Jakarta (SIB) -Sebanyak 74.552 dari 213.811 sekolah di Indonesia belum memiliki perpustakaan. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab masih rendahnya posisi Indonesia dalam uji keterampilan membaca di tingkat internasional.Direktur Pembinaan SMP Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Supriano mengatakan, untuk mempersempit kesenjangan fasilitas perpustakaan di sekolah-sekolah daerah Kemdikbud membentuk SMP Rujukan pada tingkat Kabupaten dan Kota.Ada 514 SMP Rujukan yang difasilitasi laboratorium komputer untuk menjadi pusat pembelajaran bersama. "Sekolah rujukan ini akan membina sekolah disekitarnya dan memiliki perpustakaan digital sekaligus memberikan akses minat dan budaya membaca," kata Supriano di Jakarta, Kamis (13/10).Supriano mengakui budaya membaca di kalangan pelajar selama ini sulit tumbuh karena minimnya fasilitas penunjang baca yang memadai. "Rata-rata sekolah kita belum memiliki lahan untuk perpustakaan sehingga belum mengajukan permintaan atau proposal," ungkapnya.Namun meskipun minim fasilitas, upaya menumbuhkan minat membaca terus dilakukan, salah satunya dengan gerakan membaca 15 menit sebelum pelajaran. "Gerakan ini tidak menjadi kendala bagi sekolah yang belum memiliki perpustakaan. Pasalnya para siswa dapat membaca buku apa saja termasuk majalah, koran dan lainnya," ujar Supriano. Ia mengklaim, antusias menjalankan program membaca 15 menit direspons baik di sekolah-sekolah."Kami berharap dengan pembiasaan ini bisa menumbuhkan budaya baca warga masyarakat belajar kita di tanah air," kata Supriano. Gerakan membaca 15 menit sebelum pelajaran juga diharapkan dapat mematahkan temuan yang mengacu pada Progress in Internasional Reading Literacy Study (PIRLS), di mana Indonesia merupakan negara yang dinilai masih rendah dalam uji ketrampilan membaca di tingkat internasional.BUTUH TEROBOSANMenanggapi hal tersebut, pengamat pendidikan dari Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji mengatakan proyek pembangunan fasilitas dan sarana prasarana yang terkait dengan pengembangan literasi memang penting.Namun jangan sampai, pengadaan fasilitas literasi tidak dibarengi dengan konsep dan program pemanfaatan fasilitasnya. Indra mengungkapkan data, dalam sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kemampuan literasi masyarakat Indonesia hanya mampu menduduki posisi 60 dari 71 negara yang disurvei.Posisi tersebut berbanding terbalik dengan tingginya proyek literasi yang berlangsung di Indonesia, menduduki posisi 16 dari 61 negara. "Intinya kita itu getol melakukan pembangunan perpustakaan, pengadaan buku, ini itu, tapi hanya sebatas berorientasi pada penyerapan anggaran saja. Setelah itu pemanfaatannya tidak dikawal," tegas Indra. (KJ/h)