FUZIAN: MENGENAL PROFIL PROVINSI KEBANGGAAN CHINA

Banyak Warga Indonesia Terpikat Menimba Ilmu * Ada Anggota Polisi dan Pegawai Pemda (Bagian 2/Terakhir)
- Senin, 19 September 2016 22:01 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2016/09/hariansib_FUZIAN--MENGENAL-PROFIL-PROVINSI-KEBANGGAAN-CHINA.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/Dody Silaban
Sejumlah turis berfoto dengan latarbelakang bangunan kuno Tulou di Kabupaten Nanjing, Provinsi Fujian.
Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China (Tiongkok) pepatah itu mungkin menjadi pendorong sejumlah warga Indonesia belajar di sejumlah Universitas di Provinsi Fujian. Salah satunya ditemui di kampus Fakultas Bahasa dan Kebudayaan China Universitas Huaqiau, ketika SIB dan kru media pers lainnya berkunjung ke provinsi Fujian. Di kampus yang terletak di distrik Jimei, Kota Xiamen tersebut SIB menyempatkan diri berkomunikasi dengan pelajar yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Mengetahui yang menemui mereka adalah warga sebangsa, yang adalah jurnalis dari Medan, orang Indonesia tersebut tanpa sungkan langsung berbaur akrab dan mengenalkan diri. "Orang Indonesia ya," sapa SIB ketika mendekati sekumpulan pelajar saat duduk-duduk di salah sudut gedung kampus. "Betul bu, pak kami dari Indonesia," balas mereka akrab.Saat ditanyai lebih dalam, beberapa dari pelajar tersebut ternyata juga berprofesi sebagai anggota kepolisian dan aparatur sipil negara (ASN). Mereka adalah: Brigpol Martinus Saragih SH (anggota Polres Batubara, Provinsi Sumatera Utara), Brigpol Ifan Friarghi Sepdunha SH (anggota Polda Maluku Utara), Bripka Akhmad Rifai Nurdin (anggota Polda Kaltim), Brigpol Riya Uwe SH (anggota Polda Jambi) dan Ipda Ibnu Setiyadi SH (anggota Polda Jateng). "Kami sudah 2 tahun menimba ilmu di perguruan tinggi ini. Sedangkan rekan lainnya baru masuk pada tahun ajaran baru ini," ungkap Bripka Akhmad Rifai dan Brigpol Riya.Sedangkan Teja Prigato ST MM dan Akbar Mandari Putra SSTP MM keduanya adalah ASN dari Pemda Kota Bandar Lampung. Kemudian Erwin Fajrin SSos dari Kementerian BUMN. Saat ditanyai SIB lebih jauh, pelajar yang dari kepolisian mengaku bahwa mereka belajar bahasa Mandarin setelah mendapat beasiswa dari Mabes Polri. "Kami ditugaskan belajar bahasa Mandarin paket 1 tahun. Bila belum mahir bisa dilanjutkan," kata Martinus Saragi (29thn), yang mengaku berasal dari Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Sedangkan dua ASN dari Pemda Kota Bandara Lampung mengatakan, mereka belajar untuk menjadi protokoler membantu tamu, khususnya pelayanan menggunakan bahasa Mandarin. "Apalagi Bandar Lampung sudah terbuka bagi investor asing. Jadi tugas-tugas kami membantu dalam komunikasi berbahasa Mandarin, sekaligus persiapan personel menghadapi MEA," papar Teja Prigato ST MM dan Akbar Mandari Putra SSTP MM.Sebelumnya dalam keterangan pers kepada SIB dan rekan kru media pers lainnya, Profesor Dr Hu Pei An selaku Wakil Dekan Fakultas Bahasa dan Kebudayaan China mengatakan, sangat senang dengan kedatangan kru media pers asal Indonesia. Prof Hu Pei An mengungkapkan fakultas yang dipimpinnya mempunyai program khusus bagi aparatur pemerintahan negara asing yang ingin belajar di Universitas Huaqiau, termasuk juga pegawai institusi negara dari Indonesia. Fakultas Bahasa dan Kebudayaan China Universitas Huaqiau juga setiap tahun rutin menggelar pagelaran budaya Indonesia. Selain itu,  juga menjalin kerjasama dengan sejumlah lembaga pendidikan di Indonesia, termasuk yang ada di kota Medan. "Lulusan kampus kami juga ada yang menjadi wakil dekan di STBA