uji cobanya. Sekarang pertanyaannya, apakah kami dapat membentuk mindset yang positif, bermartabat dan berintegritas di tengah masyarakat ? Itulah tugas kami sekarang ini," katanya di Medan, Rabu (16/9).Alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) tamat tahun 2002 itu berpandangan bahwa tugas sebagai komisioner sangatlah bertanggungjawab namun santai. "Bertanggungjawab itu dikarenakan, kita ini bersama para komisioner KPU yang mencetak para pemimpin dan anggota dewan yang memiliki karakter sesuai yang diharapkan masyarakat. Dan kita ini juga yang menjadi orang yang paling bertanggung jawab apabila para pemimpin yang dicetak tidak sesuai harapan masyarakat. Kita harus bisa membuat paradigma masyarakat berpikir luas untuk menggunakan hak pilihnya secara bijak dan arif," pungkas wanita yang bertubuh mungil ini.Ida, begitulah sapaan akrab baginya, mengatakan ia memiliki keinginan untuk lebih konsen ke bidang kepemiluan sejak di bangku kuliah. Wanita yang aktif dipergerakan mahasiswa era reformasi tahun 1998 itu membentuk wadah yang menurutnya sebagai tempat ide kreatifnya bersama kawan-kawan lainnya untuk berekspresi. Wadah itu adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) North Sumatera Crisis Center (NSCC) yang konsen dalam pengawasan pemilihan kepala daerah. Meski pada tahun 2004 lalu pemilihan masih dilaksanakan secara parlementer, ia sempat mendapat teror dari sekelompok oknum." Saya dulu diteror karena saya bersama teman-teman lainnya membagikan brosur terhadap para calon anggota dewan ke masyarakat. Brosur itu sebenarnya menurut saya adalah tentang sepak terjang para calon. Niat kami membagikan itu karena supaya masyarakat tahu dan tidak salah pilih menentukan calonnya," ucapnya.Namun di balik itu semua, secara esensi Ida hanya berharap agar dalam pesta demokrasi yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali itu dapat dimanfaatkan masyarakat untuk tidak salah memilih para calonnya. "Hanya itu yang terbesit dibenak saya waktu itu. Kami juga mendirikan LSM yang notabenenya didirikan para mantan-mantan Presiden Mahasiswa (Presma) dari berbagai kampus seperti, UISU, Nomensen, Unika dan lain-lainnya. Tujuannya agar masyarakat jangan salah pilih lagi dalam menentukan sikap," ucap mantan Presma UISU tahun 2001-2002 itu.Gagal Jadi Anggota KPU AsahanSetelah berkiprah di NSCC dari tahun 2003 hingga 2008, wanita alumni SMUN 1 Medan itu lalu mencoba untuk mengikuti ujian penerimaan anggota KPU Asahan. Dalam prosesnya, sebagai putri daerah Asahan, ia hanya menduduki di urutan 6 besar. Tapi urutan 6 besar itu menurutnya adalah hal biasa. Meski sempat namanya dinyatakan lulus, namun keberangkatannya untuk mengikuti pendidikan dibatalkan. Ia tak merasa kecewa sama sekali. "Waktu itu saya sudah dinyatakan lulus. Dan dipengumuman koran juga sudah dinyatakan lulus. Tetapi ketika hari H nya, saya ditelepon dibilang bahwasanya saya tidak lulus, saya tidak kecewa. Ya karena mungkin saya juga sadar diri. Saya ikut tes itu tidak pakai deking. Ya mungkin karena itulah saya tidak jadi diangkat," ucapnya.Tetapi, ia tidak berkecil hati. Pada tahun 2010, salah seorang komisioner mengundurkan diri. Lalu secara peraturannya, yang menempati posisi tersebut. "Tahun 2010 saya ditelepon pihak KPU Sumut untuk segera melengkapi berkas. Lalu saya tanya untuk apa, mereka bilang, Ketua KPU Asahan mengundurkan diri dari jabatannya. Saya lupa waktu itu kenapa ia mundur. Ya saya langsung mempersiapkan dirilah. Memang pada waktu itu, bang Irham (salah seorang mantan komisioner KPU Sumut) mengatakan pada saya, kalau rejeki itu tidak ke mana. Ini buktinya katanya bahwa jabatan tersebut kembali katanya begitu kepada saya," ucapnya bercerita.Lanjutnya, pada tahun 2013 ia melihat ada lowongan untuk mengikuti pemilihan anggota Bawaslu. Beranjak dari pengalaman yang ia dapat selama dua tahun sebagai anggota KPU, ia mengaku miris melihat kondisi pengawas Pemilu kala itu seperti tidak ada dihargai. Dengan tekad ingin membenahi lembaga pengawasan Pemilu itu, lalu ia mengambil sikap untuk mencalonkan diri mengikuti seleksi tahapan rekrut komisioner Bawaslu yang baru saja dibentuk itu."Tekad saya, bagaimana lembaga ini bermartabat di tengah masyarakat. Dan bagaimana masyarakat percaya dan memberi pengakuan bahwa lembaga itu ada dan dapat menjadi kepercayaan masyarakat mengawal proses pemilihan yang adil dan beradab. Itulah mengapa saya memilih sikap untuk mengikuti itu. Lamarannya saja pas sekali hari terakhir pendaftaran ditutup. Saya kirimlah lamaran itu lewat pos kilat biar cepat sampai," ucapnya.Selanjutnya proses seleksi pun dilaksanakan. Terbukti, ia bersama para calon lainnya pun diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti tes terakhir yakni wawancara. Di Bawaslu RI, ia bersaing bersama lima calon lainnya diantaranya, Benget Silitonga (sekarang anggota KPU Sumut), Irwansyah (sekarang anggota KPU Medan), Aulia Andri (sekarang komisioner Bawaslu Sumut), Hardi Munthe (sekarang komisioner Bawaslu RI) dan seorang lain yang ia lupa namanya. Dari keenam calon ini, akhirnya para penguji dari Bawaslu RI meluluskan tiga calon yaitu, Hardi Munthe, Aulia Andri dan dia sendiri. Dari keseluruhan, hanya dialah wanita satu-satunya yang berhasil dan akhirnya menjabat sebagai Ketua Bawaslu Sumut atas rapat pleno yang dilaksanakan ketiga calon yang lulus tersebut. "Meski saya sendiri yang wanita, tapi kami bertiga bertekad untuk merubah sudut pandang masyarakat dalam memandang posisi tawar Bawaslu dalam menjalankan tugasnya sebagai pengawas. Dan menjadi tugas tersendiri dalam mengimbangi waktu kerja dengan berbagi waktu kepada keluarga. Karena keluargalah yang memberikan semangat saya untuk tetap maju dalam berkarya. Khususnya dukungan suami dan kedua anaka saya," ucapnya menutup wawancara. (A18/y)