Medan (SIB)- The Advisor of Founding Committee Prime One School Medan Amrin Susilo Halim mengatakan sekolah di Medan harus bebas dari penyakit sosial, mulai dari kekerasan antarpelajar, kekerasan fisik dan tautannya seperti kekerasan seksual. “Bahkan sekolah harus bebas dari asap rokok dan peredaran narkoba,†tandasnya pada Prime One School Graduation and Farewell Party 2014, Sabtu (7/6).Merealisir semangat bersih dan menciptakan generasi muda terbaik, ia menunjuk sekolah dimaksud di mana seluruh sudut sekolah diawasi sedetail mungkin guna menciptakan apa yang diidamkan. “Meningkahi upaya itu, sekolah pun harus mengadakan prasarana mendukung kegiatan dimaksud,†tandas Amrin Susilo Halim.Centre Director Ir B Ricson Simarmata MSEE mengatakan dalam menerapkan kurikulum sekolah yang bersifat internasional seluruh pihak terkait dengan dunia pengajaran di sekolah itu melakukan ragam terobosan untuk memberi yang terbaik.Academic Director of Prime One School Fauziah Khairani Lubis menambahkan, alumni Prime One School lebih banyak memilih sekolah keluar negeri, baik melalui hasrat pribadi maupun beroleh beasiswa seperti dari Malaysia, Jerman, Australia, Singapura, Prancis, Kanada, China, England, USA, Melbourne dan beberapa negara lainnya.Menurutnya, Prime One School juga tidak hanya mementingkan akademis siswa namun juga mental dan lingkungan yang asri dan rindang. Jadi sekolah sangat mementingkan kesehatan dan kenyamanan jiwa anak ketika belajar di kelas. "Kita juga sangat menghargai keberadaan siswa sebagai individu yang dapat berpendapat, berkreasi sesuai dengan kemampuannya. Dengan begitu tak heran guru dan siswa menjadi sangat dekat. Jadi kalau ada hal yang mereka kurang setuju, mereka mendatangi kita dan kita komunikasikan. Kita juga sangat menjauhi sanksi fisik. Kita percaya komunikasi lebih kondusif dan dengan komunikasi anak lebih nurut kepada kita!"Dalam kegiatan meriah tersebut, seluruh siswa tampil dengan kekhasan masing-masing. Di antara penampil terdapat tiga cucu Pemimpin Umum Hr ‘SIB†Ny GM Panggabean - Ramlah Hutagalung yakni Samuel Panggabean, Gloria Maria Tamira Reva Nauli br Panggabean dan Glory Martha Tamara Reta Nauli br Panggabean.Mengenakan kebaya khas Indonesia yang dimodifikasi aksen Betawi dan teluk belanga yang khas Melayu, ketiga remaja cilik itu berbaur dengan undangan dan para orangtuasiswa. Yang menohok penampilan Maria dan Martha bersama rekan lintasetnis yakni Aysia Wadhy dan Chelsea Lim. Chelsea berdarah Tionghoa tapi ibunya, Annayani Tambunan. (r9/i)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.