PIA di kota Medan," kata Hu Pei.Walau tidak bisa menyebut angka pasti, namun Prof Hu Pei mengatakan, ada ratusan warga Indonesia yang belajar di Universitas Huaqiau. "Mahasiswa yang menimba ilmu datang dari 42 negara, namun mayoritas dari Indonesia," ungkap Hu Pei. Dalam kata perpisahannya, Prof Hu Pei juga menawarkan lembaga pendidikan lainnya di kota Medan untuk menjalin kerjasama pendidikan dengan Universitas Huaqiau. Prof Hu Pei mengungkapkan bahwa mereka juga menyediakan beasiswa bagi warga Indonesia yang ingin mengambil program master. WISATA PENINGGALAN BERSEJARAHWalau telah memasuki era modern dan canggih dengan kemajuan ekonomi pesat, tidak membuat peninggalan sejarah peradaban bangsa China (Tiongkok) punah. Dari perjalanan ke provinsi Fujian, SIB dibawa mengunjungi sejumlah perkampungan tua dan sarat filosofi leluhur bangsa China. Salah satu dari objek wisata sejarah paling berkesan ada di kabupaten Nanjing. Di wilayah pegunungan tersebut ternyata ada warga yang hidup berkelompok-kelompok dalam satu bangunan unik di satu kluster perkampungan. Tulou, itulah nama masing-masing bangunan hunian tersebut. Bermukim di lereng-lereng pegunungan desa Xiaban, kecamatan Shuyang, Kabupaten Nanjing, warga perkampungan Tulou tinggal di satu bangunan berbentuk melingkar bagaikan stadion sepakbola. Menurut keterangan Jian Hongxia, pemandu wisata yang mendapingi kunjungan SIB ke kampung Tulou, awalnya pemerintah China (Tiongkok) tidak mengetahui ada warga mereka yang tinggal di pemukiman unik tersebut. Keberadaan pemukiman tersebut diketahui tidak sengaja oleh satelit mata-mata pemerintah Amerika Serikat. Dari citra satelit, karena bentuknya yang aneh dan jumlahnya banyak, awalnya militer Amerika menduga pemukiman tersebut adalah pangkalan rahasia peluncuran rudal pemerintah China. Menurut Hongxia, struktur bangunan Tulou Tianluokeng dibangun menggunakan elemen sesuai filosofi kuno China, yaitu besi, kayu, air, api dan tanah (bumi). Karena keunikan dan filosofi kuno tersebut, badan UNESCO menetapkan Tulou masuk dalam perlindungan warisan dunia PBB. Berdasarkan pantauan SIB, dalam satu kelompok ada lima bangunan Tulou, setiap bangunan melingkar Tulou terdiri dari tiga lantai. Setiap lantai memiliki 26 ruangan, empat tangga dan dilengkapi koridor. Di tengah bangunan lingkaran ada satu bangunan lain, yang menurut pemandu difungsikan sebagai rumah ibadah (semacam kelenteng) bagi keluarga yang tinggal di masing-masing Tulou. Satu Tulou dihuni satu marga yang diwariskan turun temurun. Menurut Hongxia, rata-rata bangunan Tulou di Shuyang, kabupaten Nanjing telah berusia ratusan tahun.Hongxia mengungkapkan bahwa kawasan wisata pemukiman kuno Tulou tersebut juga mendapat perhatian penuh dari pemerintah provinsi Fujian dan menggelontorkan anggaran rutin untuk perawatan dan promosi objek wisata bersejarah tersebut dengan membentuk badan usaha bernama Fujian Nanjing Tulou Tourism Development Co.,Ltd. Berdasarkan keterangan Hongxia, ada 5.000-6.000 turis berkunjung ke kawasan wisata Tulou setiap harinya. Jumlah tersebut bisa meningkat hingga 10.000 turis pada akhir pekan. Bila Tulou adalah wisata perkampungan tua di wilayah pegunungan, maka di kota Fuzhou anda bisa mengenal bangunan pemukiman tua di tengah hiruk pikuk kota. Objek wisata tersebut adalah bagian sejarah berdirinya kota Fuzhou. Objek wisata yang diberi nama Sanfangqixiang Three Lanes and Seven Alleys tersebut terhampar di lahan seluas 127 hektar. Pemukiman tersebut pertama kali dibangun pada era dinasti Jin (265-420 SM). Pemukiman tua Three Lanes and Seven Alleys terintegrasi dengan