Jakarta (SIB)- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menerapkan pemberantasan buta aksara melalui pendekatan pendidikan vokasi bagi usia dewasa."Menarik orang dewasa untuk belajar membaca itu tidak mudah, solusinya kami melakukan pemberantasan buta aksara berbasis pendidikan vokasi," ujar Direktur Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemdikbud, Harris Iskandar, di Jakarta, Jumat.Dia mengatakan untuk mengajarkan baca tulis pada usia dewasa, harus dengan program yang menghasilkan nilai ekonomi. Dengan kata lain, masyarakat harus mendapatkan nilai manfaatnya dari program tersebut secara ekonomis.Direktur Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Kemdikud, Eman Syamsudin, mengatakan pihaknya sudah mencoba berbagai cara untuk mengentaskan buta aksara. Namun yang paling efektif melalui pemberatasan buta aksara melalui pendidikan vokasi."Misalnya dengan mengundang guru yang berasal dari dunia usaha. Itu sangat efektif karena masyarakat bersemangat untuk belajar membaca," kata Eman.Dengan pemberantasan buta aksara berbasis vokasi, lanjut Eman, masyarakat termotivasi untuk belajar membaca, menulis dan berhitung. Pihaknya sudah menerapkan program yang bernama keaksaraan usaha mandiri.Selain berbasis pendidikan vokasi, pihaknya juga melakukan pendekatan pemberantasan buta aksara melalui guru PAUD. Sama seperti mengajarkan membaca pada anak PAUD, para orang dewasa yang belum bisa membaca diajak lebih dahulu untuk bercerita.Saat ini, terdapat 25 kabupaten yang memiliki buta aksara tertinggi di Indonesia. Dari 25 kabupaten tersebut, sebanyak 12 kabupaten di antaranya ada di Jawa Timur."Mereka bukannya tidak bisa membaca, mereka bisa membaca tetapi kebanyakan tulisan Arab gundul."Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terjadi penurunan angka buta aksara dari 14,89 juta orang pada 2005 menjadi 5,77 juta orang pada 2015.Beberapa kendala penuntasan aksara yakni faktor kemiskinan, lokasi yang tak terjangkau, dan kurangnya motivasi belajar. (Ant/d)