Tarutung (SIB)- Akibat minimnya daya tampung SMA dan SMK di Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara telah menyebabkan ratusan lulusan SMP daerah tersebut tidak tertampung atau terpaksa putus sekolah.Sebagaimana diberitakan SIB, Senin (18/7), dari 744 orang lulusan SMP se-Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara yang terdiri dari 7 (tujuh) sekolah, hanya 342 yang tertampung yakni 192 orang di SMA dan 140 SMK. Sedangkan 402 orang lulusan lainnya terkendala melanjutkan pendidikan atau di antaranya terpaksa mencari sekolah di kota lain bila orangtuanya mempunyai kemampuan ekonomi.Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Taput Drs Jamel Panjaitan MM yang dikonfirmasi SIB terkait persoalan tersebut mengatakan, Pemkab Tapanuli Utara telah memrogramkan pembangunan satu unit SMA baru di Sigotom, Kecamatan Pangaribuan.Ia optimis pembangunan satu unit sekolah baru tersebut akan mampu mengatasi keterbatasan daya tampung SMA dan SMK yang telah ada. "Nanti akan dibangun SMA di Sigotom. Pembangunan itu sudah bisa mengatasi yang di Sigotom," sebutnya.Ketika ditanya apakah sudah cukup satu unit SMA dan apa tidak perlu ditambah SMK, Jamel mengatakan untuk SMK tidak diprogramkan. "Mubajir membangun SMK karena sudah banyak SMK di Taput," ujarnya.Sebelumnya, tokoh masyarakat Lumban Sormin Kecamatan Pangaribuan, Jhinto Sormin (mantan kepala desa), mengungkapkan daya tampung SMA/SMK di Kecamatan Pangaribuan hanya 342 terdiri dari 192 SMA dan 140 SMK. Akibatnya para lulusan SMP tahun 2016 ini, setengahnya pun tidak tertampung.Ia mengatakan sebanyak 402 orang lulusan terancam tidak dapat melanjutkan pendidikan dan menjadi putus sekolah akibat tidak adanya sekolah. "Jika 10 persen di antaranya dapat melanjutkan pendidikan ke daerah lain, maka sisanya akan mengalami putus sekolah," ujarnya.(BR5/ r)