Medan (SIB) -Prof Dian Armanto memulai meniti karir dengan mulai kuliah di Unimed 1982 dan tamat 1987 pada jurusan Matematika. Dan setelah diwisuda ,ia melamar sebagai dosen dan diterima di Unimed pada 1988. Berarti hingga sekarang ini hampir 30 tahun sebagai dosen. Semasa kecil bercita-cita sebagai kepala desa, namun bisa menjadi guru besar (Profesor)."Sebagai dosen tugasnya jelas, memberikan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dinamikanya, di tiga tempat ini berbeda-beda dan sangat dinamis",kata Dian di Medan, Selasa (21/3).Dikatakannya, dalam pendidikan dan pengajaran, dalam semester yang berbeda A dan B ,juga dengan dua materi yang berbeda , artinya perlu banyak bukunya. Yang membuat dinamisasi seorang dosen itu sangat tinggi. Setiap tahun lagi, mahasiswa yang dihadapi berbeda-beda sehingga tidak bosan.Menurutnya, Dian dulu bercita-cita hanya sebagai kepala desa dan orangtuanya masa itu sebagai supir staf perkebunan. Ia bisa berhasil karena dorongan dari ibunya yang cukup keras sebagai putri Batak, Boru Siregar yang selalu menegaskan "kamu harus sekolah". Kalau tidak sekolah hanya seperti ibu tamat SD, tak ada yang bisa dibuat. Lalu ditimpali bapak saya, jangan kamu tanya dari mana dananya. Yang penting mau sekolah, pasti sekolah. Begitu bapak saya. Kalau di Bah Jambi itu, bapak saya paling terkenal tidak punya duit dan hanya tamat SMP.Lalu saat pendidikan SMA di kota Perdagangan, Dian membeli sebuah buku tulisan Prof J Sitorus, orang Unimed. Dan disana tertera banyak gelar yang disandang J Sitorus, Prof, Dr, Master, lalu ,kata Dian ia buat lagi cita-citanya lebih tinggi lagi dengan gelar Prof Dr Ir Dian Armanto MA MSc dan lainnya. Sangkin panjangnya gelar dibawah nama saya itu ditulis GILA. Oleh teman SMA. Padahal di SMA itu tak terpikir banyak gelar yang mungkin bisa kita dapatkan, tapi kini memang banyak gelar saya, ada enam , Prof Drs Dian Armanto MPd MA MSc PhD. Di SMA ,barulah cita-cita saya berubah. Namun ibu tetap menekankan, saya masuk ke perkebunan dan jadi Insyiur Pertanian. Namun saya tak lulus masuk Fakultas Pertanian di Negeri, sementara lulus di 3 perguruan tinggi, yakni Politeknik Mesin USU dan di Unimed Prodi Matematika serta salah satu PTS di Medan.Lalu saya tanya orangtua, kuliah dimana saya dan dikatakan dimana yang murah lah. Dan saya masuk Unimed (dulu IKIP Negeri Medan). Semula cita-cita saya bukan jadi guru atau dosen, namun disana lah saya menimba ilmu. Lalu setelah tamat dari Unimed tahun 1988 ada penerimaan dosen dan saya ikut testing dan lulus.Dilihat dari jalur karier Dian, kini dengan pangkat golongan 4/D , dengan gelar paling puncak Profesor, apa yang belum tercapai dalam hidupnya ? dijawab Dian, anaknya belum ada yang menikah karena baru semester 7 jurusan Arsitek di USU. Anak 3 orang, dua putra dan 1 putri. "Saya menikah diusia 31 tahun",katanya. Motto saya sekarang "Tiada balasan kebaikan, selain kebaikan". Dian menduduki jabatannya sebagai Kordinator Kopertis Sumut periode ke dua akan berakhir 2020. Usianya kini 53 tahun, Lahir di Laras, Serbelawan 11 Oktober 1963.Ditanya kesan Dian sebagai dosen Unimed, dijelaskannya bahwa mahasiswa sekarang cukup kritis dan punya kemampuan yang tinggi. Jadi keberhasilan itu juga bergantung pada kemampuan dosen, bagaimana meramunya supaya kemampuan yang tinggi itu jadi lebih baik, terutama dalam hal sikap. Kalau ilmu mudah kita hantarkan karena kunci sukses itu ada pada sikap.Apa perbedaan kuliah di Jawa dan Sumatera, kata Dian, pertama, berkaitan dengan kemampuan atau ilmu yang diberikan dosen, jumlahnya bisa banyak atau sedikit. Kedua, komitmen dosen untuk mengajar. Ketiga, bagaimana cara penyampaikannya, keempat semangat mahasiswanya dan terakhir fasilitasnya. Umumnya lebih baik di Jawa. Akreditasi perguruan tinggi di Jawa banyak yang "A",katanya. (A01/l)