Mendikbud Minta Masyarakat Majukan Pendidikan di Daerah

* 11 Persen Sekolah di NTT Tak Layak
- Rabu, 04 Oktober 2017 21:44 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/dir102017/hariansib_Mendikbud-Minta-Masyarakat-Majukan-Pendidikan-di-Daerah.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/Dok
Suasana sekolah di NTT.
Jakarta (SIB) -Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy minta perhatian masyarakat mengembangkan dan memajukan pendidikan di daerah. Jika kesadaran masyarakatnya rendah, maka tidak akan berdampak positif atau optimal pada lingkungan pendidikan.Dalam keterangannya, Sabtu (30/9) Muhadjir mengingatkan pentingnya investasi sumber daya manusia sejak dini. Tujuannya, menghasilkan SDM yang handal bagi pengembangan daerah itu. Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu meyakini siswa cerdas memiliki karakter kuat dan terbiasa bekerja keras, memudahkan pengelolaan kekayaan alam. Dampaknya, siswa itu mampu memajukan daerah tempat tinggalnya."Pemerintah hanya mendorong, memotivasi, tapi keputusan ada di tangan masyarakat," jelasnya.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberi bantuan pembangunan sarana prasarana pendidikan senilai Rp 156.278 miliar pada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan pendidikan itu merupakan alokasi pada daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T). Mendikbud meminta warga sekolah dan masyarakat merawat dan menjaga perawatan fasilitas pendidikan. Ia berpesan pada pelajar selalu disiplin dan giat belajar.11 Persen Sekolah di NTT tak LayakSementara itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebut sekitar 11 persen sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) tak layak untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad menjabarkan sekitar 12 persen SD dalam kategori rusak berat, delapan persen SMP kategori tidak layak, dan tujuh persen SMA/SMK belum memiliki sarana prasarana yang mencukupi."Pemerintah pusat terus melakukan afirmasi pada daerah dengan angka partisipasi pendidikan rendah," katanya belum lama ini.Ia menjabarkan, berdasarkan data dari Pusat Data dan Statistik Pendidikan 2016, angka partisipasi murni Provinsi NTT untuk jenjang SD sebesar 92,1 persen, SMP 67,6 persen, dan SMA/SMK sebesar 56,3 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTT mencapai 62,67 persen pada 2015.Hamid mengatakan pemerintah membantu pembangunan 14 unit sekolah baru pada 2017 di NTT. Ia menyebut jumlah itu melengkapi pembangunan 80 unit sekolah baru. Dalam laporannya, Kemendikbud memberi bantuan pembangunan sarana prasarana pendidikan senilai Rp 303.106 miliar pada 2016. Anggaran itu digunakan pembangunan 80 unit sekolah baru, 375 ruang kelas baru, 170 ruang perpustakaan, 75 laboratorium, dan merehabilitasi 1.223 ruang belajar.Kemendikbud juga memberikan bantuan penyediaan toilet yang layak untuk sekolah-sekolah di Provinsi NTT. Kemendikbud membangun 35 sekolah satu atap menyatukan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Pemerintah membantu pendirian 22 SMK untuk mendorong produktivitas dan penyediaan tenaga terampil di NTT.Gubernur NTT Frans Lebu Raya menjabarkan pemerintah daerah mengoptimalkan dan memanfaatkan potensi lokal dalam pengembangan SMK, seperti, kelautan, pariwisata dan industri kreatif. Kendati demikian, ia meyakini lingkungan fisik berperan penting mendukung tercapainya tujuan pendidikan."Sarana dan prasarana memberi peluang gerak penyegaran pikiran bagi peserta didik dalam proses belajar mengajar," katanya.Kepala SMPN 8 Kupang Timur, NTT, Mon Agustinus Willa menjabarkan selama ini siswa belajar dalam bangunan semi permanen dari kayu dan lantai tanah. Dampaknya, siswa tak bisa menolak menyatu dengan lumpur saat hujan.Mon menyebut, kondisi itu mengganggu kegiatan belajar mengajar pada siswa. Ia menjabarkan SMPN 8 Kupang Timur merupakan sekolah inisiatif masyarakat yang memanfaatkan dana bantuan. Awalnya, masyarakat hanya mendirikan tiga ruang kelas baru, satu laboratorium IPA, satu perpustakaan, satu ruang guru, satu ruang kepala sekolah, dan toilet dengan standar sanitasi. Mon optimistis lingkungan belajar yang baik, meningkatkan angka partisipasi, serta prestasi belajar siswa. (RoL/d)


Tag:

Berita Terkait

Sekolah

Pemkab Simalungun Gelar Gerakan Pangan Murah di Tapian Dolok

Sekolah

Seorang Kakek Aniaya Warga dengan Kapak di Karo, Pelaku Serahkan Diri ke Polisi

Sekolah

Lapas Kelas I Medan Panen Kangkung

Sekolah

Mulai Hari Ini, Tarif Parkir Roda 2 dan 4 di Medan Turun Rp1000

Sekolah

Demi Kekhusyukan Ramadan, Kapolrestabes Medan: Jauhi Asmara Subuh dan Saur on the Road

Sekolah

Kejari Batubara Tuntut Hukuman Mati Dua Terdakwa Kasus Sabu 24,7 Kg dan Ekstasi 22,1 Kg