Akbar Wibriansyah Jadi Dokter Sapujagad Akibat Gempa Palu

- Minggu, 04 November 2018 11:34 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/dir112018/hariansib_Akbar-Wibriansyah-Jadi-Dokter-Sapujagad-Akibat-Gempa-Palu.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Dokter Akbar Wibriansyah

Palu (SIB) -Akbar Wibriansyah (29), dokter umum yang sedang menjalani setase untuk menjadi dokter spesialis saraf menyambangi berbagai daerah selama setahun ini. Oktober ini, giliran di RSUD Undata Palu yang dia dikunjungi.

Namun, di sini Akbar mendapat pengalaman yang paling berharga. Kedatangannya bertepatan dengan gempa dan tsunami yang mengoyak wilayah ini, Jumat 28 September lalu.

Sebanyak 109 korban gempa menjadi pasien RSUD Undata. Banyak jumlah pasien yang masuk tak sebanding dengan dokter yang sedang berjaga. Di situ, Akbar mendadak menjadi dokter serba bisa alias sapujagad.

Betapa tidak, saat kejadian cuma ada empat dokter. Selebihnya, mahasiswa Koas atau co-assisten.

"Ada dokter IGD dua orang, satu saya sebagai residen saraf. Ditambah satu lagi dokter," ucap dia ketika berbincang, Palu, Sabtu (6/10).

Di hari pertama, pasien yang dirawat rata-rata menderita patah tulang. Sebenarnya itu bukan kewenangannya. Tapi dalam keadaan darurat, mau tidak mau itu menjadi tanggung jawabnya.

"Kalau jadi dokter bisa semua. Cuma kalau bedah saraf saya cuma operasi otak sama tulang belakang ibaratnya sudah bukan kompetensinya lagi. Tapi kita pernah mengerjakan itu," ucap dia.

Contohnya, kala menangani beberapa pasien yang mengalami patah di saluran kencing.

"Orang pasang selang kencing biasa. Banyak yang patah di saluran kencing berarti kita kan gak bisa pasang selang. Kita harus tusuk di kantung kecing. 

Dimasukkan kateter. Itu saya seumur hidup belum tanganin akhirnya karena tidak ada dokter saya kerjain aja," cerita Akbar.

Tercatat, yang ditanganin pada hari pertama sekira 30 pasien. Selain itu cerita yang mungkin tidak dapat terlupakan yakni keberanian mahasiswa Koas yang totalnya 100 orang. Mereka terpaksa menangani pasien yang sebetulnya bukan bagian dari kompetensinya.

Tapi, bagi Akbar itu sesuatu yang wajar sebab kondisinya sedang darurat.

"Hari pertama belum ada tim yang lain. Ini kebanyakan masih ko-assisten Koas. Mereka harusnya belum boleh pasang inpus. Jadinya belum punya izin melakukan tindakan apapun. Tapi kan mereka sesuai prosedur. Dia juga udah ujian sebelum Koas," papar dia Akbar.

Ngeri-Ngeri Sedap

Akbar mengaku tidak dapat mengambarkan perasaan terkait berbagai tindakan selama berada di RSUD Provinsi tersebut.

"Rasanya kalau dokter bedah begitu ketemu tindakan seneng banget. Dulu kita pernah mengerjakan cuma gak ada kesempatan. Misalnya semasa Koas pengen bikin ini tidak dikasih, sekarang dapat. Jadi ungkapannya seneng, seneng, sedih, ngeri-ngeri sedap gitulah," ujar dia.

Tapi yang selalu diingatnya pengalaman ini menjadi bukti sudah berhasil di dunia kedokteran.

"Saya akan kasih tau bisa macam-macam yang harusnya bukan bagian dari kerja saya dan sampai seterusnya gak akan kerjain itu. (Liputan6/d)


Tag:

Berita Terkait

Profil

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Terima Kunjungan Edukatif Pesantren Darularafah Raya di Fuel Terminal Medan

Profil

Cipta Kondisi di Rantauprapat, Polres Bersama Kodim dan Pemkab Labuhanbatu Patroli Gabungan

Profil

Libur Panjang Imlek 2026, Jasamarga Catat Peningkatan Volume Lalin di 6 Ruas Tol Regional Nusantara

Profil

Dicegat saat Naik Motor, Pemuda Asal Sinaksak Dibekuk Polisi di Tanjung Pinggir

Profil

Polres Tanah Karo Gelar Razia Penyakit Masyarakat, 18 Orang Diamankan

Profil

Ops Keselamatan Toba 2026 Berakhir, Tilang dan Kecelakaan di Tanjungbalai Nihil