Sistem Pendidikan Nasional Perlu Direformasi

* Kemdikbud Kaji Penerapan Soal Esai
- Rabu, 17 Mei 2017 18:06 WIB
Jakarta (SIB) -Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tengah mengkaji kemungkinan soal esai diterapkan dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Model ujian esai menuntut adanya perubahan pada sistem pendidikan nasional, utamanya pola pembelajaran yang membangun budaya kritis. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, pelaksanaan UN selama ini masih memiliki kekurangan, terutama dari sisi soal yang masih sepenuhnya menggunakan model pilihan ganda (multiple choice)."Kekurangan UN itu multiple choice," kata Muhadjir, di Jakarta, akhir pekan kemarin. Model soal pilihan ganda, kata Muhadjir, kurang mampu mengantar anak berpikir kritis dan inovatif. Saat ini, soal model esai sudah mulai diterapkan dalam 25 persen soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). "Di USBN sudah diterapkan, sedang dikaji apakah esai bisa diterapkan di UN," ungkap mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.Kepala Balitbang Kemdikbud, Totok Suprayitno, menambahkan, kualitas soal UN memang tengah terus ditingkatkan. "Terutama kualitas soal, akan lebih banyak lagi tentang level higher order thingking (tingkat tatanan yang lebih tinggi) melatih anak berpikit kritis, analitis, tidak lagi hanya sekadar menghapal," imbuh Totok. Reformasi Sistem Praktisi pendidikan sekaligus Direktur Global Sevilla School, Robertus Budi Setiono, mengatakan model soal esai sangat mungkin diterapkan dalam UN."Sangat mungkin, asal ada reformasi pada sistem pendidikan nasional kita," kata dia. Menggunakan model esai, kata Budi, artinya sama dengan mengajak anak untuk menggunakan pola pikir kritis. Sebab tidak hanya dengan menggunakan pola tebak kancing, melainkan harus memaparkan dan mampu berargumen dalam menjawab soal. Kemampuan untuk berargumen tersebut hanya dapat ditemukan pada anak-anak yang terbiasa dan terlatih untuk berpikir kritis."Dengan sistem pendidikan dan pola pembelajaran yang seperti sekarang banyak diterapkan di kebanyakan sekolah-sekolah negeri rasa-rasanya sulit untuk menumbuhkan pola pikir kritis," papar kepala sekolah Global Sevilla School Pulomas ini. Pola pembelajaran yang banyak berlaku di sejumlah sekolah di Indonesia itulah yang kemudian secara mandiri coba didobrak oleh Budi di sekolah yang dipimpinnya. Ia mencoba berbagai metode belajar yang dapat membiasakan anak berpikir kritis."Terlebih lagi, sekolah kami ada ujian Cambridge juga selain UN, di mana soal-soal UN juga sudah lama menggunakan metode esai dan soal-soal level higher order thingking," ujar Budi. Pembelajaran dengan berdiskusi dan memilih tema-tema tertentu untuk diperdebatkan merupakan salah satu model pembelajaran andalan yang diterapkan di Global Sevilla. Budaya berdebat dan berargumen tersebut bahkan tidak hanya digunakam di sekolah, namun juga untuk dilombakan."Sekolah kami tahun lalu berhasil memborong 44 medali dalam ajang debat Bahasa Inggris Internasional atau 'World Scholars Cup' (WSC) yang diselenggarakan di Universitas Yale, Amerika Serikat," papar Budi. Tim Indonesia tersebut diwakili siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Global Sevilla Puri Indah, Jakarta. Lomba terbagi atas debat lisan dan tulisan secara individual dan grup. Bahkan, lomba debat itu, kata Budi, berhasil menjadi viral, dan menginspirasi banyak siswa di internal Global Sevilla maupun di sekolah lain. (KJ/h)


Tag:

Berita Terkait

Sekolah

Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas

Sekolah

Kelompok Lain Bubarkan Massa yang Demo di Depan Polda DIY

Sekolah

China Batasi Ekspor ke 40 Perusahaan Jepang, Ketegangan Beijing–Tokyo Kian Memanas

Sekolah

Bupati Karo Dukung Paduan Suara GBKP Tampil di Jerman

Sekolah

Kapolres Tanah Karo Cek RTP, Tekankan Pengawasan dan Disiplin Personel

Sekolah

Polsek Teluk Nibung Kelola 8 Hektare Lahan Jagung Dukung Ketahanan Pangan