sejumlah taman, perbukitan, sungai dan perkampungan yang penuh dengan warisan sejarah dan budaya. Bangunan kuno di pemukiman tersebut dipugar pertama kali pada masa dinasti Tang (618-907 SM) dan dipugar ulang pada era dinasti Ming&Qing (1368-1911 M). Selain Tulou, provinsi Fujian juga memiliki wisata sejarah bernuansa keagamaan. Di kota Quanzhou, SIB dibawa mengunjungi bekas bangunan masjid tua. Bangunan masjid yang terletak di Jalan Tumen, distrik Licheng, kota Quanzhou tersebut dibangun pada era dinasti Song tahun 1009 dan mengalami pemugaran pada era dinasti Yuan tahun 1310. Menurut Jin Ming, pemandu turis yang bertugas merawat bekas bangunan rumah ibadah umat Muslim bernama Masjid Qingjing tersebut, arsitektur bangunan masjid mengadopsi gaya bangunan rumah ibadah di Suriah. Konstruksi bangunan menggunakan batu alam yang disusun dan diperkuat dengan diabas (sejenis mineral). Awalnya, warga muslim di Quanzhou menggunakan masjid tersebut untuk tempat beribadah. Namun, gempa kuat yang melanda Quanzhou tahun 1960-an menghancurkan bagian atap bangunan masjid, hingga membuat masjid tersebut tidak layak lagi digunakan sebagai tempat ibadah. Saat ini telah dibangun masjid baru sumbangan pemerintah Yaman di samping Masjid Qingjing. Menurut pengakuan Jin Ming, selain masjid juga ada bangunan peninggalan bersejarah agama lainnya yang mendapat perhatian dan perawatan penuh dari pemerintah Quanzhou. Mengenal peninggalan bersejarah di provinsi Fujian seakan tak ada habisnya. Bila anda berkunjung ke pulau Gulangyu, anda bisa melihat dan belajar sejarah di museum yang menyimpan beragam furnitur peninggalan era kerajaan China. Selain itu, anda juga bisa menikmati wisata pantai dengan pemandangan bangunan pencakar langit kota Xiamen.KAMPUNG BALITidak hanya peninggalan bangunan dan benda bersejarah saja. Anda juga bisa menemukan kampung Bali di provinsi Fujian. Perkampungan yang berlokasi di Luojiang Shuangyang Nanshan, kota Quanzhou tersebut kini bermukim eks warga Indonesia keturunan Tionghoa yang pernah lama tinggal di pulau Bali. Sejarah pahit yang pernah dialami nenek moyang mereka di era rezim mendiang Soeharto pasca peristiwa G30SPKI tidak serta merta membuat mereka lupa akan budaya dan tradisi bangsa Indonesia di Bali. Rata-rata warga di perkampungan tersebut masih bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, bahkan masih berlogat Bali. Mereka juga masih melestarikan makanan khas Indonesia, yang juga disajikan saat menjamu SIB dan rekan kru media pers lainnya. Menurut Pek Suihuan-pengurus organisasi eks warga Bali di Kampung Bali-warga yang ada di kampung Bali kini sudah menjadi warga negara China (Tiongkok). Mereka migrasi ke China ketika terjadi perburuan dan 'pembantaian' orang-orang yang dianggap pengikut PKI tahun 1960-an.  Ada sekira 300 kepala rumahtangga kini bermukim di Kampung Bali. Kampung Bali ini juga pernah dikunjungi Bapak Anak Agung Gde Alit Santhika, mantan Konsul Jenderal RI di Guangzhou yang juga adalah orang Bali. (d)


Tag:

Berita Terkait

Profil

Polisi Tangkap Tiga Pencuri Batik Senilai Rp 1,3 Miliar di JICC

Profil

Tudingan Setoran Fantastis Rp 1 Miliar, Kapolres Bima Kota Jadi Sorotan

Profil

Mabes Polri Proses Eks Kapolres Bima Kota, Oknum Terlibat Terancam Sanksi

Profil

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Terima Kunjungan Edukatif Pesantren Darularafah Raya di Fuel Terminal Medan

Profil

Cipta Kondisi di Rantauprapat, Polres Bersama Kodim dan Pemkab Labuhanbatu Patroli Gabungan

Profil

Libur Panjang Imlek 2026, Jasamarga Catat Peningkatan Volume Lalin di 6 Ruas Tol Regional Nusantara