Palu (SIB)- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan bahwa peningkatan keterampilan siswa-siswi menjadi modal dalam daya saing Indonesia dengan negara-negara lain di dunia pada tahun 2035."Indonesia adalah negara yang dikatakan memasuki bonus demografi, karena itu dibutuhkan ketersediaan keterampilan generasi muda atau pelajar untuk membangun daya saing bangsa," ungkap Muhadjir Effendy saat menyampaikan sambutan pada pencanangan Gerakan Kembali ke Sekolah 1.000 Anak Harapan Bangsa, di Palu, Minggu (26/3).Mendikbud mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo menargetkan Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang besar berada di urutan ke empat dunia pada usia kemerdekaan ke-100 tahun atau pada tahun 2045.Karena itu, sebut dia, salah satu syarat yaitu perlu didukung dengan adanya kemampuan masyarakat dan keterampilan di berbagai sektor pada sampai dengan tahun 2035 mendatang.Hal itu dimulai dengan melakukan pembinaan peningkatan sumber daya manusia dan keterampilan siswa-siswi di bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas serta menengah kejuruan semua derajat."Menyiapkan keterampilan anak-anak atau siswa-siswi di SMP dan SMA membina dan meningkatkan keterampilannya sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja, itulah syarat mutlak yang harus dipenuhi," ujarnya.Mendikbud menegaskan bahwa pendidikan menjadi instrumen yang sangat penting dalam pembangunan manusia, karena pendidikan harus dan mulai dirancang dengan tepat mulai dari saat ini.Hal itu untuk menyiapkan dan menghadapi bonus demografi demi menjadikan Indonesia sebagai negara besar dunia dari segi ekonomi.Lebih lanjut Mendikbud Muhadjir mengatakan penduduk usia produktif mulai dari anak-anak muda usia produktif 16-63 tahun, harus diberikan pendidikan untuk menghadapi bonus demografi tahun 2035 mendatang."Upaya Pemprov Sulteng menggagas dan mencanangkan Gerakan Kembali ke Sekolah Anak Harapan Bangsa dengan target 1.000 siswa, sudah tepat untuk mendongkrak target pemerintah menghadapi puncak bonus demografi," urai Mendikbud Muhadjir.Canangkan GKSGerakan Kembali ke Sekolah (GKS) 1.000 anak harapan bangsa dicetuskan Ketua Bunda Anak Harapan Bangsa Sulawesi Tengah Zalzulmida Djanggola sebagai upaya mengembalikan anak-anak putus sekolah ke sekolah.Pencanangan itu juga dirangkai dengan penyerahan Kartu Indonesia Pintar kepada siswa GKS 1.000 anak harapan bangsa dan siswa yatim piatu dan pengukuhan bunda anak harapan bangsa. Selain itu juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan kepada 16 organisasi perangkat daerah disaksikan Mendikbud dan Gubernur.Pencanangan GKS dilakukan dengan cara menabuh gimba (gendang tradisional) secara bersama-sama oleh Menteri bersama gubernur dan sejumlah pejabat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.Menteri Muhadjir mengapresiasi positif atas gagasan GKS 1.000 anak harapan bangsa tersebut. Dia mengatakan GKS harus dilaksanakan secara kontinyu dan pemerintah harus memantau secara terus menerus anak-anak yang putus sekolah."Pemda harus pantau terus, jangan lagi ada anak putus sekolah," katanya.GKS 1.000 anak harapan bangsa adalah suatu komitmen bersama untuk mencari dan mengajak anak usia sekolah yang tidak bersekolah karena berbagai alasan untuk kembali masuk ke sekolah menengah kejuruan. Masih banyaknya anak tidak sekolah di daerah ini karena tingginya angka putus sekolah pada usia 15-19 tahun. Padahal usia tersebut adalah usia produktif yang tinggi dalam struktur kependudukan. Bila hal itu tidak segera diatasi akan berdampak pada meningkatnya kejahatan di tengah masyarakat. (Ant/Rol/q)